My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Hati Yang Remuk.


__ADS_3

"Ada apa Sean?" tanya Gerry yang melihat Sean begitu panik.


"Istriku diculik!" jawab Sean cepat.


Gerry ikut terkejut mendengar penuturan Sean. Dia ingin ikut bersama Sean, tapi temannya itu sudah berlari dengan cepat. Akhirnya Gerry menelpon Sandy untuk meminta bantuan.


"San, Rara diculik! Cepat siapkan para pengawal Richard untuk menyelamatkannya!" seru Gerry begitu Sandy menjawab telponnya.


Sandy pun ikut terkejut, tapi dia tidak percaya begitu saja.


"Rasanya itu tidak mungkin, Ger! Sejak kecelakaan itu terjadi, keluarga Richard berlaku sangat protektif menjaganya, dia tak pernah lepas dari pengawalan," bantah Sandy mengedepankan akal sehatnya.


"Tapi Sean sendiri yang mendapat kabar itu, kini dia sedang buru-buru untuk menyelamatkan istrinya," sela Gerry.


"Sebentar, aku akan menghubungi bodyguard yang menjaganya untuk memastikan. Nanti aku beri kabar selanjutnya." Sandy memutuskan telpon secara sepihak, lalu menghubungi bodyguard yang menjaga Rara.


"Iya, Tuan." Bodyguard yang ditelpon Sandy menjawab panggilan.


"Di mana Nona Rara? Apa dia baik-baik saja?" cecar Sandy.


"Nona Rara sedang di apartemennya, Tuan. Dia dalam keadaan aman," jawab bodyguard tersebut.


"Bisa kalian pastikan itu?" desak Sandy.


"Tentu, Tuan," sahut bodyguard itu yakin. Detik kemudian Rara tampak keluar dari apartemen dengan langkah terburu-buru.


"Itu Nona baru saja keluar, langkahnya sangat terburu-buru. Kami akan mengikutinya, Tuan," ucap si bodyguard.


"Sial ...." Sandy mengumpat kesal lalu memutuskan panggilannya.


"Bodoh! Sean pasti sudah terperangkap jebakan murahan ini," umpat Sandy.


Sandy bergegas melacak keberadaan ponsel Sean. Dia juga menghubungi Gerry untuk menyusul ke tempat Sean berada.


Sementara itu 2-orang bodyguard yang melihat Rara keluar dengan terburu-buru bergegas menghampiri nona mereka.


"Nona, apa ada masalah?" tanya salah satu bodyguard itu.


"Aku harus menyusul, Sean!" sahut Rara cepat, tanpa bisa dicegah lagi dia masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Rara melajukan mobilnya dengan cepat menuju hotel tempat Julie dan Sean berada. Rara merasa dadanya begitu sesak saat membaca pesan Julie tadi. Julie sengaja mengatakan bahwa dia sedang bersenang-senang bersama Sean saat ini.


Rara tiba di depan pintu kamar, dia meminta pengawalnya untuk mendobrak pintu tersebut, beberapa kali dobrakan pun dilakukan, tapi tidak berhasil membuat pintu tersebut terbuka.


Sejurus kemudian Sandy dan Gerry datang, dengan kekuasaan keluarga Richard, Sandy dengan mudah memaksa petugas hotel untuk memberikan access card kamar tersebut.


Pintu kamar tebuka, betapa terkejutnya mereka melihat kelakuan penghuni kamar tersebut. 2-orang yang bukan suami istri sedang bergumul panas, meski saat ini Sean masih mengenakan pakaian lengkap, tapi Julie hanya menyisakan pakaian dalam saja.


Sean dan Julie persis seperti orang yang sedang dimabuk cinta, mereka bahkan tidak menyadari saat Rara dan rombongan memasuki kamar tersebut.


"Sean hentikan itu ...!" teriak Sandy dan Gerry hampir bersamaan.


Mereka setengah berlari menghampiri dua insan yang hendak memulai adegan panas itu, lalu menarik Sean menjauh dari Julie.


Sementara itu Rara yang berada di belakang mereka tak kuasa melihat kenyataan. Belum kering rasanya air mata yang membasahi pipinya tadi pagi, kini air mata itu sudah kembali mengalir deras di pipinya.


'Sial, mengapa mereka ikut datang, harusnya Rara sendiri yang datang,' umpat Julie dalam hati.


Tak mampu menahan sakit akbibat pemandangan yang dilihatnya, Rara pun berlari meninggalkan ruangan tersebut. Berharap dapat meninggalkan lukanya di sana, tapi itu tidak mungkin, karena luka sayatan baru itu takkan tinggal begitu saja, dan pastinya butuh penyembuhan yang cukup lama.


