
"Ma- ...." Ucapan maaf yang akan keluar dari mulut Rara terpotong karena mengenali perempuan yang ada di sebelahnya.
"Kenapa harus bertemu dia di sini sih," gumam Rara hampir tanpa suara.
"Rara ...." Wanita bernama Julie itu memastikan bahwa wanita yang ada di hadapannya benar-benar Rara, teman SMAnya dulu.
"Ra, kau masih marah atas kejadian itu, aku tidak bermaksud untuk ikut menjebakmu, tapi teman laki-laki kita memaksaku," ujar Julie memecah keheningan.
"Permisi." Rara malas manyahuti perkataan Julie, dan tidak ingin lama-lama berada di sana.
"Ciih ... sombong sekali! Memangnya kau pikir dirimu siapa! Paling juga sudah menjadi wanita penghibur untuk pengusaha-pengusaha kaya yang sedang mengadakan acara di sini," sinis Julie dengan tatapan merendahkan.
Rara menggelengkan kepalanya, 9-tahun berlalu tapi ternyata julie tidak juga berubah. Daripada dibuat semakin kesal, Rara pun berlalu dengan cepat tanpa menghiraukan celotehan wanita itu.
Tidak terima diacuhkan begitu saja, Julie pun mengejar Rara, sekalian untuk melanjutkan rencananya yang gagal dulu, pasti akan banyak untungnya jika dia menjual Rara kepada sugar daddy di sini.
"Tungggu, kenapa buru-buru sekali sih! Aku bisa memberimu pekerjaan yang menggiurkan," seru Julie menyeringai licik, sambil menahan langkah Rara.
Belum juga Rara menepis tangan Julie yang mencengkeram lengannya, 2-orang bodyguard Rara sudah menarik julie dengan kasar, sehingga wanita itu memekik kaget.
"Tolong jangan mengganggu nona kami. Anda akan mendapat masalah jika masih berani mengusiknya," ancam salah seorang bodyguard dengan nada dingin, sebelum berlalu meninggalkan Julie.
Rara sudah kembali ke ruang utama, suasana hatinya langsung memburuk karena bertemu Julie. Rara berpamitan kepada Luna untuk pulang lebih dulu, lalu menemui bodyguardnya meminta diantar pulang.
"Kau mau ke mana? Aku baru saja sampai," tegur Sean yang melihat istrinya ketika dia tiba di basement hotel.
"Aku mau pulang!" sahut Rara dingin.
"Pulang? Mengapa cepat sekali," tanya Sean heran.
__ADS_1
"Tidak enak badan."
Sean menghela napasnya, dia membukakan pintu mobil untuk Rara. Sebenarnya Sean tidak yakin dengan alasan Rara yang mengatakan tidak enak badan, tapi Sean tidak bertanya lebih lanjut, kerena melihat mood Rara yang sedang memburuk.
***
Pagi harinya Rara sudah berpakaian rapi, dia sudah siap untuk berangkat kerja. Kini Rara sedang memasangkan dasi untuk Sean, setelah itu mereka akan turun untuk sarapan pagi bersama.
"Ada apa itu?" Rara setengah bergumam karena mendengar keributan di kamar anaknya.
"Coba kau lihat, nanti aku menyusul." Sean meraih jas kerjanya lalu memakainya.
Rara pun melangkah cepat menuju pintu penghubung kamar putranya. Rara membuka pintu kamar, dan netra matanya menangkap Rio yang masih dengan pakaian tidur, sedang berdebat dengan nannynya.
"Ada apa, Mel?" tanya Rara pada nanny yang bernama Mela itu.
"Ini, Nona. Tuan muda tidak mau mandi, dia juga bilang tidak mau sekolah, saya sudah berusaha membujuknya, tapi tuan tetap tidak mau," jawab suster Mela.
"Rio kenapa, Sayang? Apa ada yang mengganggu Rio di sekolah? Coba bilang sama mama," ucap Rara sambil mengusap puncak kepala putranya.
Sean yang sudah selesai berpakaian kini ikut ke kamar anaknya.
Rio menggelengkan kepalanya. "Rio nggak mau sekolah, di sana nggak ada Dian!"
Sean terkekeh pelan lalu memutar tubuh Rio menghadapnya.
"Bro, dengarkan papa! Jangan pernah monoton pada satu gadis, masih banyak gadis lain yang bisa kau jadikan teman," ujar Sean menyemangati anaknya, tapi malah mendapati pelototan tajam dari Rara.
Setelah bersusah payah membujuk Rio dengan berbagai rayuan, akhirnya anak itu pun mau menurut, Sean dan Rara kembali ke kamarnya sembari menunggu Rio selesai mandi.
__ADS_1
"Mengapa kau malah menstimune pikiran anakku dengan otak kotormu itu, kau ingin menurunkan gen liarmu kepadanya, ya?" kesal Rara dengan ketus.
"Aku tidak melakukan itu, aku hanya ingin anakku sadar bahwa seorang lelaki tidak boleh monoton," elak Sean sambil menyeringai jahil.
"Tidak boleh monoton, ya ...." Rara menganggukkan kepala sambil memasang raut kesal, seraya berlalu meninggalkan Sean menuju ruang makan.
"Ah ... sial! Sepertinya aku sudah mengancam nafkah batinku sendiri." Sean menggaruk kepala sambil menatap punggung istrinya yang kini menghilang di balik pintu.
***
Sean sedang sibuk mengerjakan tugas kantornya, saat Sandy datang dengan membawakan informasi yang diminta Sean.
"Ini data wanita yang mengganggu nona Rara tadi malam, Anda pasti terkejut melihatnya, Tuan," ujar Sandy tersenyum tipis seraya menyerahkan data yang didapatnya.
Sean menaikkan sebelah alis matanya tinggi-tinggi, seraya meraih berkas yang diberikan Sandy, dia mulai membukanya lalu begitu terkesiap saat melihat profil wanita tersebut.
"Julie ...." Sean bergumam hampir tanpa suara, mengetahui wanita tersebut adalah wanita yang pernah menghiasi hari-harinya.
"Apa Rara mengenalnya?" Sean mengalihkan pandangan pada asistennya.
Sandy menganggukkan kepala. "Sepertinya nona Rara pernah mengalami kejadian buruk dengannya, dan itulah yang membuat suasana hati nona Rara langsung memburuk tadi malam."
Sean menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin Julie menjadi pengganggu di rumah tangganya, apalagi dengan kondisi rumah tangganya yang masih seperti sekarang, meskipun antara dirinya dan Rara sudah terlihat akur, tapi Sean belum tahu seperti apa perasaan Rara terhadapnya.
Dan di saat Sean masih merenungkan cara agar Julie tidak menjadi benalu di rumah tangganya, pintu ruang kerja Sean terbuka, diikuti masuknya sosok seorang pria yang tak lain adalah teman karibnya.
"Kau menyuruhku datang, tapi malah menyambutku dengan muka masam seperti itu! Apa yang terjadi, Bro?" celutuk Gerry seraya mendudukkan dirinya di sofa yang ada di ruangan tersebut.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan komen.