
"Ada apa Tuan Dion datang kemari, dan membuat keributan di pesta pernikahan anakku," seru Brian dengan suara dingin.
"Brengsek! Lepaskan aku Brian! Beginikah caramu menyambut teman lama? Harusnya kau bisa lebih hormat kepada tamu," sinis Dion sambil memberontak dari cengkeraman anak buah Brian.
Brian menaikkan sebelah alis matanya.
"Teman lama, ya! Mungkin lebih tepatnya istriku lah yang berteman dengan Maira! Aku sama sekali tidak pernah menganggapmu sebagai teman!" balas Brian tak kalah sinis.
Brian mengalihkan pandangan pada anak buahnya. "Lepaskan dia!"
"Ciihh ... Sialan kau Brian! Kau meminta kami datang ke sini, dengan iming-iming akan menikahi putriku, tapi kau malah mempermainkan kami," kesal Dion.
Brian menatap Dion dengan tatapan mengejek. "Bukankah ini adalah pernikahan putrimu! Jadi, bagian mana yang kau maksud mempermainkan?"
Dion hanya bisa mendengus kesal, tapi ia tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melawan Brian. Bahkan para pengawal pribadinya tidak dapat berbuat banyak di depan pengawal Brian, baru saja mereka hendak memasuki lobi hotel, semua pengawal Dion sudah dilumpuhkan dengan mudah.
"Kau sangat buruk dalam bersilat lidah Brian! Kau tau siapa putriku yang kumaksud! Tapi kau malah menikahkan putramu dengan anak durhaka itu, dia bukan lagi anakku! Aku tidak sudi memiliki anak yang tidak tahu diri sepertinya," geram Dion.
Brian tersenyum sarkastik. "Baguslah! Aku pun tidak sudi mengakuimu sebagai besan." Brian mengalihkan pandangan pada asistennya. "Bawa dia pergi, Jef! Jangan sampai dia masuk ke dalam ballroom dan membuat kerusuhan di sana!"
Tanpa basa-basi Jefry langsung memberikan kode kepada anak buahnya untuk meringkus Dion. Dion pun diseret keluar lobi hotel. Mulutnya terus mengeluarkan sumpah serapah kasar.
__ADS_1
Brian mengelengkan kepala, entah apa alasan Tuhan masih membiarkan manusia busuk seperti Dion hidup di dunia ini.
'Kau berhutang banyak padaku Dion! Kelakuan busukmu bukan cuma membuat keluargamu hancur. Tapi juga sudah membuat istriku tercinta bersedih, karena kehilangan teman karibnya. Setelah semua bukti-bukti kejahatanmu pada Maira terbongkar, aku pastikan kau akan membusuk di dalam penjara,' batin Brian sambil menatap tajam kepergian Dion.
Brian memutar tubuh, ia berjalan menuju lift. untuk kembali ke pesta anaknya.
***
Di dalam ballroom.
Sejak melihat Luna, mata Giovanni tak pernah lepas lagi dari gadis tersebut. Ia seperti sedang mengingat-ingat, kapan ia pernah bertemu Luna, sayangnya ia tidak berhasil mengingatnya, meskipun hatinya yakin bahwa ia pernah bertemu dengan Luna, tapi ia tidak ingat kapan, dan di mana tepatnya.
Dengan gaya coolnya Gio berjalan menghampiri Luna, lagipula sejak tadi ia perhatikan, Luna tidak membawa pasangan.
Luna hanya mengerutkan dahinya, sambil melirik ke arah Gio.
Karena Luna tidak memberikan respon, Gio pun berinisiatif mengulurkan tangannya. "Namaku Gio, dan ini adalah pernikahan sepupuku!"
Luna yang mulanya enggan menggubris Gio, akhirnya mengulurkan tangan, Luna tidak enak hati mengabaikan pria aneh yang kini ada di hadapannya, karena pria ini merupakan keluarga tuan rumah.
"Aku Luna!" Luna menjabat tangan Gio.
__ADS_1
"Apa yang membuat wanita secantik kamu, datang seorang diri ke sebuah pesta pernikahan?" tanya Gio
"Bisa jadi, sama dengan alasanmu," jawab Luna cuek.
Gio tersenyum lebar. "Tentu alasan kita berbeda Nona! Aku baru tiba dari Italia, mana mungkin aku langsung mendapat pasangan. Ya ... mungkin saja aku akan mendapat pasangan saat ini, itu pun jika kau mau menjadi pasanganku," goda Gio.
"Ucapanmu bisa diartikan, bahwa kau punya pasangan di tempat lain," sinis Luna.
"Hahaha ...." Gio tertawa geli. "Atas dasar apa argumenmu itu, Nona! Tentu saja tebakanmu salah, karena aku belum memiliki pasangan!"
"Ehhmm ... rukun iman akan menjadi tujuh, jika aku percaya padamu," cibir Luna, yang disambut tawa Gio.
Detik kemudian lagu from this moment yang dipopulerkan oleh Shania Twain mulai mengalun, dan membawa semua orang yang berada di ballroom, hanyut dalam suasana romantis
Pasangan pengantin baru, diminta turun ke lantai dansa, untuk melakukan dansa pertama mereka sebagai suami istri, diikuti oleh beberapa pasang tamu undangan yang ikut turun ke lantai dansa.
"Kau pandai bercanda Nona! Maukah kau ikut bersamaku ke lantai dansa itu," ajak Gio seraya mengulurkan tangan.
"Hei ... Casanova sialan, tidak bisakah kau berhenti menggoda gadis-gadis, meski untuk satu hari saja!" seru Rania sembari melangkah ke arah adik sepupunya itu.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, vote dan komen!