Sean yang sedang dalam pengaruh obat yang diberikan Julie, tidak sadar jika istrinya melihat kejadian ini. Sean merasakan tubuhnya masih terbakar, dia ingin menerkam Julie untuk menuntaskan hasratnya.


"Buat dia pingsan," perintah Sandy pada bodyguardnya.


Bodyguard itu menatap Sandy ragu-ragu, bagaimana pun mereka tidak akan berani melakukan itu pada Sean, yang merupakan putra bungsu dari bossnya.


"Aku yang akan bertanggung jawab pada uncle Brian," tegas Sandy.


Tanpa membuang waktu, satu dari bodyguard itu langsung membekuk Sean, dan satunya lagi memukul tengkuk Sean hingga pingsan.


"Kalian amankan wanita ini, jangan sampai dia lepas, dia harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya, aku akan mengantar Sean ke rumah sakit," perintah Sandy.


"Tapi, Tuan. Nona sudah pergi." Mereka baru menyadari bahwa Rara sudah tidak berada di sana.


"Amankan saja wanita ini, nanti aku akan meminta pengawal yang lain untuk mengkutinya," sahut Sandy.


Bodyguard itu mengalihkan pandangan pandangan pada Julie, wanita itu terus menggeliat seperti cacing kepanasan. Akibat dari obat perangsang dosis tinggi, yang dia campur ke minumannya dan Sean tadi.


"Bagaimana mengurus wanita yang sedang seperti ini, Tuan?" tanya bodyguard itu bingung.

__ADS_1


"Terserah, mau kalian pakai dulu juga boleh," tukas Sandy seraya berlalu keluar membawa Sean, dengan dibantu oleh Gerry.


***


Rara sudah di perjalanan, dia melajukan mobilnya tak tentu arah. Rara seolah tidak memiliki tujuan yang pasti, hatinya begitu sakit melihat kejadian tadi. Padahal baru beberapa malam yang lalu, Sean mengungkapkan perasaannya dengan begitu manis. Oh, Tuhan. Semua itu hanyalah kata di bibir saja, pria itu bahkan asik bercinta dengan wanita lain sesaat setelah mereka bertengkar.


Rara menyalakan layar ponselnya, dan pesan yang dikirim Julie tadi langsung terpampang di sana.


...Setelah sekian tahun tidak bertemu ternyata kita masih akrab ya, Ra. Dulu semasa sekolah, kita selalu berbagi satu sama lain. Sekarang pun, kita berbagi suami. Benar-benar petemanan sejati. Jika kau mau, datanglah ke sini, kamar hotel D nomor 378. Aku dan Sean sedang berpesta, tentu menyenangkan membuat pesta bertiga....


...° Julie °...


Rara mendesah berat, dia tidak sabar untuk menghapus pesan itu dari ponselnya. Setelah pesan itu terhapus, Rara mencoba menenangkan dirinya sendiri, kajadian ini bukanlah akhir hidupnya, jalan masih panjang.


Rara mencari nomor Wina, lalu menghubungi sekretarisnya tersebut.


"Win, tolong pesankan tiket untuk keberangkatan sore ini, ya," perintah Rara.


"Apa Nona ingin mempercepat keberangkatan?" tanya Wina heran.


"Iya, tolong ya, Win. Oh, iya, hanya satu tiket. Aku berangkat sendiri."


"Satu tiket?" tanya Wina semakin Heran. "Bukankah rencananya Nona akan berangkat bersama suami ...."


"Tidak, dia sedang sibuk. Win jangan lupa bawa satu karyawan untuk menyusul besok pagi, aku membutuhkan kalian di sana, semua urusan di sini biar Luna yang handle. Oh, ya. Jangan lupa kirim orang untuk menjemput mobil Luna di bandara."


"Baik, Nona."


Setelah percakapan itu selesai, Rara kembali menyimpan ponselnya. Rara juga memutar mobilnya menuju CGK, dia tidak ingin membiarkan kekacauan rumah tangga menjadi penghambat karir. Bahkan melampias kegundahannya dengan fokus pada tujuan, bukanlah hal buruk bagi Rara.


Bersambung.


Bab kedua hari ini ya, selamat membaca kakak, bunda, dan mommy cantik.


Note, tidak setiap hari Reno bisa up 2-bab, karena punya pekerjaan di dunia nyata, mohon dimaklumi ya.


Tapi kalau 1bab perhari tetap rutin kok.


Terimakasih sudah membaca.

__ADS_1


__ADS_2