
Sean tiba di kamarnya, dia langsung mendudukkan dirinya di sofa. Sean mulai mendownload aplikasi translator, untuk mentranslate percakapan anatara Rara dan Fernando yang direkamnya tadi.
Untung saja di sini tidak Gerry, temannya itu sedang pergi entah ke mana. Kalau tidak Sean pasti akan ditertawai habis-habisan oleh Geery karena aksi konyolnya.
Ya, Gerry memang tinggal satu kamar dengan Sean, di sini. Karena Rara tidak mengizinkannya untuk masuk ke kamar istrinya itu, mungkin lebih tepatnya belum mengizinkan. Jadi terpaksalah Sean harus berbagi kamar dengan Gerry, mereka pun memesan kamar dengan fasilitas 2-bed.
"Bajingan!" umpat Sean saat pertama mendengar Fernando menghinanya, karena dia mengaku sebagai asisten.
Sean pun lanjut mendengarkan translet selanjutnya.
"Pasangan bisnis serasi kepalamu itu," geram Sean saat mendengar percakapan selanjutnya, tapi dia tersenyum senang karena jawaban dari mulut Rara terdengar sangat tegas, dan sama sekali tidak memberikan Fernando celah.
"Berjalan beriringan agar dapat belajar mengelola usaha, ya. Atau belajar mencari kesempatan untuk mendekati istriku! Tidak, aku tidak akan membiarkanmu dekat dengan istriku, sialan. Tidak juga mebiarkanmu menjadi karyawannya, hanya untuk mencuri waktu untuk bersama istriku." Sean semakin geram.
Sean menutup aplikasi tranlator, setelah mendengarkan semua pembicaraan. Dia merasa bangga karena istrinya itu memiliki pendirian yang tidak goyah, tapi benar-benar kesal dengan sikap playboy Fernando yang mencoba merayu istrinya.
Sean tidak ingin orang seperti Fernando berdekatan dengan Rara, dia tidak ingin memberikan sedikit celah saja bagi orang untuk merusak rumah tangganya. Apalagi untuk playboy seperti Fernando, Sean tidak ingin membiarkan Fernando memiliki waktu sedikit saja, karena dapat dipastikan pria itu akan mengeluarkan semua jurusnya sebagai perayu ulung.
Setelah aplikasi translatornya tertutup, Sean mencari kontak di ponselnya, lalu langsung menelpon Sandy.
"Ada apa, Tuan?" tanya Sandy menjawab telpon Sean.
Sean menggelengkan kepala, karena saat bertelponan pun sekarang, temannya itu akan memanggilnya tuan.
"San, paksa Fernando Perez menjual 25% saham grup ritel miliknya kepada kita. Lakukan apa pun agar dia menjualnya," perintah Sean.
Di seberang sana Sandy mengkerutkan dahi mendengar perintah Sean. "BC grup, ya? Bukankah itu grup fashion yang saat ini akan diakuisisi nona Rara?"
Sean berdecak kesal karena merasa Sandy menjadi lambat tanggap.
__ADS_1
"Iya, tentu saja grup itu, kau pikir yang mana lagi," kesal Sean.
"Ok, baiklah. Tadi aku hanya merasa sedikit heran, tentang penyebabmu yang tiba-tiba ingin menjadi penjual pakaian," kekeh Sandy setengah mengejek.
"Lakukan saja, San. Kau mau kujadikan santapan buaya, ya?" geram Sean.
"Hahaha ...." Sandy tertawa keras. "Baiklah, Tuan. Aku akan mendapatkan 25% saham itu untukmu."
Sean memutuskan panggilannya, dia merasa tenang sekarang, meski sedikit kesal karena Sandy menggodanya.
***
Di kamar lainnya, Wina sudah kembali ke kamar Rara, dia sudah menyelesaikan dokumen pembelian saham perusahaan dengan Fernando. Rara memang mengutus Wina untuk menyelesaikannya, karena dia sangat malas bertemu Fernando yang terlihat genit itu.
"Nona, saya sudah mengatur jadwal untuk proses serah terima pemilik baru BC grup besok," ujar Wina.
"Apa pimpinan cabangnya dari kota lain juga sudah diberi undangan, Win?"
Rara menganggukkan kepala. "Lalu apa jadwal hari ini, Win?"
"Tidak ada, Nona. Saya hanya akan pergi ke bank untuk melakukan pelunasan transaksi."
Rara sudah mempercayakan segala urusan kepada sekretarisnya itu. Rara memang dikelilingi orang-orang yang kompeten dan loyal, sehingga dia bisa mencapai titik sekarang ini.
Sebagai seorang boss, Rara juga tidak segan memberikan bonus besar saat perusahaannya mencapai target yang ditetapkan managemen, yang membuat karyawan terus berpacu memberikan terbaik, karena merasa setiap jerih payahnya sangat dihargai.
"Nona, setelah makan siang nanti, para karyawan ingin jalan-jalan, mereka ingin melihat-lihat suasana di kota ini," ujar Wina.
Memang sekarang sudah ada belasan karyawan pilihan, yang dibawa dari jakarta ke sini. Nantinya mereka akan menggantikan para direksi BC grup yang tidak layak untuk dipekerjakan.
__ADS_1
"Ya, sudah. Tidak apa-apa, Win. Lagi pula jadwal kita masih kosong. Tapi bersikaplah untuk selalu awas, karena kita masih baru, dan belum mengenal daerah sini," pesan Rara.
"Ehmm, maksud saya bukan itu, Nona. Maksud saya apakah Nona bersedia untuk pergi bersama karyawan, sebagai bentuk perayaan dan suka cita atas keberhasilan kita mengakuisisi grup ini," jelas Wina.
Rara terdiam sejenak, sebenarnya dia akan senang jika bisa berbagi waktu santai bersama karyawannya. Tapi keberadaan Sean membuat Rara malas untuk keluar kamar, suaminya itu pasti akan mengintil, sementara Rara masih benar-benar kesal terhadapnya.
Di sisi lain Rara juga tidak enak untuk menolak ajakan karyawannya, bisa-bisa dia dianggap sudah tidak mau lagi berbaur dengan para karyawannya. Setelah sejenak memikirkan, Rara pun setuju untuk pergi keluar bersama karyawannya.
"Baiklah, Win. Kita akan pergi bersama setelah makan siang," ucap Rara.
"Waah, mereka pasti akan senang sekali mendengar kabar ini, Nona." Wina pun terlihat begitu antusias.
"Kalau begitu saya akan pergi ke bank sekarang juga, agar transaksinya bisa selesai dengan cepat, agar bisa cepat menyusul Nona dan yang lainnya," pamit Wina.
Setelah mengumpulkan dokumen yang diperlukan, Wina pun segera pamit meninggalkan kamar Rara.
Rara menghela napasnya saat membayangkan, Sean pasti tidak akan melewatkan kesempatan untuk merayu, tapi Rara merasa sedikit lega, karena ada banyak karyawan yang akan pergi bersamanya nanti, jadi Sean tidak akan bisa bertindak terlalu agresif.
Rara melirik jam di pergelangan tangannya. Ini sudah mendekati jam makan siang, dan para karyawannya pasti sudah berkumpul di restoran hotel, untuk makan siang bersama.
Rara keluar dari kamarnya, dia menghela napas dongkol karena Sean sudah menunggu di depan pintu kamar.
Rara melirik kesal. "Mau apa kau ke sini?"
"Tentu saja untuk makan siang bersama!" Sean menyeringai.
'Ck, belum juga pergi jalan-jalan, dia sudah memepetku seperti ini,'
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen.