My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
You Are My Cherry


__ADS_3

Sean merebahkan tubuhnya ke samping, mengatur napas yang masih tersengal setelah melewati percintaan mereka. Tangan Sean yang berada di pinggang Rara beranjak naik, menyisihkan helaian rambut yang menutupi wajah istrinya itu.


"Ada yang ingin kau katakan My Cherry?" tanya Sean sambil mengusap lembut wajah Rara, dia menatap istrinya itu penuh rasa.


Alih-alih menjawab, Rara malah memicingkan matanya karena sapaan itu baru pertama kali ia dengar keluar dari mulut Sean.


"Mengapa kau menatapku seperti itu?" tanya Sean.


Rara hanya menggelengkan kepala, dia tidak menjawab pertanyaan Sean. Hanya saja dalam hatinya bertanya-tanya, apa penyebabnya Sean memanggilnya seperti itu, tulus kah sapaan yang keluar dari mulutnya itu.


Tidak banyak orang yang menggunakan kata My Cherry untuk dijadikan sapaan pada pasangannya. Sapaan itu memang terdengar renyah dan biasa saja, tapi ada makna yang sangat mendalam di balik itu, 'SEORANG PELENGKAP HIDUP.' dan biasanya hanya digunakan oleh pasangan yang saling mencintai, sebagai ungkapan rasa bahagia yang teramat, karena dapat bersanding dengan kekasih pujaan hatinya.


Tidak ada yang salah jika Sean ingin memanggilnya dengan sapaan itu. Hanya saja, benarkah sapaan itu terlontar dari hati suaminya, atau hanya sekedar pujian untuk menyejukkan telinga.


Sean mengubah posisi menjadi telentang, dengan kedua tangan diletakkan di belakang kepala sebagai penyangga. "Kau tahu, My Cherry. Mengapa aku ingin memanggilmu dengan sapaan itu? Karena pernikahan kita adalah sesuatu yang tidak pernah aku inginkan, bahkan saat itu aku selalu mengutuk diriku sendiri, karena aku terjebak oleh sandiwara yang aku buat sendiri."


Rara hanya diam, mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulut Sean.


"Hal yang tidak pernah aku bayangkan adalah, adanya kesempurnaan yang menantiku di ujung pernikahan konyol itu. Sapaan itu adalah rasa sukurku atas anugrah Tuhan, karena telah memberikan pendamping hidup yang melengkapi juga menyempurnakan kehidupanku ini."


Sean menghela napas sebelum melanjutkan. "Dengan memenggilmu My Cherry, aku berharap rumah tangga kita tidak akan lekang dimakan waktu. Kita akan menua bersama, diawali dengan kehadiran anak yang lucu-lucu, lalu anak-anak itu menjadi dewasa, dan mereka akan menggantinya dengan cucu yang lucu lagi untuk menemani hari tua kita."


Sean melirik ke arah istrinya. "Kau tidak tidur, kan?"

__ADS_1


"Tidak, aku mendengarmu."


Karena tahu istrinya masih mendengarkan, Sean pun kembali melanjutkan. "Mungkin aneh bagimu, saat mendengar apa yang baru saja aku ucapkan. Ya, kau tidak akan percaya begitu saja. Karena kau cukup tahu siapa aku, aku memang bukanlah pria baik, aku pria yang sering berganti-ganti wanita. Tapi kau juga tahu, bahwa keluargaku terdiri dari orang-orang sangat setia pada keluarganya. Dan kini kau sudah masuk ke dalam keluargaku, menjadi bagian dari keluargaku, untuk itu aku pun akan setia padamu, aku berjanji."


"Terimakasih." Hanya satu kata itu yang terucap dari mulut Rara, meskipun hatinya benar-benar terenyuh mendengar pernyataan Sean. Rara merasakan ada kebahagiaan yang ikut membuncah di dalam dirinya.


