My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Bertemu Teman Lama


__ADS_3

Dan di saat Sean masih merenungkan cara agar Julie tidak menjadi benalu di rumah tangganya, pintu ruang kerja Sean terbuka, diikuti masuknya sosok seorang pria yang tak lain adalah teman karibnya.


"Kau menyuruhku datang, tapi malah menyambutku dengan muka masam seperti itu! Apa yang terjadi, Bro?" celutuk Gerry seraya mendudukkan dirinya di sofa yang ada di ruangan tersebut.


"Apa kabar, Bro? Kapan datang?" sapa Sandy menjabat tangan lalu merangkul temannya itu.


"Seperti biasa. Aku baru datang kemarin. Kau sendiri bagaimana?" Gerry balik menanyakan pertanyaan basa-basi.


"Seperti yang kau lihat," sahut Sandy lalu duduk di salah satu sofa tersebut.


Gerry melirik Sean yang berjalan mendekat.


"Kau tampak kusut, Bro!" sapa Gerry sambil mengulurkan salam kepalan tangan.


"Hanya sedikit masalah kecil," sahut Sean sambil tersenyum tipis.


Ketiga pria itu pun saling bertukar cerita, tentang kehidupan mereka selama satu tahun ke belakang ini. Dulunya ketiga orang ini sangat akrab, hanya saja mereka tidak saling mengunjungi dalam setahun ini. Mereka saling menukar tawa mengenang masa lalu, apalagi masa-masa kuliah mereka yang dipenuhi kenakalan.


"Oh, ya, bagaimana persiapan reuni itu?" tanya Gerry di tengah tawanya mulai mereda.


"Apa lokasinya sudah ditetapkan, San?" tanya Sean.


Sean memang tidak mengikuti pembahasan sampai akhir tadi malam, dia menyerahkan semua keputusan pada teman-temannya, karena buru-buru ingin menyusul Rara.


"Sudah, Tuan. Di resort milik Melinda yang ada di puncak," jawab Sandy.


"Tuan!?" celutuk Gerry membelalakkan mata mendengar sapaan Sandy pada Sean.


"Dia sendiri yang memilih memanggilku dengan sebutan itu, sangat menyebalkan, bukan! Bahkan sebagai teman dan juga asistenku, dia lebih setia kepada ayahku, dan kerjanya di sini merangkap sebagai mata-mata ayahku," jelas Sean lalu menghela napas kesal.


Sandy hanya menepiskan senyum tipisnya sambil menatap Sean. "Semua itu demi kemajuan Anda sendiri, Tuan."


"Berhenti memanggilku seperti itu! Apalagi di depan teman-teman," kesal Sean.


Sementara itu Gerry hanya menggelengkan kepala melihat sikap kekanak-kanakan 2-temannya itu.


"Ah, aku hampir lupa memberitahumu, Sean. Semalam aku bertemu dengan mantan kesayanganmu itu, Julie!" seru Gerry memasuki pembicaraan, daripada harus mendengar kedua temannya itu berdebat yang tidak penting.

__ADS_1


"Oh ...." bibir Sean membulat, menyuarakan tanggapannya yang terdengar acuh.


"Kenapa ekspresimu sangat acuh, padahal dulu kau sangat frustasi saat ditinggalnya, sampai-sampai melampiaskan kekecewaanmu pada setiap wanita yang kau temui," cibir Gerry.


Akhir percintaannya dengan Julie lah, yang membuat Sean sering berganti-ganti wanita, dulunya Sean hanya menginginkan kekasihnya itu seorang, tapi Sean harus menelan pil pahit karena Julie meninggalkannya demi seorang pengusaha kaya.


Saat itu Julie tidak mengenal keluarga Sean, yang dia tahu Sean adalah seorang anak kuliahan, yang selalu menghabiskan hari-harinya dengan berhura-hura, Julie pun pergi karena merasa Sean tidak memiliki masa depan.


Penyesalan pun datang saat Julie mengetahui siapa keluarga Sean. Namun, Sean tidak lagi menghiraukannya dan terus asik bergonta-ganti wanita


"Kau benar-benar sudah melupakan Julie?Walau itu hanya sekedar untuk balas dendam?" tanya Gerry sambil manaikkan alis matanya.


Sean menghela napasnya. "Tidak ada gunanya balas dendam, Bro."


