
Malam harinya.
Setelah menemani putranya sampai tertidur, Rara pun menuju tempat tidur keluarga, dia ingin beristirahat, apalagi kondisinya belum sepenuhnya pulih.
Ruang rawat presidential suite ini memiliki ruangan yang sangat besar, dengan segala fasilitas mewah, alih-alih merasa di rumah sakit, keluarga pasien diberikan kenyamanan seperti berada di rumah sendiri. Tak jauh dari bed elektrik pasien, terdapat dua bed yang disediakan untuk istirahat keluarga. Beralih ke bagian depan terdapat ruang tamu dengan sofa bed empuk, yang menghadap langsung ke sebuah LED tv. Sebagai hiburan untuk menghilangkan kejenuhan bagi keluarga pasien.
Baru saja Rara hendak merebahkan dirinya, Sean kembali datang, lalu menghampirinya.
"Aku membelikan makanan untuk kita, ayo makan dulu, agar kau cepat pulih," ajak Sean.
Rara tidak menyahut, dia hanya menatap Sean penuh telisik.
Sean berdecak. "Kau selalu mencurigai kebaikan orang, ya. Semua ini gratis. Apa kau pikir aku akan berlaku modus kepada orang sakit?"
Rara tersenyum lalu turun dari ranjang, dia mengikuti Sean menuju ruang makan.
Sean menghidangkan makanan untuk Rara. "Makanlah!"
Rara mengangguk, lalu mulai menyantap makanan pemberian Sean.
"Enak?" tanya Sean.
"Iya, terimakasih."
Rara menyantap makan malamnya dengan lahap, Sean melayani istrinya dengan baik, termasuk mengambilkan minuman untuk istrinya.
Setelah selesai makan, Sean langsung membersihkan sisa makanan mereka, lalu kembali duduk di samping Rara.
Sean mengambil dompet dari saku celananya, lalu mengeluar uang berjumlah seribu euro, uang yang dulu diberikan Rara untuknya.
"Kau ingat ini?" Sean mengibaskan uang tersebut di depan wajahnya sendiri. "Ini adalah uang yang diberikan seorang wanita yang menganggapku pria bayaran."
__ADS_1
"Tentu saja aku mengingatnya, aku tidak sepertimu yang lemah ingatan! Aku bahkan langsung menyadari bahwa kau adalah pria itu, beberapa hari setelah pernikahan kita," cibir Rara.
"Kau terlalu sombong, Nona. Kau bisa menyadari secepat itu, karena kau sudah sadar saat meninggalkanku pagi-pagi sekali," kilah Sean membuat alasan.
Sean menatap Rara dengan seringai liciknya, seriangaian yang sudah sangat dipahami Rara. "Bersiaplah untuk menerima hukumanmu setelah kau sembuh nanti, hukuman karena sudah menganggapku pria bayaran, dan hukuman karena meninggalkanku saat masih tertidur."
Rara menaikkan bibir atasnya. "Selalu saja modus."
Rara beranjak dari ruang makan menuju tempat tidur. Dia malas meladeni Sean berbicara, karena terlalu banyak akal bulus yang direncanakan suaminya itu.
***
Beberapa hari menjalani perawatan, keadaan Rio sudah semakin membaik, dokter pun sudah mengizinkannya untuk pulang, dengan tetap melakukan rawat jalan.
Keluarga menyambut kabar ini dengan suka cita, mereka akan pulang hari ini juga.
Mereka meninggalkan rumah sakit, begitu juga bodyguard yang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Rara. Dia sudah membaik dan dibawa pulang oleh keluarganya.
***
Satu bulan kemudian.
Rio terus merengek meminta agar diperbolehkan sekolah, mungkin dia sudah sangat merindukan teman-temannya, atau bisa jadi karena bosan terus dikurung di mansionnya. Setelah berkonsultasi dengan dokter, Rio pun diizinkan sekolah dengan pengawasan nannynya ditambah seorang perawat.
Setelah mengantarkan Rio ke sekolahnya, Sean langsung tancap gas menuju perusahaan Rara. Hari ini juga adalah pertama kalinya Rara pergi bekerja, setelah ia keluar dari rumah sakit. Selama ini Rara selalu menemani Rio yang sedang dalam tahap pemulihan, jadi Rara mempercayakan semua urusan perusahaan kepada Luna.
Tidak ada suara dari mulut sepasang suami istri itu selama perjalanan. Rara sengaja bungkam, dia masih kesal karena tadi malam Sean mengempurnya habis-habisan, yang membuat tubuhnya terasa remuk sampai saat ini.
"Kita sudah sampai," ujar Sean sesaat setelah menghentikan mobilnya di parkiran kantor paridese fashion.
Rara hendak membuka pintu mobil, ketika mendengar suara Sean. "Tunggu sebentar!"
__ADS_1
Sean mengeluarkan sebuah black card dari dalam dompetnya, lalu menyodorkannya kepada Rara. "Ambil ini, gunakan untuk membeli semua kebutuhanmu!"
"Apa ini?" tanya Rara sambil menautkan kedua alis matanya.
Sean berdecak sambil menggelengkan kepala. "Jangan pura-pura bodoh! Kau pasti tahu ini kartu apa!"
Rara tersenyum kecut. "Iya ... aku tahu! Tapi untuk apa kau memberikan kartu itu. Aku sudah memiliki kartu seperti itu."
Sulit dipercaya, ternyata di dunia ini masih ada wanita yang mau menolak diberikan kartu unlimited, master kartu yang selalu menjadi impian para wanita.
Yang lebih mencengangkan lagi, selama pernikahan mereka, Rara tidak pernah meminta apa pun dari Sean. Tentu ini adalah hal wajar jika mengingat kesuksesan yang dimiliki Rara. Hanya saja sebagai seorang suami, Sean tentu ingin berusaha menafkahi istrinya, juga demi menjaga martabat seorang suami.
"Ambil atau aku akan menghukummu satu malam penuh!" ancam Sean sambil tersenyum penuh maksud.
Rara menghela napas jengah.
"Tidak peduli aku menerimanya atau tidak, kau tetap akan mengerjaiku semalaman," desis Rara sambil meraih kartu pemberian Sean, lalu memasukkan kartu tersebut ke dalam tasnya.
Senyuman Sean tiba-tiba memudar, ketika Rara mengulurkan tangannya.
Sean menaikkan alis matanya. "Jangan melunjak, aku sudah berbaik hati memberimu kartu itu. Dan kau masih ingin meminta uang?"
"Tidak waras!" sungut Rara, dia meraih tangan Sean lalu mencium punggung tangan suaminya itu, membuat Sean terperangah.
Sejurus kemudian Rara langsung turun dari mobil. "Aku pamit ...."
Sean terus memandangi punggung Rara, sampai sosok istrinya itu menghilang dari pandangan. Sean tersenyum aneh mengingat kejadian tadi, begitu juga rasa senang yang membuncah di dalam dadanya, perasaan yang belum pernah ia rasakan selama ini.
Bersambung.
Jangan lupa like, vote dan komen.
__ADS_1