
Keesokan hari Rara mengantar Luna dan para karyawan ke bandara. Luna akan berangkat bersama belasan orang karyawan dan desainer terbaik milik paradise fashion.
Rara memang tidak main-main dalam mempersiapkan perusahaan untuk mengikuti gelaran fashion week terbesar ini. Beberapa model gaun di persiapkan secara khusus untuk parade ini, ditambah tas blue light diamond yang akan menjadi produk andalan mereka.
Tatapan optimisme memancar dari mata Rara, tapi tidak dengan Luna, dia lebih banyak diam dan terlihat tidak bersemangat, sebuah perasaan aneh masih menganjal di hatinya, membuatnya merasa berat untuk berangkat.
"Lun ...." Rara menepuk pundak Luna yang sedang termenung. "Jaga orang-orang kita selama di sana, sebagian dari mereka bahkan belum pernah ke luar negri."
"Iya ... Ra!" Luna menyahut pelan.
"Kamu kenapa lagi, ini udah mau berangkat, semangat dong. Bayangkan nama besar yang akan kamu dapatkan sepulang dari Paris nanti, nama besar untuk paradise fashion juga tentunya ...." Rara menyemangati Luna yang terlihat tidak bergairah.
Luna menghela napas berat. "Firasat burukku belum hilang, Ra. Aku merasa akan terjadi hal buruk saat aku di Paris nanti, aku merasa Vita akan melakukan sesuatu yang sangat buruk."
"Nggak akan terjadi apa-apa di sini, Lun. Aku akan baik-baik aja di sini. Sekarang jangan pikirin yang lain-lain, cukup pikirin event yang sudah di depan mata ini," ucap Rara meyakinkan Luna.
Tak lama kemudian terdengar suara dari petugas public information service yang mengumumkan agar penumpang segera memasuki pesawat.
Luna menghadap Rara, lalu memeluk sahabatnya itu. "Jaga Rio, Ra!"
"Semuanya akan baik-baik aja, Lun!" sahut Rara yakin.
Pelukan itu terlepas, Luna dan karyawan yang lain beranjak untuk memasuki pesawat. Rara pun kembali ke kantornya setelah melepas keberangkatan Luna dan karyawannya.
***
2-hari kemudian.
Vita tidak pernah putus asa untuk membalas dendam kepada Rara, meski berbagai upayanya terus menemui jalan buntu.
__ADS_1
Kali ini Vita sangat yakin rencananya akan berhasil, dia akan pergi menemui orang yang memiliki kekuasaan yang cukup kuat untuk menandingi keluarga Richard. Damar, pria itu juga memiliki kekuasaan yang tak kalah jauh dengan keluarga Richard, bahkan bisa setara.
Vita akan meminta bantuan Damar dengan dengan berbagi keuntungan. Dia tahu pria itu sempat menyukai Rara, dan jika kekuatan mereka digabungkan, kemungkinan untuk memisahkan Rara dengan Sean akan jauh lebih besar.
Di dalam ruang kerjanya, Damar sedang mempersiapkan segala susuatu untuk kepindahannya. Damar akan pindah ke luar negri, dia akan menikah di sana dengan wanita pilihan orang tuanya.
Sekretaris Damar masuk ke ruangan.
"Tuan, ada seorang wanita yang memaksa ingin bertemu Anda, dia bilang ingin membahas kerja sama," ujar sang sekretaris kepada Damar.
"Kerja sama apa?" tanya Damar, karena setahunya tidak ada proyek baru yang sedang ia bangun sekarang.
"Tidak tahu, Tuan. Tapi dia bilang ini sangat penting."
"Baiklah, suruh dia masuk!"
Vita masuk ke ruang kerja Damar. "Selamat pagi, Tuan Damar!"
Damar mengkerutkan dahinya, dia tidak mengenal wanita ini. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Belum! Apa aku boleh duduk?"
"Silahkan Nona." Damar menunjuk kursi yang ada di depan meja kerjanya.
Vita duduk di sana. "Terimakasih."
"Kerja sama apa yang ingin Anda bicarakan, Nona?"
Vita tersenyum miring, melihat aura berkuasa dalam diri Damar, membuat Vita yakin rencananya tidak akan gagal, asalkan Damar mau bekerja sama tentunya.
__ADS_1
"Tuan, saya tahu Anda menyukai Rara. Saya datang ke sini untuk memberi penawaran. Lebih tepatnya saya bisa membantu Anda untuk mendapatkan Rara." ujar Vita.
Damar menaikkan sebelah alis matanya. "Apa maksud Anda?"
"Begini, aku yakin kekuasaan Anda cukup untuk menandingi keluarga Richard, dengan kemampuan yang Anda miliki, kita bisa membuat Rara dan suaminya berpisah!"
"Jadi kedatanganmu ke sini hanya untuk menawarkan rencana busuk?" Damar mulai meninggikan suaranya saat berhasil mencerna tawaran Vita.
Vita tertawa getir. "Bukan, aku hanya mengajak bekerja sama untuk mendapatkan orang kita cintai."
Damar geleng-geleng kepala, entah wanita iblis dari mana yang menjadi lawan bicaranya kali ini.
"Mencintai bukan berarti akan melakukan cara haram, yang malah membuat orang yang kita cintai menjadi terluka, itu prinsipku. Aku tidak tertarik dengan rencana busukmu, jadi silahkan keluar dari ruanganku sekarang," usir Damar kesal.
"Bodoh! Mana ada cinta yang seperti itu!" kesal Vita.
"Pergi dari ruanganku sekarang, sebelum aku kehabisan kesabaran dan memanggil bodyguard untuk menyeretmu keluar!" geram Damar sambil nenunjuk ke arah pintu.
Vita berdecak kesal, Damar tidak sesuai harapannya, dengan langkah kesal Vita pergi meninggalkan kantor Damar.
Vita meraung kesal. Dia memukul kemudi mobilnya, tidak ada yang bisa diandalkan untuk menghancurkan Rara. Semua orang terlihat ada di pihak Rara saat ini. Vita tidak terima melihat posisi Rara di atas angin, apalagi sampai hidup bahagia.
Sean, pria itu tidak dapat dipercaya, dulu Sean berjanji pernikahannya hanya sementara. Dan akan menceraikan Rara secepat mungkin, tapi setelah menikah keadaannya malah berubah 180-derajat. Sean seakan lupa begitu saja dengan janjinya.
"Ra, hari ini. Ya, hari ini aku sendiri yang akan meleyapkanmu, dengan tanganku sendiri tanpa bantuan siapa pun." Vita terus melajukan mobilnya dengan wajah yang sudah diselimuti aura kebencian.
Bersambung.
Jangan lupa like, vote dan komen.
__ADS_1