My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Banyak Akal


__ADS_3

Rara mengkerutkan dahinya mendengar pernyataan Sean.


"Mengapa kau heran? Aku memaksa Fernando untuk menjual 25% sahamnya yang tersisa. Agar dia benar-benar angkat kaki dari BC grup," ungkap Sean yang membuat raut heran di wajah istrinya itu memudar.


"Oh, begitu rupanya," sahut Rara acuh lalu mendudukkan dirinya di atas Ranjang.


"Hanya itu saja? Kau tidak penasaran alasanku membeli saham Fernando?" tanya Sean.


Rara menggelengkan kepalanya. "Tidak."


Untuk apa lagi Rara bertanya, dia tahu jelas bahwa suaminya itu cemburu melihatnya berinteraksi dengan Fernando.


Hanya saja Rara tidak tahu, apa yang membuat Sean sampai ingin membeli keseluruhan saham BC grup milik Fernando.


'Baguslah, jika begini aku tidak lagi punya urusan dengan Fernando. Dia terlalu genit dan tidak tahu diri. Tapi kini, saham itu milik Sean. Huh, ini tidak membantu sama sekali, dia tidak jauh beda dengan Fernando, perusahaan yang dipegangnya saja jalan di tempat,' gumam Rara dalam hati sambil melirik tidak yakin pada Sean.


"Kau tidak penasaran apa alasanku membeli saham itu?" tanya Sean.


Sebenarnya Sean berharap istrinya itu akan bertanya lebih dulu. Namun, kenyataan tidak sesuai harapan Sean. Istrinya itu terlalu acuh.


"Kau dengarkan ini! Bajingan itu berniat menggodamu. Jadi lebih baik aku menedangnya keluar dari BC grup, sebelum lehernya aku patahkan karena berani menggodamu."


Sean memutar rekaman percakapan Rara dan Fernando yang sudah di translet, lalu memberikannya pada Rara.


"Ppptt ...." Rara menutup mulut menahan tawa.


"Mengapa kau tertawa? Apanya yg lucu?" tanya Sean yang tampak kesal.


"Tidak lucu kau bilang? Ini sangat lucu Sean, segitu penasarannya 'kah dirimu sampai merekam pembicaraan itu," cibir Rara.

__ADS_1


"Aku tidak penasaran, aku hanya ingin memastikan bahwa kalian tidak membicarakan hal buruk tentangku," elak Sean.


Rara menghela napas geli. "Sudahlah, lebih baik kita sarapan. Setelah itu kita berangkat ke BC grup."


Rara menggandeng tangan Sean, mereka menuju restoran hotel untuk sarapan. Setelah itu mereka berangkat menuju kantor BC grup.


***


Seminggu kemudian.


Rara menatap Sean penuh curiga saat pesawat mereka landing. Rara tahu mereka baru menempuh perjalanan sekitar 3-jam, sementara jarak tempuh ke New York dari Madrid, seharusnya memakan waktu hampir 7-jam.


"Kau membohongiku, 'kan?" desak Rara sambil memincing kan matanya, Rara hafal betul akal licik suaminya itu.


Sean hanya terekekeh jahil, dia memang sudah membohongi Rara. Sean mengatakan bahwa ibu Lidya meminta mereka untuk segera datang New York, karena keponakan mereka sudah lahir.


Rara dan Sean turun dari pesawat, mereka langsung menuju sebuah resort milik keluarga Richard.


Sepanjang perjalanan dari bandara menuju resort. Rara terus memanyunkan bibirnya, dia kesal karena sudah dibohongi, apalagi dia sedang sibuk-sibuknya mengurus perusahaan baru.


"Bibirmu itu kenapa?" Mau kucium?" goda Sean sambil menaikkan alis matanya tinggi-tinggi.


"Ck ... kau itu menyebalkan sekali, bisa-bisanya kau membohongiku saat pekerjaanku masih banyak," gerutu Rara.


"Sayang, pergi berlibur beberapa hari tidak akan membuatmu jatuh miskin. Lagi pula tanpa kau turun tangan langsung, perusahaanmu masih akan berjalan dengan baik. Dan aku yakin kau belum pernah datang ke sini, aku juga jamin kau tidak akan menyesal berkunjung ke sini," sela Sean.


Kekesalan Rara perlahan terobati dengan menikmati pemandangan dari kaca jendela mobilnya. Praha, kota berjuluk seribu menara ini, memang mampu membuat pengunjung serasa berada di negri dongeng.


Tidak salah jika kota ini didapuk sebagai salah satu kota paling indah di dunia, karena memiliki bangunan-bangunan klasik, dengan desain kuno yang sangat mengagumkan.

__ADS_1


Kini mereka sudah tiba di resort. Sean pun langsung membawa istrinya menuju kamar, untuk beristirahat.


"Istrahatlah, aku akan menyiapkan air untuk mandimu," ujar Sean seraya berjalan menuju bath room.


Rara hanya menggangukkan kepalanya, dia menduduk diri di atas ranjang. Sejenak beristirahat, setelah menempuh perjalanan selama berjam-jam.


Tiba-tiba Rara terlihat begitu bersemangat, dia teringat salah satu bangunan paling terkenal di kota Praha ini. Jembatan Charles, Rara yakin sekali jembatan itu akan terlihat dari balkon kamarnya.


Rara beranjak menuju balkon, dan benar saja dia langsung disuguhkan pemandangan lampu-lampu klasik yang sangat indah, jembatan tua dengan lebar 10-meter ini sungguh menawan. Yang membuat Rara ingin turun, dan pergi ke sana untuk sekedar berphoto.


"Benar-benar indah, pasti menyenangkan sekali jalan-jalan di situ," gumam Rara.


"Kau di sini rupanya ...." Suara Sean dari arah belakang, dia mendekat dan langsung memeluk Rara.


"Bagaimana? Kau menyukai tempat ini?" tanya Sean yang dijawab anggukan oleh Rara.


"Itu artinya kau tidak marah lagi, 'kan? Mandilah, air untukmu sudah siap. Kita punya beberapa hari di sini, besok aku akan mengajakmu berkeliling kota ini," ucap Sean sambil melepas pelukannya.


"Baiklah, badanku pun sudah terasa lengket semua," sahut Rara seraya kembali ke dalam kamar.


Sean menyusul dengan penuh semangat. "Bagaimana kalau kita mandi bersama!"


Bersambung.


Maaf ya, kemaren harus bolong up.


Nggak tahu kenapa pas habis divaksin, badan jadi tiba-tiba meriang. Jadi Reno nggak bisa menghalu buat nulis๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Dan sebagai gantinya, hari ini akan up 2-bab ya, ditunggu selambatnya nanti sore.

__ADS_1


__ADS_2