
Brian langsung berdiri dan menghampiri dokter Alya. "Apa yang terjadi pada cucuku?"
Alya menatap satu persatu keluarga, yang kini menanti jawabannya dengan raut tidak sabar.
"Proses operasi sedang berjalan, tapi pendarahan yang diderita Rio belum berhenti, jadi aku ingin memberitahu bahwa Rio akan membutuhkan transfusi darah yang lebih banyak, untuk persiapan pasca operasi nanti. Tapi kau tidak bisa mendonorkan lebih banyak darah, Brian. Karena bisa berakibat pada kesehatanmu sendiri, jadi kita butuh pendonor lain," jelas dokter Alya.
"Jika Rio memiliki golongan darah yang sama dengan ayah, itu artinya ada kemungkinan jenis darah kami sama, kita lakukan crossmatch padaku, Onty," sela Rania cepat.
Dokter Alya menggelengkan kepala, dia terharu dengan kesetiaan yang dimiliki keluarga ini.
"Tidak bisa, Ran. Ibu hamil tidak direkomendasikan untuk mendonorkan darah, itu dapat mengganggu kesehatanmu berikut janin dalam kandunganmu, cepat hubungi keluarga lainnya," ujar dokter Alya.
"Kak Bastian sedang di Amerika, tapi Sean bisa datang lebih cepat," jawab Rania lalu menghubungi adiknya.
"Semoga Sean sudah di sini pada saat operasinya selesai. Brian, Lidya. Rio sedang menjalani kraniotomi, ini adalah tindakan bedah medis dengan risiko yang cukup tinggi. Aku harap kalian siap dengan segala kemungkinan, dan do'a kalian sangat dibutuh dalam prosesnya," ucap dokter Alya.
"Lakukan yang terbaik, Al!" lirih Lidya dengan suara bergetar.
Dokter Alya mengangguk lalu menepuk bahu Lidya, sebelum kembali masuk ruang operasi. Meninggalkan keluarga Richard yang harus kembali duduk di kursi tunggu.
Di dalam ruang operasi, 2-orang dokter spesialis bedah saraf sedang melakukan prosedur pembedahan. Sebuah operasi besar yang dilakukan dengan membuka sebagian kecil tulang tengkorak, untuk mengangkat gumpalan darah yang membeku di antara permukaan otak dan tulang tengkorak Rio.
Dokter melakukanya dengan sangat hati-hati, dengan bantuan mikcroskop khusus dan kamera endokopi. Yang merupakan teknik kraniotomi canggih dengan tingkat risiko yang lebih kecil.
__ADS_1
Namun, secanggih apa pun alat yang digunakan, tingkat risiko dari bedah kranitomi tetaplah tinggi, karena operasi ini berurusan dengan otak yang merupakan pengatur fungsi kehidupan manusia. Dengan kata lain otak adalah sumber perintah bagi seluruh organ tubuh. Otak mengatur fungsi Vital, mulai dari tekanan darah, denyut jantung, panca indera, hingga perilaku seseorang.
Para keluarga yang berkumpul di area tunggu terus mendoakan, agar dokter berhasil melakukan pembedahan dengan baik, dan Rio bisa selamat dari cedera kepala yang mengancam nyawa.
***
Setelah mendapat kabar tentang kecelakaan yang menimpa Rio, Sean langsung berangkat, pekerjaannya di sana diambil alih oleh personal asisten.
Sebelum berangkat ke Singapura, Sean sempat merasa akan terjadi sesuatu pada anak itu, yang membuat Sean merasa berat hati untuk berangkat. Dan ternyata firasatnya itu benar, Rio kini mengalami kecelakan.
Perjalanan memakan waktu sekitar 90-menit untuk sampai di CGK. Dia disambut para pengawal Richard, yang dilanjutkan perjalanan darat menuju rumah sakit.
Sean tiba di rumah sakit, dia mendapati keluarganya sedang berkumpul di depan ruang operasi. Sean dapat melihat raut sedih dan cemas, bercampur menjadi satu di wajah keluarganya.
"Rio mengalami pendarahan, Nak. Dia membutuhkan banyak donor darah," lirih ibu Lidya.
Serentak keluarga membuang napas kesal mendengar pertanyaan Sean, sejurus kemudian tinju kakaknya sudah menghantam perut Sean.
Bugghh!
"Akkhh ...."
Sean masih meringis menahan sakit di perutnya, ketika tangan Rania sudah mencekeram kerah kemejanya, lalu menyeret Sean menuju lab rumah sakit.
__ADS_1
"Bodoh! Apa kau sama tidak bisa melihat kemiripan antara ayah dan Rio?" geram Rania yang kesal bukan kepalang, saat mendengar pertanyaan adiknya tadi..
Sean mendelik tidak percaya, sementara cengkeraman kakaknya terasa semakin kuat, yang membuat Sean sedikit kesulitan untuk bernapas.
"I-itu tidak mungkin, Kak. Ayah tidak mungkin mengkhianati ibu. Dan kita semua tahu, ayah tidak pernah meninggalkan ibu, ayah selalu membawa ibu ke mana pun dia pergi," sela Sean dengan napas terengah.
Kini berganti Rania yang mendelik kesal, bahkan di saat kekalutan sedang melanda keluarga, adik bungsunya itu masih sempat berpikir konyol. "Dasar bodoh! Apa isi otakmu itu?!"
Rania semakin kesal, cengkeramnya di kerah kemeja Sean, kini sudah berganti menjadi jambakan di kepala adiknya itu. Bahkan Rania hampir tergoda untuk menghajar adiknya itu hingga babak belur, jika saja tidak teringat Rio sedang membutuhkan Transfusi darah.
"Kau tahu ayah selalu membawa ibu ke mana pun ayah pergi, lalu apa yang membuatmu berpikir seperti itu? Dan kau, ayah macam apa yang mengalami morning sick selama 7-bulan penuh, tapi sama sekali tidak merasa ada ikatan batin dengan anaknya, Rio itu anakmu, bodoh!" Rania menggeram, dia sudah kehilangan kesabarannya.
Sean berhenti melangkah, sembari menepis tangan sang kakak yang menjambak rambutnya. "Ri-rio itu anakku? Apa itu artinya Rara adalah gadis yang dulu kita cari, jadi Rara itu bukan seorang janda?"
Rania semakin membulatkan mata, yang membuat Sean langsung memundurkan langkahnya. Dia tahu kakaknya itu bisa berubah menjadi malaikat maut, jika sedang emosi seperti sekarang ini.
"Kakak, jaga sikapmu. Kau itu sedang sedang hamil, bagaimana kalau sifat bar-barmu itu menurun pada anakmu nanti," ucap Sean ketakutan.
"Masuklah ke lab untuk melakukan uji cross match, sebelum aku menggantungmu hidup-hidup," raung Rania yang sudah tidak sabar.
Sean setengah berlari masuk ke dalam lab, demi menyelamatkan diri dari pukulan atau apa pun yang bisa membuatnya babak belur.
Di dalam sana Sean membayangkan kembali, bagaimana Rio merasa aman saat di dekatnya, bagaimana dirinya merasa ingin selalu melindungi anak itu, dan ternyata getaran aneh yang dia rasakan sebelum berangkat, adalah naluri seorang ayah yang dapat merasakan, bahwa hal buruk akan terjadi pada anaknya.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa like, vote, dan komen.