My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Aku Tidak Suka Kegagalan.


__ADS_3

Tak lama kemudian pelayan restoran datang menghidangkan pesanan mereka, Sean memesan 2-porsi ikan bakar sebagai menunya. Ikan menjadi menu di sini adalah ikan segar, yang langsung di ambil dari kolam, saat ada tamu yang memesannya.


"Aromanya enak sekali, perutku langsung terasa lapar. Tapi, apa ini boleh?" ucap Rara ingin mencicipi ikan bakar yang sangat menggugah selera itu, tapi dia masih ragu karena pernah mendengar bahwa ibu hamil, tidak anjurkan memakan hidangan yang dibakar.


"Tentu saja boleh, Nona. Tadi Tuan memesan menu khusus untuk ibu hamil, jadi ikan ini dipanggang sampai benar-benar matang, tapi tidak sampai gosong, ditambah bumbu khusus yang aman untuk ibu hamil," jelas pelayan tersebut.


"Baiklah. Terimakasih, Mbak," tutur Rara, lalu mulai mencicipi hidangannya.


"Aku sengaja mengajakmu ke sini, karena ikan-ikan di sini juga tidak di beri makan pelet, ikan di sini diberi makanan alami, seperti nasi sisa-sisa makanan dari pengunjung, jadi rasa dagingnya sangat gurih, tidak terasa hambar seperti di restoran-restoran lainnya," jelas Sean.


"Kau sering ke sini?" tanya Rara.


"Lumayan."


"Bersama mantan-mantanmu?" cecar Rara dengan nada bicara yang mulai berubah.


Sean menghela napas. "Astaga ... apa kau ingin hidup di masa lalu? Apa kau akan menghukum orang karena masa lalunya?"


"Tidak, aku hanya bertanya! Mengapa kau jadi sensi?" debat Rara.


'Oh ... Tuhan, wanita dan kehamilannya,' gumam Sean lalu menghela napas dalam-dalam, lalu dihembuskan perlahan.


"Ya, sudah. Makanlah!" perintah Sean yang tidak ingin melanjutkan perdebatan.


Rara menganggukkan kepala, mereka mulai menyantap makan siangnya. Rara terlihat begitu berselera dia bahkan menyantap hidangannya sampai tandas.

__ADS_1


Selesai makan mereka tidak langsung pulang, bersantai adalah pilihan yang bagus sambil menikmati udara sejuk, mereka mengisi waktu dengan saling berbagi cerita.


Setelah cukup lama, barulah mereka memutuskan untuk pulang. Kini mobil mereka sudah melaju perlahan, meninggalkan restoran tersebut.


"Tempatnya sangat menyenangkan, bukan?" tanya Sean.


Rara menganggukkan kepala. "Iya, tapi tempatnya terlalu jauh, sementara pekerjaanku di kantor belum selesai."


"Sudah kubilang jangan terlalu memforsir pekerjaan, kita pulang saja, besok baru kerja lagi," sela Sean.


Rara melirik ke arah Sean, sebenarnya dia tidak suka jika pekerjaannya terganggu. Tapi Rara juga sadar, apa yang dilakukan Sean adalah demi kebaikannya sendiri.


"Iya, ke kantornya besok saja. Terimakasih sudah membawaku ke sini," tutur Rara tanpa lupa mengembangkan senyumnya.


Mobil Sean terus melaju menelusuri jalan pulang. Sementara itu mobil Julie terus mengikuti dari jarak yang cukup jauh. Julie tahu bagaimana harus menjaga jarak, karena dia sadar mobil milik Sean tidak melaju sendiri, melainkan ada pengawal yang mengikuti.


"Pasti ada celah," imbuh Julie yakin, dia membelokkan arah mobilnya, berpisah arah dengan tujuan mobil Sean.


***


Sean dan Rara tiba di mansionnya, mereka langsung menuju kamar. Rara terlihat gelisah duduk di atas tempat tidurnya, dia berkali-kali melihat jam di dinding yang masih pukul 4-sore.


"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Sean yang dapat menangkap gurat kegelisahan di wajah istrinya.


"Tidak, aku hanya ingin menelpon Rio, tapi dia pasti masih tidur," sahut Rara.

__ADS_1


"Ehmm ... aku pikir apa! Tunggulah, kau bisa menelponnya nanti setelah kita makan malam, itu bertepatan saat mereka selesai sarapan."


Rara menganggukkan kepala, seolah tak sabar menunggu waktu yang berputar terlalu lama. Sean turun ranjangnya, hendak menuju kamar mandi.


"Aku akan menyiapkan air untuk mandimu, kau bisa berendam, untuk sekedar mengusir kegelisahanmu," ujar Sean.


Rara melirik ke arah Sean dengan mata penuh telisiknya.


"Kau selalu mencurigai kebaikan orang, ya! Semua ini gratis. Tidak tahu kalau nanti malam," kekeh Sean sebelum berlalu menuju kamar mandi.


***


Sementara itu di tempat yang jauh dari mereka, Julie sedang menimbang-nimbang rencana disarankan temannya, Julie yakin rencana ini akan berhasil, mengingat ia paham betul bagaimana watak Sean.


"Ternyata tidak cukup sulit menghancurkan mereka, meskipun istrinya itu terus dikawal ketat oleh bodyguardnya. Hanya dengan satu kali goncangan, keluarga yang baru tumbuh itu akan hancur di tanganku," tekad Julie begitu optimis dengan rancana yang akan dijalankannya.


"Jangan lupakan aku, jika kau sudah menjadi nona muda di keluarga itu ...," ucap seorang pria yang memberi masukan untuk Julie.


"Hmm ... tentu saja, aku pasti akan memberimu lebih banyak dari pada yang kau bayangkan. Jika bukan karena ide brilianmu ini, aku pasti masih pusing memikirkan rencananya, karena pengawalan istrinya itu terlalu ketat," sahut Julie tersenyum lebar.


"Baiklah, aku pulang dulu. Atur serapi mungkin, aku tidak suka kegagalan," titah Julie kepada temannya itu.


Setelah itu dia pun pergi dengan langkah penuh percaya diri. Kini dia tinggal menunggu hari esok, yang akan menjadi hari kemenangannya.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan komen.


__ADS_2