My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Malam Perayaan


__ADS_3

"Selamat pagi, Nona."


"Selamat datang kembali, Nona."


"Senang sekali bisa melihat Nona kembali."


Para karyawan bergantian memberi salam ketika Rara melewati koridor kantor. Rara hanya menganggukkan kepala sambil mengembangkan senyum terbaiknya.


"Nona, kata nona Luna, kita akan merayakan keberhasilan kita di Paris saat Nona kembali," ujar salah seorang desainer terbaiknya menagih janji.


Rara tersenyum sambil mengangguk. "Kita akan mengadakan perayaan itu, nanti saya akan meminta Wina mengurusnya."


"Waah ... terimakasih, Nona."


Rara mengangguk seraya berlalu menuju ruang kerjanya.


"Apa yang kamu lihat, Lun?" tanya Rara, ia baru memasuki ruang kerjanya, dan mendapati Luna sedang duduk di sofa sambil membaca sebuah artikel tanpa berkedip.


"Ini ...." Luna memutar laptopnya menghadap Rara, menunjukkan artikel sebuah grup ritel yang sedang kolaps di Spanyol.


"Bagaimana menurutmu? Sangat menarik, bukan!" seru Luna antusias.


Rara menganggukkan kepala, dua sahabat itu sudah membayangkan berapa banyak euro yang bisa didapat, jika mereka mengakuisisi grup tersebut.


"Selama ini mereka menjadi salah satu pengecer pakaian terbesar di dunia, mereka membawahi beberapa rumah mode dan brand terkenal di sana, hanya saja pewarisnya tidak mampu menjalankan perushaan dengan baik, sehingga grup itu sekarang di ambang kebangkrutan, sayang sekali jika kita melewatkan kesempatan ini," jelas Luna.


"Seperti menjalankan franchise, semuanya sudah tersedia. Kita hanya perlu mengucurkan dana, dan memperbaiki beberapa struktur," sahut Rara tak kalah antusias.


Menganggukkan kepala. "Tepat sekali!"


"Kita urus pertemuan dengan wakil mereka, lalu sekalian kita survey ke sana." Rara berajak menuju meja kerjanya lalu menghubungi sekretarisnya.


Tak lama kemudian Wina sudah hadir di sana, Rara menjelaskan rencananya untuk mengakuisisi grup tersebut, dan meminta sekretarisnya itu mengatur pertemuan dengan grup ritel tersebut.


"Baik, Nona. Secepatnya saya akan mencari informasinya." Wina mohon diri hendak keluar dari ruangan bossnya.


"Sebentar, Win. Apa bonus untuk karyawan sudah diberikan?" tanya Rara.

__ADS_1


Wina menghentikan langkah lalu berbalik badan. "Sudah Nona. Nona Luna sendiri yang mengaturnya, hanya saja mereka masih ingin diadakan perayaaan."


Rara mengangguk paham. "Baiklah. Win, pesan ruangan VVIP di butterfly lounge untuk nanti malam, kita akan merayakan keberhasilan kita di sana."


"Baik, Nona. Ada lagi?"


"Tidak." Rara mengizinkan sekretarisnya itu untuk keluar. Sementara ia dan Luna mulai melakukan perencanaan masa depan untuk grup ritel yang akan diakuisisi.


***


Sore harinya.


Sean dan Rara tiba di kamarnya, Rara langsung merapikan pakaian kerja Suaminya lalu meletakkannya di tempat pakaian kotor.


"Nanti malam aku bersama para karyawan akan pergi ke club, untuk merayakan keberhasilan kami di fashion week, apa kau bisa menemaniku?" tanya Rara sambil duduk selonjoran di atas tempat tidurnya.


"Nanti malam?" Sean menaikkan sebelah alis matanya.


Rara mengangguk. "Apa kau bisa menemaniku?"


Sean berpikir sejenak, dia ingin pergi bersama istrinya, tapi pada saat bersamaan dia juga sudah ada janji bersama temannya untuk membahas reuni antar teman kuliah, yang akan diadakan minggu ini.


Rara menghela napas, mencoba memperlihat raut biasa saja, agar tidak kelihatan kecewa. "Baiklah."


"Kau jangan marah!" Sean merebahkan diri, lalu merangkulkan tangannya di perut Rara. "Aku akan langsung menyusulmu nanti, lagi pula ada pengawal ayah yang terus bersamamu, kau tidak perlu takut.


Rara berdecak pelan. "Siapa yang takut, lagipula ada Luna di sana."


