My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Salah Paham


__ADS_3

Sean tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, ia seperti kehilangan gairah pada wanita. Malam tadi ia pergi ke sebuah pesta yang diadakan temannya, tentu saja tanpa membawa Rara.


Sean ingin bersenang-senang di sana, dia ingin menjadi dirinya yang dulu. Seorang Sean yang bebas, dan selalu bergairah pada wanita mana pun.


Sayang, kenyataannya tidak seperti yang ia harapkan. Sean sama sekali tidak tertarik pada wanita-wanita yang ada di pesta tersebut. Meski para wanita yang ada di sana memiliki paras, dan tubuh yang sangat menggoda iman.


Sean pulang lebih awal, ia seperti tidak tertarik dengan pesta tersebut. Keadaannya sangat berbeda saat dia pulang, Sean merasa sangat bergairah melihat istrinya, dia berhasil menuntaskan gairah itu. Mereka meneriakkan nama masing-masing, saat sama-sama mencapai puncak. Sean dan Rara melewati malam yang menguras tenaga bersama-sama.


"Tidak, aku tidak mungkin terikat pada Rara, aku bisa bersenang-senang seperti dulu. Aku akan membuktikan bahwa gairahku bukan hanya saat bersamanya," gumam Sean sembari menatap ke sembarang arah.


Sejurus kemudian Vita datang. Sean sumringah melihat kedatangan wanita yang masih berstatus sebagai kekasihnya itu. Ini saatnya Sean ingin membuktikan, bahwa hasratnya bukan hanya tertuju untuk Rara seorang.


"Sayang, aku merindukanmu!" ujar Vita dengan suara manjanya.


Sean tersenyum lebar.


"Kemarilah Sayangku, aku pun merindukanmu!" sahut Sean sambil menepuk pahanya, sebuah kode agar Vita duduk di pangkuannya.


Dengan senang hati gadis itu duduk di pangkuan Sean, dengan kedua tangannya melingkar di leher Sean.


Sejurus kemudian bibir mereka sudah saling beradu penuh gairah, tangan Vita mulai turun menelusuri dada bidan milik Sean.


Napas Sean mulai memburu, ia merasakan gairah yang meningkat dalam dirinya. Tiba-tiba bayangan wajah Rara datang menari-nari dalam pikirannya, ketika tangan Vita mulai turun untuk mencari keberadaan Little Richard.

__ADS_1


Sean langsung mendorong tubuh Vita dari pangkuannya, gadis itu terjengkang ke lantai dengan tangan yang menyenggol vas bunga di atas meja Sean.


Vita terjatuh bersamaan dengan vas bunga yang pecah dan melukai tangannya.


"Ahhhkkk, sakit ...." Vita memekik kesakitan, bersamaan dengan darah segar yang mengalir dari tangannya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Sean, seolah baru sadar apa yang terjadi.


"Tidak apa-apa bagaimana! Kau lihat ini ...." Vita meringis kesakitan sambari menunjukkan tangannya yang berlumuran darah.


"Tunggu sebentar, aku cari kotak obat!"


Sean membongkar lemari di sebelah meja kerjanya, ia kembali mendekati Vita dengan membawakan kotak P3K.


Sean meraih tangan Vita, dengan segera ia mencabut kaca yang tertanam di tangan Vita.


"Diamlah, aku harus mengambil kacanya terlebih dahulu, agar lukamu bisa dibersihkan," gumam Sean.


"Sean ... Aahhh!" Vita kembali terpekik, saat satu pecahan kaca lagi terlepas dari tangannya.


Sementara itu di balik pintu ruangan, air mata Rara sudah berlinangan membasahi pipinya. Ia tidak bisa memungkiri rasa sakit bercampur cemburu. saat mendengar rintihan dari dalam ruang kerja suaminya.


Wajar Rara terluka, walaupun tidak ada rasa cinta di antara mereka, tapi mereka adalah sepasang suami istri yang sah. Belum lagi Sean Terus melakukan haknya sebagai suami, kini pria itu sedang membaginya dengan wanita lain.

__ADS_1


"Nona, mengapa tidak masuk saja ...." Suara Sandy tiba-tiba mengagetkan Rara.


Rara menoleh ke arah Sandy, ia segera menghapus air matanya.


"Ti-tidak perlu, kau berikan saja ini pada bossmu." Rara menyerahkan bingkisan yang dibawanya, lalu meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan hancur.


"Ouhhgg ...." Vita kembali terpekik saat Sean menyiramkan alkohol pada luka di tangannya.


Desahan itu memang sangat mengganggu, termasuk di telinga Sandy, sambil berdecak kesal Sandy masuk ke dalam ruangan. "Apa yang kalian lakukan!"


Sean melotot ke arah asistennya itu. "Lihat pakai matamu!"


"Nona Rara datang, dia membawakan bingkisan ini, tapi nona sudah kembali, ia tidak mau masuk, karena mendengar desahan erotis itu!" ujar Sandy sembari meletakkan bingkisan yang diberikan Rara, di atas meja Sean.


"Arrgghh ...." Sean mengumpat kesal, sembari mengacak rambutnya dengan kasar.


"Kau mau ke mana?" Vita langsung menahan tangan Sean, ketika pria itu ingin melangkah mengejar Rara.


"Mengejar Rara!"


"Untuk apa mengejarnya, aku ini kekasihmu! Dan tanganku belum selesai diobati," Vita memelas memasang wajah cemberutnya.


"Ck ... suruh saja Sandy untuk membalutnya, lagi pula lukamu itu sudah selesai dibersihkan!" Sean menepis tangan Vita, lalu pergi mengejar Rara tanpa bisa dicegah lagi.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa like, vote dan komen.


__ADS_2