
"Heii sialan! Ini tempat tidurku, siapa yang mengizinkanmu tidur di sini," geram Sean seraya menarik selimut yang menutupi tubuh Rara.
Rara tersentak kaget, padahal ia baru saja akan terlelap, resepsi tadi siang begitu melelahkan bagi Rara.
"Ck ... Tuan Sean Richard, kau mau apa lagi? Apa belum puas kau menghinaku tadi?" geram Rara pada pria yang kini sedang menatap benci kepadanya.
"Lancang! Kau pikir siapa dirimu, berani-beraninya kau tidur di ranjangku, sana pergi tidur di sofa, aku tidak ingin berbagi termpat tidur dengan wanita rendahan sepertimu," usir Sean.
Rara mendengus kesal, ia terlalu lelah untuk berdebat dengan Sean, Rara memilih untuk mengalah saja. Meski hatinya teriris dikatai wanita rendahan, bahkan hinaan itu harus keluar dari mulut pria yang berstatus sebagai suaminya, walaupun mereka menikah karena terpaksa, tapi setidaknya hargailah dirinya sebagai wanita.
Tunggu! Menghargai wanita? Pikiran macam apa itu? Mana mungkin seorang pria sakit jiwa bisa menghargai wanita, Rara hanya berharap sesuatu yang mustahil, mungkin itu akan terjadi jika kucing sudah bertanduk.
Rara meraih selimut yang akan dibawanya ke sofa, lalu turun dari tempat tidur.
__ADS_1
Rara akan segera melangkah, tapi Sean menahannya dengan memegang bahu Rara.
"Nona Nadira, perlu kau ketahui! Pernikahan ini terjadi karena aku tidak punya kuasa untuk menolak kehendak ayahku, yang entah bagaimana pikirannya bisa diracuni oleh wanita sialan sepertimu, jadi jangan harap aku mau tidur seranjang denganmu. Dan aku beri saran untukmu, nikmatilah fasilitas keluargaku selagi kau masih bisa, karena aku akan melakukan segalanya untuk membongkar sandiwara busukmu ini, secepatnya." Sean berbisik penuh penekanan di telinga Rara.
Tuduhan dan cacian Sean membuat Rara geram, padahal tadinya ia tidak ingin meladeni Sean berdebat.
"Tuan Sean yang terhormat! Dengar perkataanku baik-baik, sejak awal aku sudah menyuruhmu untuk menghilangkan surat perjanjian itu, dan pernikahan ini tidak akan terjadi, jika kau berhasil mengambil surat sialan itu." Rara tersenyum sarkastik.
Rara sebenarnya sangat lelah, dan ingin menahan emosi, tapi cacian demi cacian yang ia dapatkan, membuatnya tidak tahan, dan akhirnya kata-kata itu pun keluar dari mulutnya.
"Hahaha ... kau pikir bisa tidur di sini begitu saja, aku akan membuatmu menyesal sudah dilahirkan, karena berani menyuruhku tidur di sofa!" ancam Sean hendak manarik tangan Rara.
Rara menghindar dengan cepat, ia menuntun mata Sean untuk melirik tombol darurat yang ada di samping headboard ranjang.
__ADS_1
"Seluruh keluarga dan pengawal akan langsung ke sini jika aku menekan tombol itu! Seperti yang kau katakan tadi, wanita sialan yang ada di depanmu ini sudah mencuci pikiran keluargamu. Kau bisa melakukan apapun padaku sekarang, dalam artian jika kau merasa siap untuk menghadapi keluargamu sendiri." Rara balik mengancam dengan nekat, meskipun sebanarnya dia tidak begitu yakin, apakah keluarga Sean benar-benar akan membelanya.
"Wanita iblis!" kesal Sean tidak berdaya, ia tahu apa yang akan terjadi jika Rara sampai menekan tombol darurat itu. "Kalian para wanita memang sama saja! Mau merelakan dirinya terlihat rendah, demi mendapatkan materi dan kemewahan." Sean tersenyum sinis.
Sean melangkah meninggalkan kamar dengan rasa dongkol, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan terpaksa Sean harus merelakan dirinya tidur di sofa.
Sebenarnya Sean bisa saja tidur di ranjang, berbagi tempat tidur dengan wanita yang sudah sah menjadi istrinya, tapi Sean takut tidak dapat menahan diri untuk meniduri Rara, wanita itu memiliki memiliki pesona yang tidak mungkin diabaikan, oleh naluri kelaki-lakiannya.
"Sialan, untuk pertama kalinya aku harus tidur di sofa! Dasar wanita sialan, aku pastikan kau akan membayar mahal atas perbuatanmu malam ini." Sean mengumpat kesal, sebelum memejamkan matanya.
bersambung.
Jangan lupa tinggalkan like, vote dan komen.
__ADS_1