'Ah sudahlah, aku hanya terlalu berharap,' gumam Rara dalam hati, menutupi kekecewaannya.


"Ingat, jaga jarak dengan dengan laki-laki mana pun di sana, apalagi pria asing yang tidak dikenal." Sean mengeratkan pelukannya.


"Memangnya siapa yang mau berbicara pria asing, memangnya aku seperti dirimu? Yang selalu mencari mangsa di club," cibir Rara kesal.


Sean tersenyum, seolah perkataan Rara tadi membawanya kembali ke masa dulu, di mana dia sedang memperhatikan seorang gadis yang duduk sendirian di salah satu kursi bar, sambil meneguk minuman beralkohol seperti orang kehausan, yang baru saja menempuh gurun pasir


"Terus jangan genit! Awas saja sampai kau berani genit, dan memberikan tatatapan menggoda pada pria di sana, aku tidak akan segan mengirimmu ke kutub untuk dijadikan santapan beruang," ancam Sean dengan nada serius.

__ADS_1


"Aku tidak pernah genit? Kaulah yang menggodaku saat di club, dan langsung menanamkan kecebongmu yang ganas itu," seru Rara dengan kesal.


Sean terkekeh pelan.


"Aku hanya mengingatkan! Siapa tau ada pria tampan di sana yang membuatmu khilaf, dan lupa bahwa kau sudah memiliki suami serta anak," balas Sean dengan tangan yang mulai kelayapan. Meminta haknya sebagai suami.


***


Malam harinya Rara berangkat menuju club, dia diantar oleh pengawal mertuanya, sejak kejadian kecelakaan yang menimpanya dengan Rio, Rara mendapatkan pengawalan yang lebih ketat, dia tidak di izinkan berpergian tanpa pengawal kecuali saat bersama Sean.


Butterfly Lounge and Bar terletak di lantai paling atas sebuah hotel berbintang lima, konsep yang ditawarkan sangatlah elegan. Mulai dari koridor hingga sampai interior ruangan, didominasi warna ungu dengan campuran warna merah marun, desain interiornya pun sangat berkelas, ditambah tata cahaya yang sangat mengagumkan.


Tempat ini sudah dibuka sejak pukul 5-sore, sehingga setiap pengunjung bisa menikmati pemandangan pergantian petang ke malam Ibukota melalui bagian outdoornya.


Rara sengaja memilih tempat ini, karena selain memiliki konsep elegan, lounge N bar ini memiliki ruang utama yang sangat luas dan kental dengan kesan nyaman, cocok untuk acara jamuan pesta para karyawan.


Hidangan yang ditawarkan pun sangat bervariasi, mulai dari berbagai jenis minuman beralkohol tinggi dari belahan dunia, hingga minuman rendah alkohol seperti bir dan berbagai macam coktail. Juga terdapat berbagai minuman non alkohol semacam mocktail dan juice, sehingga sangat bersahabat bagi para karyawan yang tidak menyukai minuman beralkohol.


Rara bergabung bersama para karyawannya yang sudah duluan tiba, setelah menyampaikan beberapa sambutan berikut harapan, pestanya pun di mulai, beberapa karyawan sudah turun ke dance floor dengan membawa pasangan masing-masing.


"Gio tidak datang?" tanya Rara, karena selama ini pria itu selalu mengikuti ke mana pun Luna pergi.


Luna menggidikkan bahunya. "Entahlah, tapi sepertinya sebentar lagi penguntit itu akan datang."


Rara hanya tersenyum geli.


"Sebentar, aku mau ke toilet!" Rara beranjak meninggalkan tempat duduknya.


Luna menganggukkan kepala, dia memperhatikan para karyawannya yang tengah asik di lantai dansa, tidak ada keinginan untuk turun ke sana, Luna menyesap minumannya sambil menunggu kedatangan Rara.


Sementara itu di dalam rest room seorang wanita berdiri di depan cermin sambil memperbaiki penampilannya. Rara datang ke sana dengan maksud mencuci tangan, tapi dia memutar keran dengan sedikit keras, sehingga air yang keluar sedikit meciprat ke gaun yang dikenakan wanita itu.


Rara segera mengambil tisu untuk di berikan kepada wanita itu.


"Ma- ...." Ucapan maaf yang akan keluar dari mulut Rara terpotong karena mengenali perempuan yang ada di sebelahnya


"Kenapa harus bertemu dia di sini sih," gumam Rara hampir tanpa suara.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa like, vote dan komen.


__ADS_2