My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Anugrah Untuk Keluarga


__ADS_3

Rara sedang berjalan di sebuah taman yang sangat indah, taman yang dipenuhi dengan berbagai jenis bunga yang bermekaran. Rara menghirup napas dalam-dalam, udara di taman ini sungguh sejuk, membuatnya merasa sangat nyaman berada di sini.


Dari sekian banyak bunga yang tumbuh di taman ini, Rara mengunci pandangannya pada bunga marigold, Rara mendekat lalu tak segan untuk memetik bunga tersebut. Wajar bila orang akan langsung tertarik, karena bunga marigold memiliki keindahan yang sangat memukau, orang-orang menyebut bunga marigold sebagai lambang keindahan dan keceriaan.


Dalam budaya modren. Marigold merupakan simbol energi positif dan kebahagiaan, karna keindahan warnanya yang mencerahkan setiap rangkaian bunga, dan bisa membuat setiap mata yang memandangnya tersenyum bahagia.


Meski begitu, bunga marigold juga memiliki makna yang kontras dengan keindahan dan kebahagiaan. Bahkan marigold sering disebut sebagai lambang kesedihan dan keputus-asaan yang mendalam. Tidak sedikit orang menggambarkan kesedihan hatinya dengan bunga marigold.


Tak jauh dari tempat Rara berada, terdapat danau kecil yang sangat indah. Rara mengkerutkan dahinya saat melihat wanita setengah baya yang tengah duduk di tepi danau.


"Mama ...." Rara mendekat perlahan.


Wanita itu menoleh begitu Rara mendekat, dia memberikan senyuman hangat khas seorang ibu. "Duduklah, Nak!"


Rara langsung duduk dan memeluk wanita yang tak lain adalah mamanya. Bersama dengan airmata yang tumpah, dia meluapkan segenap kerinduan yang selama ini bersembunyi di dalam jiwanya.


"Apa kau bahagia berada di sini, Nak?" tanya Maira.


"Rara sangat bahagia, Ma. Jangan pernah tinggalin Rara lagi, hidup tanpa Mama terlalu menyakitkan untuk Rara," isak Rara dengan suara bergetar.


"Lihatlah bunga lotus itu!" Maira menunjuk bunga-bunga yang bermekaran di atas danau.


Banyak orang mengira bunga lotus sama dengan bunga teratai, padahal keduanya adalah tumbuhan berbeda dan tidak berkerabat sama sekali.

__ADS_1


Maira melanjutkan ucapannya. "Dia tumbuh di lingkungan yang sangat menyedihkan, keberadaannya sering menjadi olok-olokan karena habitatnya tumbuh di lingkungan kotor, di tanah lumpur di atas air. Tapi dia tetap semangat untuk tumbuh menjadi cantik, hingga pada akhirnya orang-orang menganggap bunga lotus sebagai simbol kesucian. Dia hidup bukan sekedar untuk memberi keharuman, lebih dari itu dia tumbuh dengan membawa berbagai manfaat bagi manusia."


"Lalu lihat anak itu!" Maira menunjuk seorang anak kecil dengan tubuh penuh luka. "Dia berjuang sendiri. Sementara mamanya sudah menyerah, mamanya sangat egois dan pergi mencari ketenangannya sendiri, bersama bunga marigold yang dianggapnya sebagai lambang keputus-asaan. Padahal jika dia menoleh ke belakang, dan berani berpaling dari rasa takutnya, marigold di tangannya akan menjadi simbol kebahagian."


Rara melihat sosok dirinya yang terus berjalan menjauh. Sedangkan anak kecil penuh luka itu adalah Rio anaknya. Anak itu berusaha berlari dengan langkah terseret mengejar sang ibu. Tapi ibunya terus melangkah, sama sekali tidak menghiraukan anaknya yang kesakitan, dan terus memanggil namanya.


"Ri-rio ...." Sean samar-samar mendengar rintihan Rara, tapi dia masih ragu akan pendengarannya sendiri.


"Ti-tidak ... aku bukan mama yang seperti itu," isak Rara bersamaan dengan matanya yang mulai terbuka perlahan.


"Kau sudah sadar!" seru Sean dengan persaaan yang sangat bahagia.


Tanpa bisa dicegah lagi, Sean langsung menghujani seluruh wajah Rara dengan kecupan. Tidak ada nafsu, melainkan rasa sukur atas kembali sang istri.


Rara yang masih lemah mencoba mendorong wajah Sean. Setelah Sean menjauhkan wajahnya, Rara pun mencoba untuk duduk. Sean dengan cepat membantunya.


"Tenanglah, Rio baik-baik saja, dia anak yang kuat," ucap Sean menggengam lembut tangan Rara.


"Aku harus menemui anakku!" Rara mencoba turun dari Brankarnya.


"Tunggu sebentar! Biar dokter memeriksa kondisimu lebih dulu!" seru Sean yang langsung berlari ke luar ruangan.


Dokter datang bersama Sean, dan langsung memeriksa kondisi Rara. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter pun mengizinkan Rara keluar, Karena memang tidak ada yang mengkhawatirkan dari kondisi Rara.

__ADS_1


Sean membawa Rara menuju ruang ICU tempat Rio dirawat. Saat mendekati ruangan, Sean samar-samar mendengar suara Rio. Andai tidak sedang membawa Rara, Sean pasti sudah berlari ke dalam ruangan, untuk memastikan kebenaran suara yang didengarnya.


Sean sangat berharap apa didengarnya bukanlah halusinasi. Dan suara itu kembali terdengar saat mereka sudah sampai di pintu ruangan. Suara rintihan Rio yang memanggil mamanya.


"Mama ada di sini, Sayang!" Rara masuk ke ruang ICU dengan dipapah oleh Sean, membuat setiap pasang mata yang ada di sana menoleh dengan perasaan bahagia.


"Terimakasih Tuhan." Sean mengucap Rasa sukur, kebahagiannya terasa benar-benar lengkap saat ini, karena anaknya pun sudah kembali di saat bersamaan.


Begitu pun keluarga lainnya, mereka turut mengucap sukur atas anugrah Sang Pencipta.


Sean terus memapah Rara mendekati Brankar Rio, airmata Rara menitik melihat putranya berbalut perban di kepala dan juga di beberapa bagian tubuh lainnya.


"Rio ... maafin mama, Nak," isak Rara lalu mencium putranya dengan penuh kasih sayang.


"Mama jangan nangis!" lirih Rio menegarkan mamanya, seolah tidak ada rasa sakit yang ia rasakan.


Dokter Alya mendekat dan membisikkan kepada Rara, agar tidak membawa Rio ke dalam suasana emosional. Demi menghindari terjadinya hal buruk, karena Rio masih dalam tahap pemulihan pasca bedahnya.


Rara dengan cepat menghapus air matanya, lalu tersenyum haru memandang pahlawan kecilnya.


Sean tidak dapat menahan keinginan untuk mencium anaknya. "Kau hebat, Sayang! Kau anak kebanggaan papa ...."


Rara memicingkan matanya menatap Sean. "Papa?"

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa like, vote dan komen.


__ADS_2