
Sean mengeluarkan sebuket bunga dari belakangnya, lalu menyerahkannya kepada Rara.
"Aku tahu kau adalah wanita mandiri, dan bisa mendapatkan barang-barang yang kau inginkan, dengan kemampuanmu sendiri. Aku bahkan selalu bingung jika ingin memberimu hadiah, karena takut kau akan menolaknya. Aku memberimu bunga ini sebagai permintaan maaf, dan aku bersungguh-sungguh dalam hal ini." Sean berlutut di depan Rara, meniru adegan-adegan romantis.
"Kau harus belajar untuk memilih bunga!" Rara tampak kesal, dia mengabaikan Sean dan berlalu menuju restoran.
Rara merasa kesal karena Sean memberikan bunga tulip putih, yang sering dijadikan sebagai ungkapan Belasungkawa pada orang yang meninggal. Apa jangan-jangan suaminya itu menyumpahinya cepat mati, pikir Rara.
Sebenarnya Sean pun tidak salah, ada banyak orang yang memberikan tulip putih sebagai permohonan maaf. Mungkin istrinya itu terlalu sensi.
"Apa yang salah dari buket bunga ini? Inikan sebagai permintaan maaf!" Sean menggaruk kepalanya lalu menyusul Rara yang sudah lebih dulu masuk ke lift.
Rara tiba di restoran, yang ada di lantai bawah. Mereka pun lanjut makan siang bersama.
***
"Ra, aku mau bicara sebentar," ucap Gerry setelah mereka selesai makan.
"Katakan saja," sahut Rara.
"Tidak di sini, Ra. Ayo ikut aku," ajak Gerry.
Gerry pun mengajak Rara untuk bicara berdua di lobi lounge.
__ADS_1
Gerry menatap Rara sambil tersenyum tidak berdaya. "Kau masih saja keras kepala, ya. Kau tidak bisa menghukum orang karena kesalahan yang tidak dia sengaja, Ra. Apalagi kesalahan itu dia lakukan untuk melindungi orang yang dia sayang. Dalam hal ini, dirimu."
"Julie menjebak Sean yang mudah panik. Tapi kau bisa lihat sendiri 'kan, mereka tidak sampai melakukan hal menjijikkan itu. Karena kita sudah datang. Dan kau tahu bagaimana reaksi Sean saat kau pergi? Dia sangat tertekan, apalagi kau sedang mengandung. Saat itu dia hanya sedang mencoba untuk menjadi pria yang rela berkorban apa pun demi orang yang dia sayangi, meski kecerobohannya itu tidak tepat," pungkas Gerry.
Rara terdiam membisu, sebenarnya dia juga sudah memaafkan Sean. Dia juga percaya meskipun Sean dulunya player, tapi suaminya sangat setia kepada keluarganya.
"Sudahlah, Ra. Kau bisa pikirkan lagi apa yang aku sampaikan. Ayo kita pergi, karyawanmu sudah menunggu untuk berangkat." Gerry membuyarkan lamunan Rara.
***
Selesai makan siang, Rara romobongan beranjak ke Cibeles Square. Salah satu landmark yang sangat terkenal di kota Madrid.
Pengunjung akan di sambut air mancur dan patung-patung klasik, yang ditempatkan di tengah alun-alun. Ditambah istana Cybele yang menjadi daya darik utama bagi para wisatawan.
Rara berjalan sendiri di sekitar air mancur dewi Frigia, air mancur yang dibangun pada abad ke delapan belas atau sekitar tahun 1700-sekian masehi ini, masih dalam kondisi yang baik, karena begitu terawat.
Saat Rara tengah asik mengambil photo patung dewi Cybele yang ada di tengah air mancur, tiba-tiba sekelompok orang datang dan langsung menyiraminya dengan bunga. Rara sangat terkejut.
Apalagi sosok suaminya tiba-tiba datang, dan para karyawannya yang lain juga ikut mengerumuninya. Sean langsung berlutut di depan Rara, sambil membuka sebuah kotak perhiasan.
"Rara, My Cherry. Aku sudah pernah mengatakan perasaanku padamu saat kita sedang berdua, dan kali ini aku akan mengatakannya lagi, di depan semua orang yang melihat ini."
"Cintaku untukmu tumbuh tanpa aku sadari, dan semakin hari semakin besar. Kau sudah mengambil hati ini, mungkin tanpa kau sadari. Kau membuatku jatuh lalu tidak mampu berdiri dengan tenang, saat aku tahu kau tidak di sampingku. Aku tersiksa karena kesalahan yang seharusnya tidak aku lakukan. Aku melukiskan semua ini sebagai permintaan maafku, dan betapa aku tidak pernah berniat untuk mengkhianatimu."
__ADS_1
"Sebagai seorang suami, aku bahkan tidak pernah melamarmu. Tapi aku tidak berniat untuk mengganti cincin yang diberikan ibuku dengan tulus, kepada menantunya. Jadi aku ingin memberimu kalung ini sebagai pelengkap, maukah kau menerimanya, My cherry? Sebagai ungkapan cinta dan permintaan maaf." Sean mendongakkan kepala menanti detik detik berikutnya, dia tidak sabar mendengar jawaban akan keluar dari mulut Rara.
Rara menutup mulut juga menahan air matanya agar tidak menetes. Dia tidak menyangka Sean akan melakukan semua ini hanya untuk mengutarakan maaf.
Rara merasa terharu dengan perlakuan Sean, tak lama kemudian terdengar kehebohan dari orang-orang di sekelilngnya. Mereka berteriak agar Rara memaafkan Sean.
Rara menganggukkan kepalanya. "Iya, aku memaafkanmu."
Sean segera berdiri dan memasangkan kalung yang terbuat dari rantai bertabur berlian yang dibingkai emas putih. Tak hanya itu, kalung ini juga memiliki liontin dengan batu ruby burma yang dikelilingi oleh bingkai bertaburan berlian putih.
Semua orang yang melihat langsung bertepuk tangan. Sean langsung memutar tubuh Rara, dia memeluknya dengan hangat, dia tidak ingin melepaskan istrinya, dia juga tidak ingin lagi ada masalah baru dalam keluarga kecilnya.
"Maafkan aku, Ra. Aku mencintaimu," ucap Sean yang langsung menghujani wajah Rara dengan kecupan. Yang membuat wajah Rara memerah menahan malu karena dilihat orang banyak.
"Aku akan melamar dengan cara yang lebih romantis daripada ini," ujar Gerry penuh semangat.
"Aku bahkan belum menerimamu jadi temanku," sahut Wina dingin.
Bersambung.
Dear My Beloved Readers, salam hangat dari Author Reno.
Semoga kalian selalu dilindungi, dan diberi kesehatan di masa pandemi ini.
__ADS_1