My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Musibah Yang Silih Berganti


__ADS_3

"Brian, ayo ikut aku!" ajak dokter Alya dengan nada tergesa-gesa.


"Bagaimana keadaan cucuku, Al?" Brian mendekati dokter Alya dengan raut wajah cemas.


Dokter Alya menghela napas terlebih dulu. Dia sadar kepanikan sedang melanda Brian saat ini, jadi Alya harus pelan-pelan untuk menjelaskan kondisi Rio, agar tidak menambah beban pikiran Brian.


Saat ini Rio sedang terbaring koma di ruang ICU, anak kecil itu sudah menjadi pelindung bagi mamanya, dia bahkan mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan mamanya dari tabrakan. Akibatnya dia sendiri yang harus menjadi korban, Rio menggantikan mamanya dan ia pun harus menderita pendarahan hebat ditambah luka di bagian kepala yang cukup parah.


Dokter sudah bersiap melakukan operasi penyalamatan. Namun, pada saat tim dokter melakukan pemeriksaan golongan darah ABO, rhesus dan uji silang serasi, ternyata Rio memiliki golongan darah Rh-null yang sangat langka. Dan tentu saja rumah sakit tidak memiliki stok darah seperti itu, jalan keluarnya adalah mencari donor keluarga yang kemungkinan memiliki golongan darah yang sama.


Jadi dengan terpaksa tim dokter menunda operasi sampai menemukan pendonor yang memiliki darah serupa. Tidak mungkin bisa melakukan operasi pada saat pasien sudah kehabisan darah. Dan yang pasti transfusi darah juga dibutuhkan, untuk menambah darah baru, menggantikan komponen darah yang hilang pasca operasi nanti.


"Brian ... Rio mengalami trauma yang cukup serius di bagian kepala, kami harus melakukan bedah kepala secepatnya. Sayangnya, operasi ini belum bisa dilakukan dikarenakan Rio kehilangan banyak darah. Masalahnya adalah, Rio memiliki golongan darah langka yang merupakan jenis lain dari tipe RH. Rumah sakit ini tidak mempunyai stock darah seperti itu. Aku menebak golongan darah yang dimiliki Rio, adalah warisan dari keluargamu, jadi untuk itulah aku menemuimu. Tapi sebelum itu kita harus melakukan uji crossmacth untuk mengetahui kecocokan," jelas dokter Alya pelan.


"Cepat lakukan, Al!" perintah Brian.


"Ikut aku!" Dokter Alya bergegas menuju lab rumah sakit.

__ADS_1


Brian mengikuti dokter Alya untuk melakukan tes uji silang serasi, antara darahnya dan Rio. Setelah melewati rangkaian gell test, dan ternyata cocok. Akhirnya Brian pun dapat bernapas sedikit lega, karena perkiraan Alya benar, dia bisa menjadi pendonor untuk cucunya itu, hingga proses operasi bisa segera dilaksanakan.


Darah yang diambil dari Brian langsung dibawa ke ruang operasi, tim dokter bersama 2-orang dokter ahli bedah syaraf langsung melaksakan tugasnya. Brian diminta untuk menunggu di luar.


"Pastikan cucuku selamat, Al!" lirih Brian.


Dokter Alya menganggukkan kepala, sambil menepuk bahu Brian. "Tenangkan dirimu dan terus berdoa, Brian. Kami akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan cucumu.


Brian melangkah gontai menuju kursi tunggu, dia mendudukkan diri di sana, dengan wajah di tekuk. Bahkan satu detik berlalu terasa begitu lama bagi Brian, dia berdo'a agar operasi cucunya berjalan dengan baik, dan berhasil melewati fase kritisnya.


Sementara itu di ruang rawat lain, Rara masih belum sadarkan diri. Lidya menatap sedih kepada menantunya, baru saja dia ingin membahagiakan Rara, dengan mengungkap kasus kematian Maira, kini datang musibah lain yang menimpa menantunya itu.


"Nyonya, bisa bicara sebentar," ujar seorang dokter.


Lidya beranjak dari tempat duduknya di samping brankar Rara, lalu menghampiri dokter.


"Nonya, nona Rara sama sekali tidak mengalami luka fisik kecuali benturan dikepalanya. Saya rokemendasikan untuk dilakukan tes MRI, agar kami mendapatkan hasil diagnosa yang lebih akurat, untuk memastikan penyebab nona belum siuman sampai saat ini," ucap dokter yang menangani Rara.

__ADS_1


"Lakukan apa pun yang terbaik untuk menantuku," jawab Lidya cepat.


"Baik Nyonya, sementara kami akan melakukan tesnya, silahkan Anda tunggu di luar," pinta dokter tersebut.


Lidya menganggukkan kepala, dengan berat hati dia meninggalkan menantunya di ruang Rawat, Lidya pergi menuju area tunggu di depan ruang operasi Rio, di sana beberapa keluarganya sudah berkumpul, mereka semua menunggu kabar dari ruang operasi, dengan wajah yang diliputi rasa cemas.


"Bagaimana keadaan Rara?" tanya Brian ketika Lidya duduk di sampingnya.


"Dia masih belum sadar. Sekarang dokter sedang memeriksa kondisinya di ruang rawat," jawab Lidya lirih.


"Akkhh ...." Brian mengusap rambutnya dengan kasar.


Lidya juga menekuk wajah, seiring rasa frustasi yang membayanginya. Bagaimana tidak, 2-orang yang sangat dia sayangi harus menghadapi fase kritis di saat bersamaan.


Belum ada setengah jam berlalu, dokter Alya kembali keluar dari ruang operasi. Yang membuat keluarga Richard menebak-nebak apa yang sudah terjadi, termasuk kemungkinan terburuk.


Brian langsung berdiri dan menghampiri dokter Alya. "Apa yang terjadi pada cucuku?"

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa like, vote dan komen.


__ADS_2