
Setelah menempuh 18-jam perjalanan udara, Rara tiba di bandara MAD Spain, pukul 6-pagi waktu setempat.
Rara langsung menuju terminal kedatangan, untuk mencari taksi, yang akan membawanya dari kawasan timur laut kota Madrid itu menuju pusat kota.
"A donde va, senorita? (Anda mau ke mana, Nona?)." tanya seorang supir taksi resmi di bandara MAD.
"Por favor llevame al barcelo del hotel. (Tolong bawa saya ke hotel barcelo)," sahut Rara.
Supir taksi itu mengangguk, dia memasukkan barang-barang Rara, lalu segera berangkat menuju hotel barcelo yang terletak di tengah kota Madrid.
Sekitar setengah jam kemudian, Rara tiba di hotel tujuan. Dia langsung menuju resepsionis untuk memesan kamar.
"Quiere reservar una habitacion, Senorita?" sapa si resepsionis.
"Si, por favor ayuda" sahut Rara.
"Puedes mostrar tu pasaporte?" resepsionis tersebut meminta kartu identitas Rara.
Rara pun mengambil paspor dari tasnya, lalu menyerahkan pada si resepsionis.
Resepsionis tersebut memeriksa kartu identitas Rara sebentar, lalu mengembalikannya. "Ok, gracias, Senorita."
"Quiere reservar una habitacion estandar o presidencial?"
"Presidencial," sahut Rara.
Tidak masalah bagi Rara walaupun dia harus membayar biaya tambahan, yang hampir 100-persen untuk biaya early check innya, daripada dia harus menunggu di lobi lounge, sampai jam check in yang sesudah tengah hari. Apalagi Rara memang chek-in mendadak karena dia mempercepat keberangkatannya.
Dan di sinilah Rara sekarang berada, di sebuah kamar presidential suite, di hotel berbintang lima yang terletak di pusat kota Madrid, dengan segala fasilitasnya yang berkelas.
__ADS_1
Selain Alasan kenyamanan, Rara memilih hotel ini karena faktor bisnis. Hotel ini juga menyediakan ruang rapat yang bagi tamunya, jadi Rara tidak perlu mencari tempat pertemuan lagi, saat dia akan membahas proses akuisisi dengan pemilik best commercial grup nanti.
Setelah selesai mandi dan beristirahat sebentar, Rara memutuskan untuk pergi ke sky lounge yang ada di lantai paling atas hotel. Menikmati keindahan Ibukota Spanyol itu dari dari ketinggian, sambil menikmati minuman dan kue khas negri matador, rasanya dapat sedikit mengusir rasa sakit, dan kegundahan yang meliputi hatinya.
Dari atas sini Rara juga bisa mencuci mata, dengan memandangi keunikan gedung plaza castilla, yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari hotel ini. Plaza castilla adalah sebuah bangunan modern yang kembar identik. dibangun saling berhadapan dengan posisi yang miring. dapat dibayangkan betapa susahnya sang arsitek ketika merancang pembangunan gedung Tersebut.
Bosan berada di sky lounge. Rara tertarik untuk menikmati fasilitas sauna yang ada di hotel ini, untuk sekedar berelaksasi dan menghilangkan stres.
Tapi Rara mengurungkan niatnya karena menikmati sauna seorang diri tidak terlalu menyenangkan. Rara pun memutuskan untuk menikmati sauna setelah Wina menyusul nanti. Harusnya paling lambat sekretarisnya itu akan tiba malam ini.
Pada akhirnya Rara kembali ke kamar untuk beristirahat.
***
Apartemen Gerry.
Apalagi keluarganya seolah tidak mau memberi tahu keberadaan Rara, sekeras apa pun Sean mendesak ayahnya, Brian tetap mengatakan tidak tahu. Padahal Sean yakin betul ayahnya tahu di mana keberadaan Rara, apa yang tidak diketahui Brian Richard.
"Minumlah!" Gerry meletakkan sebotol tequila anejo bersama 2-gelas sloki.
"Hanya satu botol untuk menghangatkan suasana, bukan minum sampai mabuk," imbuh Gerry.
Sean hanya mendecakkan lidahnya, entah sejak kapan temannya itu memiliki sifat pelit. Tapi yang jelas saat ini Gerry terus melarang, saat Sean hendak membuka rak koleksi minuman miliknya.
Sean mengisi slokinya, lalu meneguk isinya hingga tandas. Sean kini memijit pelipisnya karena pusing mengkhawatirkan Rara.
"Kemana lagi aku harus mencari Rara, Ger. Aku sudah benar-benar frustasi," keluh Sean.
"Apa jangan-jangan dia pulang ke kampung," terka Gerry.
__ADS_1
Sean menggelengkan kepala. "Tidak mungkin Rara pulang ke Manado, dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi di sana."
"Apa Rara mempunyai pekerjaan penting dalam waktu dekat ini. Bisa saja kan, dia melampiaskan sakitnya dengan fokus bekerja," ucap Gerry.
"Ah, iya!" Sean baru teringat bahwa Rara akan pergi ke Spanyol untuk akuisisi sebuah grup ritel, bahkan malam sebelum datangnya badai yang menghantam rumah tangga mereka, Sean dan Rara sudah sepakat untuk pergi bersama.
"Istriku pasti sedang di Madrid saat ini!" seru Sean yang seolah baru kembali mendapat semangat hidup. "Malam sebelum Julie menemuiku, kami sudah membahas keberangkatan!"
Gerry mendecakkan bibirnya. "Kau masih bodoh saja, Sean. Kalau kau bilang dari pagi, kita tidak akan capek-capek seharian mencari Rara di sini."
Sean tidak menghiraukan keluhan Gerry, dia langsung turun dari bar stoolnya.
"Ayo kita berangkat, Ger. Temani aku!" ajak Sean.
Gerry menggelengkan kepalanya. "Mana bisa aku ikut, Sean. Aku pulang ke sini untuk menghadiri reuni teman kuliah kita, acaranya tinggal 2-hari lagi," tolak Gerry.
Sean menghela napasnya. Dia menatap Gerry dengan maksud memohon.
"Ayolah, Ger. Tolong bantu aku menjelaskan pada Rara, agar dia percaya padaku nanti. Rara mempercayaimu karena kau teman baiknya," pinta Sean.
"Ck, dasar menyusahkan. Tapi okelah, aku akan bantu. Hitung-hitung aku bisa mendekati Rara, jika dia tidak mau memaafkanmu," goda Gerry.
Sean langsung menghunuskan tatapan membunuh. "Kau mau aku kubur hidup-hidup, ya!"
2-pria yang sudah sepakat itu pun langsung bergegas bersiap-siap. Mereka akan melakukan perjalan ke Madrid untuk mencari Rara.
Bersambung.
Jangan lupa like, vote, dan komen.
__ADS_1