My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Getaran Aneh


__ADS_3

Mata Rara mulai terpejam, tapi hanya untuk beberapa saat, karena pijatan Sean mulai berubah menjadi usapan nakal yang membuat Rara kembali terjaga.


"Sean, hentikan itu. Aku lelah!" keluh Rara.


Sean tersenyum, penolakan Rara malah membuat dirinya semakin bersemangat. Sean mengganti usapan nakalnya dengan tarian bibir di atas punggung Rara.


Rara mulai bergerak gelisah karena gairahnya yang mulai bangkit, Rara membalikkan tubuhnya, dan Sean langsung menyambar bibir ranum itu, Sean melum*tnya dengan rakus, dengan lidah menjelajah ke dalam mulut Rara, membelit semua yang ia temukan di dalam sana.


Tangan Sean mulai meng-invasi tubuh Rara, ia sudah hafal betul bagian-bagian sensitif Rara. Dan benar saja wajah Rara mulai memerah dengan tatapan yang semakin sayu, mata yang meminta Sean untuk melakukan lebih.


Tanpa pikir panjang lagi Sean langsung membenamkan dirinya ke dalam Rara, sambil terus mencium bibir Rara dengan lembut. Sean terus bergerak dan semakin lama semakin cepat, Rara merasakan gelombang dahsyat itu akan segera datang. Rara mengalungkan tangan di leher Sean, agar memperdalam ciuman mereka.


"Sean ...." Rara memekik panjang, di ikuti Sean yang juga melapaskan benih cintanya di sana.


Sean ambruk tanpa melepaskan ciuman di bibir Rara, tak butuh waktu lama, sean pun kembali bergairah, mereka mengulanginya lagi dengan berganti-ganti posisi. Sampai akhirnya mereka sama-sama terlelap setelah melewati permainan panjang yang memabukkan itu.


Pagi harinya Rara terbangun dengan tubuh seperti tidak bertulang, badannya terasa remuk akibat perlakuan Sean tadi malam, tapi mau apa lagi, dia juga menikmati permainan itu.


Rara berjalan menuju kamar mandi dengan langkah terseret, ia berendam cukup lama di dalam bathup berisi air hangat, untuk membantu mengembalikan kesegaran tubuhnya, yang terkuras habis tadi malam.


Rara keluar dari kamar mandi, dia mendapati Sean masih terlelap. Rara mendekati ranjang lalu di samping suaminya itu, Rara memandangi Sean dengan perasaan bercampur aduk. Andaikan ada rasa cinta dari Sean, pasti bukan sekedar kebahagiaan lahir yang Rara rasakan.


Rara pasrah jika harus menjadi budak nafsu Sean untuk saat ini. Satu harapan Rara, benih-benih cinta itu akan tumbuh di hati Sean seiring berjalannya waktu. Yang bisa Rara lakukan hanyalah mencoba mendapatkan hati Sean, dan itu bukan demi kepentingan diri sendiri, melainkan demi Rio putranya.

__ADS_1


Hanya saja Rara selalu merasa rendah diri saat memandangi suaminya itu. Meski Sean sedikit bodoh, Rara sadar Sean memiliki segalanya untuk dikagumi wanita. Yang terkadang membuat Rara menjadi tidak percaya diri, bahkan untuk sekedar mempertahankan rumah tangganya.


Rara menghela napasnya dengan berat.


"Semoga ada keajaiban yang membuat hatinya terbuka," gumam Rara.


Rara melihat jam di dinding, sudah hampir jam 7-pagi, sedangkan suaminya itu belum juga bangun, sementara suaminya itu ada keberangkatan ke Singapura hari ini.


Rara mencoba membangunkan Sean, dengan mengguncang pelan tubuh suaminya itu.


"Sean, bangunlah! Kau bisa terlambat ke air port," ujar Rara tak jauh dari telinga Sean.


Sean mengerjapkan matanya perlahan, dia langsung tergoda melihat Rara yang duduk di sampingnya. Apa lagi aroma fresh dari tubuh Rara langsung menusuk indra penciumannya, belum lagi kenikmatan yang bisa ia dapatkan dari tubuh yang kini hanya berbalut jubah mandi itu.


Rara mendorong lepas dari rangkulan Sean, lalu beringsut menjauh dari suaminya itu. Rara tahu betul Sean tidak akan pernah puas, sementara sisa-sisa permainan semalam saja masih membuat seluruh tubuhnya terasa remuk. Rara juga tidak mau harus mandi dua kali pagi ini.


"Siapa yang menggodamu, bangunlah! Nanti kau terlambat ke air port," tukas Rara ketus.


"Biar saja terlambat, tidak akan masalah. Aku tidak pergi menggunakan pesawat komersil," elak Sean sambil menepuk ranjang di sampingnya.


Rara menaikkan bibir atasnya, dia tidak mau melayani Sean lagi pagi ini . Cukup, dia benar-benar bisa lumpuh jika melakukannya lagi.


Rara membuka lemari, ia mengambilkan pakaian ganti untuk Sean, lalu meletakkannya di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Pergilah mandi! Aku akan membantu ibu menyiapkan sarapan." Rara berlalu meninggalkan kamarnya.


Sean menggaruk kepalanya. "Sial! Sepertinya satu minggu di Singapura akan seperti satu tahun."


Sean turun dari ranjang, dia pergi ke kamar mandi dengan langkah malas. 15-menit kemudian Sean selesai dengan ritual mandinya. lalu pergi menyusul Rara ke ruang makan.


Setelah selesai sarapan, Sean berpamitan untuk berangkat. Rara ikut mengantar Sean ke air port, bersama Rio yang ikut mengantarkan papanya.


Mereka tiba di bandara, orang-orang Richcard sudah mempersiapkan segalanya untuk keberangkatan tuannya.


Sean berjongkok di depan Rio, ia mengusap puncak kepala anak itu.


"Jaga mamamu selama uncle pergi, oke Bro!" ujar Sean sambil mengacungkan ibu jarinya.


"Rio sudah besar. Rio akan menjaga mama," jawab Rio dengan mantap.


"Good boy!" Sean tersenyum lebar, lalu melangkah memasuki pesawat pribadinya.


'Mengapa aku selalu merasakan getaran aneh saat berdekatan dengan anak itu! Aku bahkan merasa ada kedekatan batin dengannya,' gumam Sean sambil menoleh ke belakang, manatap Rio sekali lagi.


Pesawat pribadi Sean mulai lepas landas, ada perasaan berkecamuk dalam diri Sean, dalam hatinya terasa berat untuk meninggalkan Indonesia kali ini.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen.


__ADS_2