
Keesokan hari.
Rara terbangun dari tidur, ia mengerjapkan mata perlahan, sambil menggeliat malas. Rara turun dari tempat tidur, ia melangkah menuju kamar mandi.
Sekitar 20-manit kemudian, Rara keluar dari kamar mandi dengan wajah yang tampak fresh, Rara duduk di depan meja rias, untuk mengeringkan rambutnya, lalu mengganti pakaiannya.
Tak lama setelah mengganti pakaiannya, Rara berjalan menuju pintu, karena mendengar suara bell berbunyi, Rara sempat melirik Sean yang masih tertidur pulas di atas sofa.
'Kau terlihat lebih menyenangkan saat sedang tertidur,' batin Rara sambil berlalu menuju pintu.
"Selamat pagi, Nona!" sapa seorang pelayan pada Rara, saat Rara membukakan pintu.
"Pagi!" sahut Rara.
"Anda diminta untuk turun ke bawah, untuk sarapan bersama," tutur pelayan itu dengan ramah.
"Baiklah, terima kasih ya!" jawab Rara lalu mengikuti pelayan tersebut.
Rara memasuki lift untuk menuju lantai bawah, yang diteruskan berjalan menuju restoran hotel. Restoran ini memiliki ruangan khusus, yang hanya boleh digunakan oleh pemilik hotel saja, di sana keluarga besar Richard dan Morelli sudah mulai berkumpul untuk melakukan sarapan pagi.
"Sayang, mengapa kau datang sendirian! Mana suamimu?" tanya ibu Lidya.
__ADS_1
'Ah, aku sampai lupa! Tapi pria gila itu masih tidur, apa aku harus membangunkannya,' batin Rara.
Ibu Lidya menggelengkan kepala, sambil tersenyum tipis, lalu berjalan menghampiri Rara.
"Nak, apa suamimu masih tidur? Pergilah susul dia, katakan kita akan sarapan bersama!" perintah ibu Lidya.
Rara menghela napas pelan. Sebenarnya ia sangat malas, jika pagi-pagi begini sudah berurusan dengan Sean.
"Baiklah, Bu. Aku akan kembali untuk membangunkan Sean," pamit Rara.
Rara memutar tubuhnya, ia melangkah keluar dari restoran. Setibanya di kamar, Rara melihat suaminya itu masih nyaman berada di alam mimpinya, mungkin dia kelelahan karena acara kemarin, atau mungkin akibat begadang karena terpaksa tidur di sofa, entahlah. Hanya Sean dan Tuhan saja yang tahu.
Rara tidak tahu apa yang harus ia lakukan, matanya menatap Sean yang sedang tertidur pulas, Rara meremas ujung bajunya, ia butuh keberanian lebih untuk membangunkan suaminya itu.
Tidak ada sahutan dari Sean, Rara pun mengulangi seruan yang sama beberapa kali.
"Kenapa susah sekali membangunkannya! Tidur seperti orang mati saja!" Rara menggerutu kesal, sambil mengaruk-garuk kepalanya merasa frustasi.
"Sean bangunlah! Keluarga besarmu sudah menunggu di bawah!" seru Rara setengah berteriak, sambil menguncang pelan bahu Sean.
"Berisik! Aku bisa tuli jika kau terus berteriak-teriak di kupingku! Tanpa perlu kau bangunkan, aku bisa bangun sendiri!" Sean bangkit berdiri sambil melotot kesal kepada Rara.
__ADS_1
Sean pergi meninggalkan Rara sambil mengumpat kesal, ia pergi ke kamar mandi.
"Dasar sakit jiwa, dia bilang bisa bangun sendiri, tapi dari tadi tidak bangun-bangun. Sungguh menyebalkan." Tatapan kesal Rara terus mengikuti arah perginya Sean, sampai sosok suaminya itu menghilang di balik pintu kamar mandi.
Rara duduk di atas tempat tidur, menunggu Sean selesai mandi.
"Apa aku harus menyiapkan baju ganti untuknya," pikir Rara ragu-ragu.
Pada akhirnya Rara pun mengambilkan baju casual berwana abu-abu, serta celana panjang milik suaminya dari dalam lemari, lalu meletakkannya di atas tempat tidur.
'Bagaimana kalau dia tidak menyukai pilihanku? Ah ... sudahlah, yang penting aku sudah menyiapkan pakaian untuknya, dia akan memakainya atau tidak, itu urusan belakangan.' Rara mengibaskan tangan, mengusir keraguan di benaknya.
Tak lama kemudian tampaklah Sean keluar dari dalam kamar mandi, dengan tubuh berbalut handuk sebatas pinggang.
Jantung Rara berdegup kencang, melihat dada bidang Sean, ditambah perut sixpacknya yang menggoda iman, membuat Rara harus bersusah payah menelan salivanya.
Rara tidak ingin berlama-lama mengagumi tubuh Sean, ia kini mengalihkan pandangan dari tubuh macho suaminya itu, lalu melirik pakaian di atas ranjang, yang sudah ia pilihkan untuk Sean.
'Somoga dia menyukainya,' gumam Rara harap-harap cemas.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen ya!
Terimasih Kasih.