My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Pulang Ke Apartemen


__ADS_3

"Sean ... Mengapa aku ditinggal!" panggil Vita, tapi orang yang dipanggilnya tidak lagi menoleh.


Sambil mengumpat kesal, Vita mengambil perban di kotak obat, lalu mulai membalut tangannya sendiri.


"Tidak punya perasaan, tanganku belum selesai diobati, malah ditinggal begitu saja," rutuk Vita dengan kesalnya.


"Aku rasa tanganmu itu tidak perlu diobati Nona! Lebih baik kau potong saja, kau punya tangan hanya untuk menambah dosa saja," cibir Sandy yang masih berada di ruangan tersebut.


Vita melotot ke arah Sandy, berani-beraninya asisten ini berkata begitu pada seorang calon nyonya muda.


"Kau akan menyesali ucapanmu itu sialan ...." desis Vita.


"Apa yang membuatku harus menyesal Nona?" tantang Sandy.


"Berpuaslah menertawaiku sekarang! Karena kau tidak akan punya waktu setelah aku menikah nanti dengan Sean, aku akan menendangmu dari sini, dan bersiaplah untuk menggelandang di luar sana!" ancam Vita.


Sandy tersenyum miring, wanita ini memang tidak tahu diri.


"Aku akan menantikan saat itu Nona!" sahut Sandy dengan datar.


Vita berdiri dari tempat duduknya, ia benar-benar merasa sial hari ini. Bagaimana tidak, pagi harinya ia mendapati Rian sudah kabur, setelah dia membantu melunasi hutang-hutang pria itu.


Lalu siangnya dia didorong Sean, tanpa sebab yang jelas. Yang membuatnya sampai terjatuh dan tangannya terluka akibat pecahan kaca. Dan yang lebih sial lagi dia ditinggal begitu saja oleh Sean.

__ADS_1


Belum selesai kesialan itu, kini ia harus adu mulut dengan Sandy, yang membuat emosinya naik sampai ke ubun- ubun.


"Lihat saja! Aku pasti akan membalas hinaanmu ini," ancam Vita sebelum pergi meninggalkan Sandy.


Orang yang diancam Vita hanya menggelengkan kepala, sambil menatap jengah kepadanya, sampai sosok wanita tidak tahu malu itu menghilang di balik pintu.


"Sialan ... Ini semua gara-gara kau Rara! Tanganku sampai terluka. Dan darah yang keluar dari tanganku ini, akan menjadi sumpah untuk membuat kehancuranmu," gumam Vita sembari berjalan dengan langkah kesalnya.


***


Sementara itu Rara merasa berkecil hati, ia mulai berpikir-pikir untuk melepaskan rumah tangga. Percuma dia mendapat kebahagiaan dari perhatian keluarga sang suami, tapi kebahagiaan itu tidak ia dapatkan dari sang suami.


"Apa semua pria seperti itu? Tidak pernah cukup pada satu wanita saja. Ah ... sialan! Aku belum mencintainya saja, rasanya sudah sesakit ini," gumam Rara sambil terus melajukan mobilnya.


"Lagipula siapa yang tidak akan sakit hati, dia seenaknya tidur denganku di rumah, tapi di kantor dia bercumbu dengan wanita lain," lirih Rara pilu.


Rara tiba di apartemennya, bi Eni langsung membukakan pintu untuknya.


"Non Rara. Kenapa tiba-tiba pulang! Apa Non lagi ada masalah?" tanya perempuan setengah baya yang sangat setia kepada almarhumah mamanya itu.


Rara menggelengkan kepalanya, ia langsung memeluk bi Eni, dan mendapatkan pelukan hangat seorang ibu di sana.


"Aku pulang karena rindu pada Bibi!" ucap Rara pelan.

__ADS_1


Bi Eni tersenyum lebar sambil menepuk punggung Rara. "Baru juga seminggu Non pindah dari sini. Apa Rio sehat?"


"Rio sehat, Bi. Sebenarnya aku ingin membawa bibi ke rumah mertuaku, tapi kasihan Luna sendirian di sini!" ujar Rara sambil melepaskan pelukan mereka.


"Nggak apa-apa kok Non! Bibi di sini saja sama non Luna," sahut bi Eni, yang dijawab anggukan Rara.


"Bi, aku mau ke kamar dulu. Kalau ada orang yang datang, jangan biarin masuk ya!" pinta Rara sebelum berlalu menuju kamarnya.


Bi Eni hanya menganggukkan kepala, ia dapat wajah sembab Rara, dan bi Eni meyakini Rara sedang memiliki masalah, yang belum siap diceritakan padanya saat ini.


Rara menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, berada di kamar ini membuat perasaan Rara sedikit lebih tenang. Rara memejamkan matanya dan mulai terlelap, ia tidak ingin terlalu larut oleh kesedihan akibat kejadian tadi siang.


Sore harinya Luna pulang, ia mendapati Sean masih berada di depan pintu apartemennya.


'Gigih juga pria ini,' gumam Luna dalam hati, sambil memandangi penampilan Sean yang acak-acakan.


Luna memang sudah diberitahu Rara, bahwa ada Sean di depan pintu apartemennya. Tapi Luna tidak menyangka Sean akan menunggu sampai sore begini.


Luna memasukkan pasword smart locknya, sedangkan Sean langsung berdiri penuh semangat, ini adalah kesempatan baginya untuk ikut masuk ke partemen itu.


Tanpa membuang waktu Sean pun bergerak cepat, bersamaan dengan Luna yang membuka pintu apartemennya.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen.


__ADS_2