Gerry menepuk bahu Sean. "Sukurlah kalau kau sudah benar-benar melupakannya! Aku sudah mengenal Julie sejak lama, dan kau tahu sendiri, Bro! Aku tidak pernah suka kau berhubungan dengannya."


"Kau benar! Lagi pula aku sudah menikah," sahut Sean sambil tersenyum membayangkan wajah istrinya.


Kali ini Gerry mengkerutkan dahinya, dia masih ingat betul saat Sean menelponnya sekitar 4-bulan yang lalu, saat itu Sean menceritakan dengan kesalnya, bagaimana dirinya dipaksa menikahi seorang janda oleh keluarga besarnya.


"Yang aku tidak tahu saat itu, ternyata dia adalah ibu dari anakku, anaknya itu adalah anakku, dan kini aku sudah mulai mencintainya," jelas Sean tak lupa menepiskan senyumnya.


"Dan yang lebih mencengangkan, ternyata wanita itu memiliki karir yang jauh lebih hebat daripada temanmu itu, Ger ...." Sandy menunjuk Sean dengan isyarat bibirnya.


Gerry semakin menukikkan alis matanya. "Jadi kau sudah melupakan niatmu untuk meceraikannya?"


Sean hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Wah ... sayang sekali, padahal aku dengan senang hati akan menampungnya, jika dia adalah wanita karir yang sukses." Gerry tertawa keras, dia sengaja menggoda Sean.


Sean yang kesal langsung memukul kepala Gerry. "Sialan ...."


Gerry mengusap kepalanya terasa sakit akibat pukulan Sean.


"Aku hanya bercanda sial! Tapi aku benar-benar penasaran ingin bertemu dan berkanalan dengan istrimu itu," ujar Gerry dengan nada serius.


Sean melirik jam di tangannya, masih sekitar satu jam setengah lagi waktunya untuk menjemput Rara.

__ADS_1


"Ayo kita minum, nanti aku akan membawamu menjemput istriku, sekalian aku kenalkan," ujar Sean seraya berdiri dari tempat duduknya.


Gerry pun ikut berdiri, lalu mengalihkan pandanganya pada Sandy. "Kau tidak ikut, San?"


"Kalian duluan saja, aku masih ada pekerjaan," tolak Sandy.


Sean dan Gerry pergi ke sebuah cafe, mereka menghabiskan waktu dengan bercerita sambil meminum kopi. Setelah tiba waktunya, mereka pun berangkat menuju paradise fashion untuk menjemput Rara.


Gerry begitu terperangah saat mereka memasuki lobi kantor paradise fashion. Tadi dia memang sudah mendengar dari Sandy, bahwa istri Sean memiliki karir yang sangat hebat. Tapi Gerry tidak menyangka kenyataannya jauh lebih hebat, daripada yang dia bayangkan.


"Ini benaran milik istrimu? Dia membangun ini sendiri tanpa bantuan keluargamu?" tanya Gerry masih tidak percaya dengan kenyataan yang dilihatnya.


"Dia sudah memiliki ini, bahkan sebelum mengenal keluargaku," sahut Sean.


Gerry hanya menganggukkan kepala, mencoba mempercayai kenyataan.


"Tunggulah di sini, aku akan ke ruangan istriku," ujar Sean lalu meninggalkan Gerry di koridor kantor.


Gerry memainkan ponselnya sembari menunggu kedatangan Sean, dia mencoba mengingat-ingat, karena merasa pernah mendengar nama perusahaan ini.


"Ah, iya. Aku ingat, brand dari perusahaan inilah yang merajai fashion week tahun ini, dan mereka sudah mulai dikenal sebagai produsen pakaian mewah sejak sekitar tiga tahun yang lalu," gumam Gerry memperjelas ingatannya sendiri.


Gerry memutar tubuh, dan ponselnya terjatuh akibat tertabrak sesorang.


Braakk!


"Ah ... maaf!" Rara langsung memungut ponsel tersebut lalu menyerahkan pada pemiliknya.


"Rara ...." Sapaan Gerry terdengar dengan nada terkejut bercampur antusias saat melihat wanita yang ada di hadapannya.


Rara memicingkan mata, mencoba mengingat pria yang ternyata mengenalinya.


"Gerry ... kau kah ini!" seru Rara tak kalah sumringah.


Bersambung.


Jangan lupa like, vote, dan komen.

__ADS_1


__ADS_2