
Luna bergabung bersama keluarga Richard di ruang tunggu, mereka menjadi cemas karena keadaan Rio yang kembali kritis.
Damar datang bersama putrinya dengan membawakan parcel buah. Dia menghampiri keluarga Rara yang berada di ruang tunggu.
"Apa yang terjadi?" tanya Damar, karena melihat raut kesedihan di wajah orang-orang yang ada di depannya.
"Rio, kembali kritis," jawab Luna pelan.
Damar menghela napasnya, keadaan ini benar-benar tidak tepat. kedatangan Damar ke rumah sakit adalah untuk menjenguk sekalian berpamitan. Karena kepindahannya sudah tidak bisa ditunda lagi, sementara di sini keadaan sedang berduka.
"Bersabarlah! Rio pasti bisa melewati masa kritisnya, dia pasti sembuh," ucap Damar sambil menepuk bahu Sean, untuk memberi semangat.
Sean mengangguk pelan. "Terimakasih ...."
"Bagaimana keadaan Rara?"
"Dia belum juga sadar, padahal seharusnya tidak begitu."
"Boleh aku menjenguknya?"
Sean menganggukkan kepala. "Tentu, dan tolong bantu beri dia semangat agar bangun dari komanya ...."
Setelah mendapatkan persetujuan, Damar langsung menuju ruang rawat. Dia meletakkan parcel yang dibawanya di meja samping brankar.
Damar menatap Rara penuh sesal, dia merasa tidak berguna karena tidak bisa melakukan apa-apa pada saat kecelakaan itu.
"Ra, aku minta maaf! Karena tidak bisa menjaga Rio. Miris sekali rasanya, kecelakaan ini terjadi di depan mataku. Di depan seorang pria yang pernah berharap menjadi ayah sambung Rio, tapi tidak memiliki kemampuan untuk sekedar menjaganya. Kalau saja aku lebih awas, mungkin Rio tidak perlu mengorbankan dirinya. Aku menyesal sebagai seorang lelaki yang mengenalmu dengan baik, tapi tidak bisa melindungi kamu dan Rio," lirih Damar di samping brankar Rara.
__ADS_1
"Cepat bangun, Ra! Rio butuh kamu, butuh mamanya, anak itu sangat menyayangi kamu, Ra."
Damar menghela napas sebelum melanjutkan. "Hari ini aku akan pindah dari negara ini, Ra. Sebagai seorang teman, aku menyesal karena harus mengucapkan salam perpisahan dengan cara seperti ini. Semoga saja kita masih punya kesempatan untuk bertemu suatu saat nanti. Sebagai seorang pria, aku turut bahagia, Ra! Meskipun aku tidak bisa memilikimu, tapi kamu sekarang sudah menemukan keluarga yang sebenarnya. Keluarga yang menjagamu dengan segenap kemampuan mereka."
"Aku pamit, Ra. Maaf karena tidak bisa menunggu sampai kamu sadar. Ini sangat mendesak, dan aku akan berangkat pagi ini," pungkas Damar.
Setelah itu Damar keluar dari ruang rawat, dia pun berpamitan pada Sean dan keluarganya. Tapi ketika hendak berangkat, putrinya seolah enggan meninggalkan rumah sakit.
"Sayang, ayo kita pergi," bujuk Damar.
Diana menggelengkan kepala. "Dian belum mau pergi, Dian belum lihat Rio, Dian mau lihat Rio dulu, Rio pasti masih kesakitan ...."
Damar tahu putrinya itu pasti kecewa saat ini, tapi mau bagaimana lagi. Tidak ada seorang pun yang di perbolehkan masuk ke ruang ICU saat ini. "Sayang, saat ini kita tidak boleh menemui Rio. Karena Rio sedang diobati sama bu dokter."
Dengan sedikit memaksa, akhirnya Diana pun menuruti perkataan papanya. Mereka langsung meninggalkan rumah sakit, karena jam keberangkatan mereka sudah kurang dari dua jam lagi.
Sepulangnya Damar, Sean mendudukkan diri di samping ayahnya.
"Aku memang pernah menyayanginya, Ayah. Tapi aku tidak sebodoh itu mendiamkan orang yang sudah mencelakai keluargaku, apalagi dengan keadaan anakku yang masih kritis sampai saat ini."
Sean berdiri dari tempat duduknya. "Ayah tolong jaga anakku, aku akan pergi mengurusnya."
Brian mengangguk memberi izin. "Pergilah, dan mulailah belajar untuk melindungi keluargamu sendiri."
Setelah Brian mengakhiri ucapannya, Sean langsung pamit.
"Aku ikut!" seru Luna yang langsung mengejar Sean.
__ADS_1
Entah mendengar seruan Luna atau tidak, Sean terus melangkah dengan cepat. Yang dia pikirkan sekarang hanya satu, yaitu membuat wanita yang berani mencelakai anaknya menyesal.
"Kau tidak perlu ikut! Kau bisa kehilangan kendali saat melihat Vita, itu bisa membuatmu berakhir di penjara!" Gio mengejar Luna seraya menahan tangannya.
"Bukan urusanmu!" Luna menendang tulang kering Gio.
Gio masih meringis kesakitan memegangi tungkainya. Luna hanya berdecih mengejek, lalu meninggalkan Gio begitu saja.
Sementara itu Sean sudah dalam perjalanan, dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju gedung URM group.
Setibanya di sana. Sean langsung menuju gudang, tempat di mana Vita sedang disekap oleh anak buahnya.
Melihat kedatangan Sean, Vita langsung meronta. Dia berusaha mengadu pada Sean. Karena para bodyguard keluarga Richard berani menyekapnya, bahkan memberikan perlakuan kasar padanya.
"Lepaskan ikatan di mulutnya!" perintah Sean. Yang langsung dilaksanakan anak buahnya.
Setelah ditangkap, Vita selalu mengeluarkan sumpah serapah, sampai akhirnya bodyguard itu menjadi emosi, lalu membekap mulut Vita, agar dia berhenti meracau.
"Sean cepat pecat bodyguardmu itu, dia berani menyekapku. Aku ini calon istrimu, mereka sangat kurang ajar. Aku sudah memberi tahu mereka, tapi mereka malah memperlakukan seperti ini," adu Vita dengan nada merajuk.
"Mengapa kau mencelakai Rara?" tanya Sean dingin.
"Tentu saja aku ingin meleyapkan wanita sialan yang menjadi penghalang hubungan kita, dia itu wanita yang sangat licik. Lihatlah bodohnya dirimu, kau langsung terperangkap permainan liciknya. Dia begitu mudah mencuci pikiranmu, sampai kau lupa tujuanmu, tujuan untuk membuktikan kebusukannya pada orang tuamu. Makanya aku berusaha melakukannya sendiri, karena tidak ada pergerakan darimu. Kau benar-benar bodoh dan buta karna membiarkan parasit itu tinggal berlama-lama bersama keluargamu," jerit Vita menumpahkan kekesalannya.
Sean menghunuskan tatapan membunuh. "Aku memang terlalu bodoh dan buta selama ini, sampai-sampai tidak tahu siapa sebenarnya yang parasit."
"Terlalu banyak bicara!" teriak Luna yang baru saja datang. Luna belum sempat mengatur napas karena berlari ke gudang tersebut, tapi tinjunya sudah menghantam bibir Vita.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa like, vote, dan komen.