"Hanya itu kata yang kau bisa kau ucapkan, My Cherry. Setelah aku mengungkapkan perasaanku dengan panjang lebar!" Sean menggelengkan kepalanya, tapi dia tidak akan mempermasalahnya, karena Sean tidak sedang ingin berdebat malam ini.


"Saat kau hamil Rio, aku turut menanggung sakitnya, bukan hanya satu atau dua hari, aku tersiksa selama tujuh bulan penuh. Tapi itu setimpal dengan aku dapatkan, aku bahagia memiliki Rio sebagai darah dagingku. Terimakasih sudah merawatnya dengan baik, sebelum aku menemukan kalian, sebelum kita memberinya keluarga yang utuh," lanjut Sean.


Rara menopang kepalanya dengan tangan, dia menatap suaminya itu dengan tatapan mengejek.


"Biasanya seorang yang mengalami couvade syndrom, memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan anaknya. Tapi anehnya kau sama sekali tidak merasakan itu," cibir Rara.


"Ck ... itu sama saja, kau tidak peka terhadap anakmu." Rara menaikkan bibir atasnya.


Sean menghela napas, entah mengapa istrinya itu suka sekali memancing untuk berdebat. Tapi tidak untuk malam ini, Sean tidak ingin memperdebatkan apa pun, dia masih ingin bercerita banyak hal kepada istirinya itu.


"Asal kau tahu My Cherry. Saat aku dinyatakan mengalami covade syndrome. Ayah langsung mengerahkan segalanya untuk mencari keberadaanmu, tapi sayangnya kami tidak memiliki petunjuk sama sekali, dan aku pun tidak bisa mengingat ciri-ciri wajahmu, karena aku cukup mabuk malam itu."


"Kau tidak bisa mengingatku bukan karena mabuk. Tapi kau ragu, wanita mana yang bersamamu malam itu. Karena kau terus berganti-ganti wanita setiap malam. Benar begitu, kan?" cecar Rara dengan nada yang mulai ketus.


Sean menghela napasnya, dia lebih memilih melanjutkan ceritanya, daripada melayani Rara berdebat. "Orang-orang suruhan ayah bahkan melakukan penggeledahan, di hotel tempat kita menginap, hanya untuk mencari kemungkinan jika ada tertinggal jejak sidik jarimu di sana. Tapi tidak menghasilkan apa-apa, karena sudah terlalu lama, ditambah pihak hotel baru saja merenovasi kamar itu."

__ADS_1


Rara memicingkan matanya. "Kalau hanya menginginkan sidik jariku, mengapa kau tidak mencarinya di uang yang aku berikan?"


"Oh ... Tuhan ...." Sean sampai menepuk dahinya sendiri. "Mengapa aku tidak kepikiran uang itu, ya?"


"Dan kau, mengapa baru mengingatkanku sekarang?"


Rara memutar mata malas. "Bodoh! Apa gunanya lagi sekarang."


Sean menggaruk kepalanya.


'Andaipun dulu aku mengingat uang itu, apa iya, aku akan membiarkan ayah dan ibu tahu, bahwa ada seorang wanita yang membayarku,' rutuk Sean dalam hati.


"Lupakan saja, My Cherry. Tidurlah, ini sudah malam, jangan sampai aku tergoda untuk membuatmu begadang malam ini." Sean tersenyum penuh maksud.


Rara melengos, dia bergidik ngeri membayangkan dirinya akan melakukannya lagi, saat ini saja tubuhnya sudah terasa remuk, buru-buru Rara menarik selimut, dia juga ingin menjaga jarak dari Sean.


Tapi Sean lebih dulu menangkapnya, lalu membenamkan kepala istrinya itu di dada bidangnya. "Aku hanya bercanda, sekarang tidurlah!"


Rara hanya terdiam, merasakan hangat dan nyaman dalam dekapan itu, diikuti rasa kantuk yang tak lagi tertahankan, dan ia pun mulai tertidur lelap.


Bersambung.


Jangan lupa like, vote, dan komen.

__ADS_1


__ADS_2