
Suasana makan malam tampak hangat, keluarga ini sibuk dengan santapan masing-masing. Meski tak jarang Rio merepotkan omanya, dengan meminta ini dan itu, anak itu memang mengambil posisi duduk diantara opa dan omanya.
"Sean, kandungan kakak iparmu sudah mendekati masa kelahirannya, kakakmu Bastian meminta kita semua untuk datang saat sukuran kelahiran anaknya nanti. Tapi ayah dan ibu akan ke sana lebih cepat, ayah dan ibu ingin berlibur, sekalian membantu kakak iparmu mepersiapkan keperluan untuk proses bersalinnya," ucap ibu Lidya setelah mereka selesai dengan makannya.
"Memangnya kapan ayah dan ibu akan berangkat?" tanya Sean.
"Kami akan berangkat besok," jawab ibu Lidya sambil mengusap kepala cucunya.
Rio memang sejak tadi terus menatap omanya, seolah meminta untuk cepat membahas tentang dirinya.
Ibu Lidya mengalihkan pandangan pada Rara. "Ra, karena Rio sudah libur sekolah, dia akan ikut ayah dan ibu ke N.Y, kalian harus menyusul saat acara kak Bastian nanti."
Rio terlihat tersenyum karena omanya sudah menyampaikan perizinannya, tapi Rara sepertinya tidak sepakat dengan keinginan putranya.
"Rio perginya nanti saja, bareng sama mama, sama papa, ya," bujuk Rara sambil menatap teduh putranya.
"Nggak mau ... Rio mau ikut oma, Rio nggak ada teman di sini." Anak itu memberengutkan wajahnya, lalu menatap opa dan omanya bergantian, meminta pembelaan.
Ibu Lidya menghela napasnya. "Biarkan Rio ikut kami, Nak. Kasihan dia di sini tidak ada temannya, sementara kalian sering sibuk. Lagi pula Rio sudah merindukan sepupunya, kau bisa lihat sendiri mereka sudah begitu akrab, meski baru sekali bertemu di pernikahan kalian."
"Tapi, Bu. Aku jadinya yang kesepian di sini," keluh Rara.
Ibu Lidya mengembangkan senyumnya. "Kau jangan egois, Sayang. Pikirkan juga perasaan Rio yang akan kau tinggal sendiri saat bekerja, sementara ayah dan ibu tidak ada di sini. Jika kau dan suamimu sudah tidak terlalu sibuk dengan pekerjaan di sini, kalian bisa menyusul secepatnya."
Setelah selesai pembicaraan di meja makan, Rara dan Sean kembali ke kamarnya. Wajah Rara terlihat ditekuk, karena ini adalah kali pertama dia akan berjauhan dengan anaknya itu.
Tapi di sisi lain Rara juga tidak tega untuk menghalangi keinginan anaknya itu, apalagi tidak setiap waktu bisa dia berikan untuk putranya itu.
__ADS_1
"Pantas saja dia begitu bersemangat saat mengajak kita makan malam tadi, ternyata dia ingin pergi berlibur bersama omanya," gerutu Rara dengan nada dongkol.
"Kau mengkhawatirkan Rio?" tanya Sean sembari mendudukkan diri di atas ranjang bersebelahan dengan istrinya.
Rara mengangguk kepala, seperti tidak ikhlas ditinggal putranya yang akan pergi belibur.
"Kita akan segera menyusul secepatnya. Rio pasti akan aman bersama oma dan opanya, kau tidak perlu mengkhawatirkan keselamatannya." ucap Sean menenangkan istrinya.
"Bukan keselamatannya yang jadi pikiranku, aku belum pernah jauh dari anakku itu," desah Rara sambil merebahkan diri, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Sean pun merebahkan tubuhnya di samping Rara, matanya menatap langit-langit kamar, dia memikirkan sesuatu yang terlupa, dan berusaha keras untuk mengingatnya.
Hampir setengah jam sean memikirkannya, barulah dia tersadar. Ternyata yang dia lupakan adalah hukuman yang belum diterima oleh istrinya itu. Sean merubah posisinya menyamping, ingin melanjutkan niatnya, tapi sayang istrinya itu sepertinya sudah tertidur lelap.
Sean memandangi wajah Rara, dia tidak berani mengambil resiko untuk membangunkan istrinya. Apalagi mood istrinya itu sedang kurang baik saat ini. Sean masuk ke dalam selimut sambil membuang napas pasrah, dia mendekap Rara lalu ikut tertidur bersamanya.
***
Setelah pesawat orang tuanya berangkat, Sean mengantar Rara menuju kantornya. Rara tidak dapat lagi menyembunyikan wajah murungnya, dia ingin waktu cepat berlalu agar segera pergi menyusul anaknya berlibur.
"Jangan cemberut seperti itu! Apa kau ingin terlihat seperti nenek-nenek?" goda Sean. Karena melihat istrinya itu terus memberengut sepanjang perjalanan.
"Jangan menggodaku, aku sedang kesal," sungut Rara.
Sean menghela napasnya. "Aku bisa saja menyuruh Sandy menghandle tugas-tugasku, jika kau ingin menyusul mereka berlibur. Tapi kau sendiri yang bilang, pekerjaanmu belum bisa ditinggal."
"Ya ... karena aku dan Luna harus mengevaluasi rencana-rencana yang akan dijalankan, pada saat kami mengambil alih grup ritel itu," keluh Rara.
__ADS_1
"Ya sudah. Jangan cemberut kalau begitu. Anggap saja ini adalah kesempatan bagi kita, untuk menikmati masa-masa pengantin baru," goda Sean sambil mengedipkan matanya sebelah.
"Pengantin baru dari hongkong!" ketus Rara kesal.
***
Setelah melewati makan malam berdua saja, Rara pun kembali ke kamar. Dia menatap pintu penghubung, lalu melangkah menuju kamar anaknya itu.
Rara mendudukkan diri di ranjang anaknya, mansion ini terasa sepi sekali. Bagaimana tidak, mansion sebesar ini hanya dihuni oleh 2-orang, selain para pelayan tentunya.
Biasa di kamar ini memang sering terdengar keributan, tidak jarang Sean atau Rara akan datang ke sini, apabila Rio sedang rewel dan tidak mau di bujuk oleh nannynya.
Belum lagi saat Rio tidak bisa tidur, Rara akan datang menemani anak itu, lalu menceritakan dongeng hingga putranya tertidur lelap. Kini baru semalam Rio tidak ada di sini, Rara sudah sangat merindukan suasana itu.
"Sedang apa kau di situ?" tanya Sean sembari menghampiri Rara.
"Rasanya sepi sekali," sahut Rara pelan.
"Apa kau ingin mansion ini menjadi ramai?" tanya Sean sambil menaikkan alis matanya sebelah.
"Bagaimana caranya?"
"Kita buat adik yang banyak untuk Rio," jawab Sean dengan seringai jahilnya.
Mata Rara membulat sempurna, belum sempat dia membalas perkataan Sean, suaminya itu sudah langsung memberinya serangan mendadak.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen!