My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Persekutuan


__ADS_3

Vita yang tidak terima dengan pernikahan Rara dan Sean, mencari seribu macam cara untuk bisa menhancurkan pernikahan itu, sampai akhirnya ia teringat pada pria yang dulu direbutnya dari Rara.


Dengan penuh optimisme Vita pergi menemui Rian, Vita tahu kehidupan pria itu sedang tidak baik saat ini, jadi dengan memberikan sedikit ancaman, ia yakin Rian akan membantunya.


"Mau apa kau ke sini?" sergah Rian, wajahnya memancarkan aura kebencian, saat mengetahui orang yang datang bertamu ke rumahnya adalah Vita.


Rian memang masih menyimpan dendam kepada Vita, karena wanita itu meninggalkannya begitu saja, saat ia jatuh miskin.


Vita tersenyum culas, ia memperhatikan keadaan rumah kecil Rian, dengan sorot mata mengejek. kehidupan Rian sudah berbeda 180-derajat saat ini.


"Kau masih marah padaku ternyata," sahut Vita sambil menatap rendah kepada Rian.


"Perempuan laknat! Kau meninggalkanku, saat aku sudah tidak memiliki apa-apa!" geram Rian, kedua tangannya sudah mengepal di sisi tubuhnya, andai yang ada di depannya ini bukan seorang wanita, ia pasti sudah menghajarnya hingga babak belur.


"Cih ... wanita mana yang mau hidup dengan pria miskin sepertimu. Ingatlah Rian! Kau jatuh miskin bukan karena ulahku, tapi itu adalah kebodohanmu sendiri, camkan itu. Sekarang aku berniat baik kepadamu. Aku datang ke sini memberi bantuan kepadamu. Saling membantu lebih tepatnya, tapi keuntungan yang akan kau dapat 2-kali lipat, bagaimana!" ujar Vita sambil menaikkan sebelah alis matanya


Setelah saling bercerita panjang lebar, Rian pun sepakat untuk membantu Vita, dengan imbalan yang dijanjikan Vita, ditambah ia akan memiliki peluang untuk mendapatkan Rara kembali, tentunya.


Dan di sini lah Rian sekarang berada, ia tiba tepat di saat Rara hendak meninggalkan sekolah Rio.

__ADS_1


"Rara ...." Rara menoleh ke arah suara, seseorang meneriakkan namanya, tepat saat ia akan masuk ke dalam mobil.


Rara mengernyitkan dahi, saat mengetahui siapa yang memanggilnya, dia adalah pria yang pernah ada dalam hidup Rara.


"Rian ...." Rara menatap tidak percaya kepada pria tersebut, penampilan Rian memang terlihat menyedihkan saat ini, bahkan Rian datang menemuinya dengan menggunakan jasa ojek.


"Ya, ini aku!" sahut Rian sambil mengatur napasnya, "aku datang untuk meminta maaf, Ra!"


Rara tersenyum tipis. "Semuanya sudah berlalu Rian, aku tidak menaruh dendam kepadamu. Jadi, itu artinya aku sudah memaafkanmu sejak lama."


"Terima kasih," ucap Rian lirih.


"Tunggu dulu, Ra! Ada yang ingin aku sampaikan," cegah Rian.


Rara urung masuk ke mobil, ia memutar tubuh kembali menghadap Rian. "Apa lagi?"


"Ra, aku dengar kehidupanmu sudah sangat membaik sekarang, tapi yang terjadi padaku malah sebaliknya, aku bangkrut. Aku datang menemuimu dengan kerendahan hati, yaah, mungkin kau bisa mempekerjakanku sebagai salah satu pegawai di perusahaanmu, saat ini aku bahkan tidak mempunyai pekerjaan, untuk menopang biaya hidupku sehari-hari," ucap Rian dengan nada memelas.


Rara merasa tidak tega, apalagi melihat penampilan Rian yang sangat memprihatinkan. Rara merasa iba, bagaimanapun ia pernah berbagi hari-hari yang indah bersama pria ini. Tapi bukan itu alasan Rara ingin membantu Rian, melainkan rasa sosial sebagai sesama manusia, ya, anggap saja menolong teman lama, pikir Rara.

__ADS_1


"Baiklah, kita bicarakan di tempat lain!" Rara mempersilahkan Rian masuk ke mobilnya, mereka pun meninggalkan sekolah Rio.


Rara memarkirkan mobil di depan sebuah cafe sederhana. Untuk ukuran kota besar seperti jakarta memang sudah tidak heran lagi, jika ada banyak cafe yang sudah memulai jam operasional sejak pagi hari, karena target pasar mereka adalah orang-orang yang melakukan aktivitas pada pagi hari.


Rara menyesap coklat panasnya, sebelum kembali meletakkannya di atas meja. "Mengapa kau sampai seperti ini?"


Rian menghela napas berat.


"Semenjak kita pisah, kehidupanku menjadi kacau, aku lebih banyak menghabiskan hari-hariku di casino, dan beginilah keadaanku sekarang," ujar Rian sembari meretangkan kedua tangannya.


Rara berdecak sambil menggelengkan kepala. "Kau tidak pernah berubah! Begini saja, aku bisa memberimu pekerjaan. Tapi ingat, untuk menjaga sikapmu. Karena aku memberimu pekerjaan, murni karena menganggapmu sebagai teman lama."


"Terima kasih, Ra. Aku setuju," jawab Rian cepat.


"Kalau begitu, besok kau bisa mulai bekerja, dan jangan lupa bawa data pribadimu ke HRD besok," tukas Rara.


Bersambung.


jangan lupa like, vote, dan komen!

__ADS_1


__ADS_2