My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Kalian Yang Merampas Kebahagiannya


__ADS_3

"Terlalu banyak bicara!" teriak Luna yang baru saja datang. Luna belum sempat mengatur napas karena berlari ke gudang tersebut, tapi tinjunya sudah menghantam bibir Vita.


Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Luna, karena tangannya langsung mengambil alih bagian selanjutnya. Luna terus memukuli Vita seperti orang kesetanan, tak menghiraukan teriakan histeris dari Maya yang tidak tega melihat putrinya jadi bulan-bulanan tinju gadis lain.


Seperti yang dikhawatirkan Gio tadi, Luna memang kehilangan kendali saat melihat Vita. Bahkan dia terus memberi pukulan membabi buta saat Vita sudah pingsan.


"Gio, hentikan dia!" pinta Sean.


Sebenarnya Sean senang dengan kedatangan Luna, yang menggantikannya memberi hukuman pada Vita. Karena sebagai seorang pria, Sean tetap tidak akan tega memukul wanita. Tapi apa yang dilakukan Luna kini sudah melewati batas. Bahkan tidak menutup kemungkinan Vita akan mati jika terus dipukuli, dan tentu akan membuat Luna berakhir di penjara.


Dengan cepat Gio menghampiri Luna, dia merangkulnya menjauh dari Vita. "Hentikan sialan! Aku sudah bilang jangan kehilangan kendali. Kau mau hidup di penjara, ya?"


"Biarkan aku membunuhnya! Kau tidak lihat apa yang dia lakukan pada Rio? Dia ingin membunuh Rio! Sudah sewajarnya dia mati!" raung Luna memberontak dari rangkulan Gio.


"Bodoh! Bukan seperti ini cara membela orang kau cintai. Sekarang Rara dan Rio bahkan belum sadar. Apa kau mau menambah buruk kenyataan, dengan membuat dirimu dipenjara! Coba pikirkan bagaimana sedihnya Rara dan Rio jika mereka bangun nanti, dan mendapat kabar bahwa kau sudah meringkuk di penjara!" balas Gio tak kalah emosional.


Luna terdiam, yang dikatakan Gio ada benarnya. Rio bahkan baru saja melewati bedah kepala, anak itu pasti sedih kalau tahu ontynya dipenjara, dan itu pasti akan menggangu pemulihannya.


"Antar aku ke rumah sakit!" pinta Luna seraya berlalu meninggalkan gudang tersebut.

__ADS_1


Dia tidak ingin berlama-lama di sini, melihat Vita akan terus membuatnya meradang, karena teringat Rio yang sedang kritis, akibat perbuatan Vita.


"Tuan, kepalanya mengalami pendarahan. Karena tadi nona Luna membenturkan kepalanya dengan keras," lapor salah seorang bodyguard kepada Sean, setelah memeriksa kondisi Vita.


"Siram dia sampai bangun!" perintah Sean.


"Iblis! Tega kau memperlakukan putriku seperti itu. Dia melakukan semua ini karena kau sudah mengkhianatinya, Rara sialan itu sudah merebutmu darinya," bentak Maya histeris.


Sean beralih pada Maya, sambil menyunggingkan senyum sarkastik. "Rara ... sialan? Kaulah dan anakmu yang sialan, karena sudah merampas begitu banyak kebahagian, lalu menggantinya dengan berbagai penderitaan untuk Rara."


Sean mengalihkan pandangan pada Dion, pria tua itu hanya diam saja. Entah karena mulai menyadari kesalahan atau mungkin karena ketakutan, entahlah. "Dan kau, Om! Semua ini masih terlalu ringan untuk pembunuh seperti kalian! Jika terjadi hal buruk pada anak dan istriku, aku akan melenyapkan kalian dengan cara yang sangat menyakitkan."


Setelah memberikan ancaman itu, Sean beralih pada Jefry asisten pribadi ayahnya.


***


Luna tetap kembali ke rumah sakit, padahal selama perjalanan tadi Gio sudah berusaha membujuknya, agar mau diantar pulang untuk beristirahat. Gio khawatir melihat Luna yang belum pernah tidur sejak perjalanan dari Paris.


"Tante, bagaimana keadaan Rio?" tanya Luna sembari duduk di samping ibu Lidya.

__ADS_1


"Kondisinya sudah membaik. Kata dokter kejadian seperti tadi itu normal, karena Rio masih dalam tahap pemulihan cedera parahnya. Tenanglah, Rio akan sembuh dan kembali bersama kita," jawab Lidya.


Lidya menatap Luna dengan intens. Dia terharu sekaligus bahagia karena menantunya memiliki teman seperti Luna. Bahkan gadis itu masih di sini, tidak peduli wajahnya yang mulai sembap dan kantung mata mulai membengkak karena kurang tidur.


"Lun, pulanglah! Kau butuh istiraharat, sepertinya kau belum tidur sejak kembali ke sini," ujar ibu Lidya.


Luna menggeleng menunjukkan sifat keras kepala, tidak peduli seberapa kuat rasa lelah dan kantuk yang kini menderanya. "Tidak, Tante. Aku masih ingin di sini. Aku ingin di samping Rio dan Rara saat mereka bangun."


Lidya menghela napasnya. "Lun, memaksa tetap berada di sisi orang yang kita sayangi, tanpa mempedulikan kondisi kita sendiri. Bukanlah cara yang benar untuk menunjukkan cinta dan kasih sayang kita. Karena mereka juga akan sedih, jika terjadi hal buruk pada kita. Jadi menyayangi diri sendiri juga termasuk bentuk dari cinta kita kepada orang yang kita sayangi. Karena jika kita tetap sehat, maka kita bisa terus bersama juga melindungi orang yang kita sayangi itu."


Luna terdiam mencerna setiap kata yang keluar dari mulut ibu Lidya.


"Bagaimana jika Rara bangun nanti, lalu mendapati dirimu yang sedang sakit, akibat memaksakan diri untuk menjaganya. Dia pasti sedih dan menyalahkan diri sendiri, karena secara tidak langsung dialah yang menjadi penyebabmu sakit. Kau tidak mau itu terjadi, kan? Maka dari itu pulanglah untuk beristirahat, demi kesehatanmu sendiri, demi Rara juga," bujuk ibu Lidya.


Luna menghela napas, semua yang nasehat dikatakan ibu Lidya memang benar.


"Baiklah, Tante. Tolong jaga Rara dan Rio, aku tidak punya siapa-siapa selain mereka," ucap Luna pilu.


Ibu Lidya tersenyum haru. Setelah Luna tak lagi terlihat oleh netra matanya, dia pun kembali ke ruang rawat untuk menemani Rara.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa Like, vote dan komen.


__ADS_2