My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Aku Menginginkannya


__ADS_3

Pada malam harinya, Rara turun dari tempat tidur Rio, setelah putranya itu tertidur lelap. Rara berjalan menuju pintu, yang menghubungkan kamar yang ia tempati dengan kamar Rio.


Ada sedikit keberuntungan yang Rara rasakan di sini, mertuanya sangat perhatian pada dirinya, begitu pun pada putranya. Mertuanya itu bahkan sudah mempersiapkan semua kebutuhannya, termasuk merenovasi kamar di mansion tersebut, dengan membuat pintu penghubung kamar, sebelum mereka pindah.


Kamar milik Rio juga didesain persis seperti kamarnya di apartemen Rara, yang membuat putranya itu tidak perlu kesulitan untuk beradaptasi dengan tempat barunya.


Rara berjalan menuju kamar tidurnya, ia memakai kimono tidur yang cukup menerawang, hingga samar-samar memperlihatkan lekuk indah tubuhnya.


Rara menuju wastafel, ia membasuh wajah lalu menyatukan rambut panjang membentuk sebuah ikatan di belakang tengkuknya, hingga menampakkan lebih banyak kulit mulus di leher jenjangnya.


Rara berjalan menuju tempat tidur, ia melirik kesal pada Sean yang sedang tidur-tiduran di sana.


"Heii ... sedang apa kau di situ? Sana pergi tidur di sofa," usir Rara sambil menyilangkan tangannya di atas perut.


Sean bangkit dari tempat tidur, wanita ini benar-benar ingin menindasnya, ini mansionnya, ini kamarnya, seenaknya saja wanita ini ingin mengusirnya.

__ADS_1


Sean menaikkan sebelah alis matanya, ia menghampiri Rara, hingga Rara dapat mencium aroma maskulin yang memancar dari tubuh Sean.


Jantung Rara berdegup lebih cepat, ada perasaan aneh yang kini mulai menari-nari di kepalanya, sementara itu Sean terus memperpendek jarak mereka.


'Sial ... mengapa aku harus mengganggu macan yang sedang tertidur, aku sudah membuat diriku dalam masalah sekarang,' umpat Rara dalam hati, saat mendapati hasil dari usirannya tadi.


"K-kau mau apa? Sana pergi ke sofa ...." Rara gugup, ia terus memundurkan langkahnya.


"Mengapa aku harus tidur di sofa? Jika aku bisa tidur di ranjang empuk, dan bersama seorang wanita!" Sean menyeringai licik.


Sean mengangkat dagu Rara, hingga ia dapat memandangi bibir indah Rara dari jarak yang sangat dekat. Siapapun orangnya pasti tidak akan bisa menahan diri, saat melihat bibir ranum itu.


Sean bersusah payah menelan salivanya, pemandangan indah di balik kimono tipis Rara, membuat napasnya mulai tidak beraturan, belum lagi sudah seminggu ini ia berpuasa.


Sean mulai mengkungkung Rara di bawahnya, ia mulai mencium bibir indah milik Rara. Sedangkan Rara merasa pertahanannya begitu lemah. Hanya sebentar saja, bibir yang tertutup itu mulai terbuka, dengan mata terpejam ia mulai mengikuti permainan Sean.

__ADS_1


Bibir pengatin baru itu terus berpaut, bersamaan dengan lidah yang saling membelit dengan posesif, memberikan sensasi yang semakin lama semakin dalam dan menuntut, yang membuat napas mereka semakin memburu.


Sementara itu tangan ahli Sean mulai mencari spot pavoritnya di tubuh Rara, lalu mulai bermain-main di sana. Rara melepaskan ciuman mereka, ia mendesah parau saat tangan Sean menyentuh bagian paling sensitif di area pribadinya.


"Se-sean ... hentikan itu, bukankah kau bilang tidak tertarik padaku ...." Ucapan yang keluar dari mulut Rara, sungguh berlawanan dengan apa yang diinginkan tubuhnya, yang sungguh menginginkan lebih dari itu.


Sean melepaskan tangannya, ia menatap wajah Rara yang merona merah, terbakar oleh gairah yang bergejolak di dalam dirinya, Sean dapat membaca ada gurat kekecewaan di wajah Rara, saat ia melepaskan tangannya.


'Sialan! Dia sengaja mempermainkanku,' umpat Rara dalam hati.


Di saat Rara seperti terbang oleh sentuhan itu, Sean malah sengaja menghentikannya begitu saja, sentuhan itu memang sangat memabukkan. Rara benar-benar menginginkan sentuhan itu lagi, sentuhan indah yang hanya pernah ia rasakan sekali seumur hidup, sebelum malam ini tentunya.


"Kau ingin melanjutkan, atau cukup sampai di sini saja," goda Sean.


"Sana pergi, jangan berharap lebih ...!" Rara mendorong tubuh Sean, tentu saja Rara tidak akan merendahkan harga dirinya, dengan meminta Sean melakukan lebih.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan like, vote, dan komen!


__ADS_2