
5-hari kemudian.
"Cepatlah sadar, Ra. Para karyawan sudah pulang, apa kamu nggak senang dengan apa yang mereka dapatkan di Paris? Apa kamu nggak mau melihat hasil kerja keras kita, Ra?" lirih Luna di samping brankar Rara.
Para karyawan paradise fashion yang pergi ke Paris sudah pulang, mereka mendulang sukses besar di event fashion week tersebut. Dengan membawa pulang sebagian besar penghargaan, mulai dari the best dress collection, the most favorit mens wear, hingga yang paling membanggakan adalah nama perusahaan mereka yang memenangkan gelar brand terpavorit secara keseluruhan.
Apa yang didapat Luna secara individu pun sangat membanggakan, meski tanpa kehadirannya, dia tetap berhak menerima penghargaan sebagai desainer terbaik, diikuti tas hasil karyanya yang membawa pulang penghargaan the most amazing accessories.
Namun, semua yang dicapainya ini terasa hampa, tidak ada gairah dan suka cita atas kesuksesan ini. Bahkan Luna meminta para karyawannya untuk meniadakan perayaan atas keberhasilan ini, sampai Rara terbangun.
Luna menghela napasnya sambil terisak pilu. "Baiklah, nggak apa-apa kalau kamu nggak peduli sama masalah perusahaan. Tapi tolong bangun demi Rio, Ra. Dia butuh mamanya, butuh kasih sayang kamu! Bagaimana nasib Rio kalau kamu nggak mau bangun."
Luna menoleh ke arah belakang, saat mendengar derap langkah mendekat, Sean memasuki Ruangan tersebut.
"Siapa yang menjaga Rio?" tanya Luna.
"Ada ibu di sana," jawab Sean lesu.
Luna berdiri dari tempat duduknya. "Temani Rara, aku ingin ke ruangan Rio."
Sean menganggukkan kepala, Luna melangkah keluar dan langsung menuju ruang ICU, tempat Rio dirawat.
Kroniotomi merupakan bedah medis dengan prosedur yang rumit dengan risiko tinggi. Bedah kepala ini membutuhkan banyak pemeriksaan lanjutan dan penanganan yang baik. Keluarga Richard terus menyiagakan dokter spesialis dengan keahlian khusus, untuk memantau dan memberikan perawatan bedah kepala lanjutan, demi memastikan Rio mendapat penanganan yang tepat.
__ADS_1
Dokter terus meninjau hasil pasca pembedahan, termasuk menjalankan semua prosedur dengan cermat, agar dapat menghindari kemungkinan munculnya komplikasi.
Proses pemulihan Rio terus menunjukkan progres yang positif. Dokter bahkan sudah melepas selang ventilator yang beberapa hari ini menjadi alat pembantu pernapasan Rio.
Keluarga pun sudah diperbolehkan untuk menemaninya di ruang ICU, Luna kini sedang duduk di samping brankar, dia terus menemani Rara dan Rio secara bergantian.
Mata Rio mulai mengerjap perlahan, dia melirik Luna dengan pandangan yang masih kabur.
"Onty ...," lirih Rio pelan.
Luna begitu sumringah mendengar suara Rio, Sejenak dia terdiam dengan tatapan berbinar- binar, dia tidak menyangka Rio akan sadar secepat ini, Luna langsung mencium kening Rio dengan perasaan bahagia yang membuncah.
"Kau sudah bangun sayang! Sukurlah, terimakasih Tuhan, atas keajaibanmu ini," ucap Luna sambil mengusap wajah Rio dengan penuh kasih sayang.
"Sayang, ada apa?" tanya Brian cemas melihat langkah terburu-buru istrinya. Brian takut kalau-kalau kondisi cucunya kembali kritis.
"Rio sudah bangun," sahut Lidya seraya terus melangkah cepat.
Brian tidak dapat menyembunyikan kebahagiannya, dia segera masuk ke ruang ICU untuk melihat Rio secara langsung.
Dokter Alya tiba di ruangan, dia langsung memeriksa kondisi Rio, Luna yang diminta sedikit menjauh tidak bisa melepaskan pandangan dari keponakannya.
"Bagaimana, Al?" tanya Lidya setelah dokter Alya selesai melakukan pemeriksaan.
__ADS_1
Dokter Alya tersenyum yang mengisyaratkan pertanda baik.
"Kondisinya sudah sangat membaik, pemulihannya cukup cepat, semua ini terbantu karena Rio masih dalam usia pertumbuhan. Tapi tolong jangan terlalu mengusiknya, dia masih lemah. Jangan biarkan dia merasa tertekan oleh pikiran apapun, orang yang baru menjalani bedah kepala tidak boleh tertekan pikiran, karena itu bisa mengganggu proses pemulihannya," pesan dokter Alya.
"Terimakasih, Dokter," ujar Luna lalu kembali duduk di samping brankar Rio.
Rio masih belum bisa banyak bergerak, apalagi luka luar di beberapa bagian tubuhnya belum sembuh betul, mata Rio kini memperhatikan satu-persatu orang yang berada di ruangan tersebut, dia mencari keberadaan mamanya.
"Mama ...," lirih Rio, dia kembali teringat potongan adegan saat mamanya hampir tertabrak mobil.
"Mama di mana, Onty. Kenapa mama tidak ada di sini," isak Rio.
"Mama sedang bekerja, Sayang. Sebentar lagi mama pasti datang," bohong Luna dengan berurai airmata.
Luna tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan Rio, jika tahu keadaan Rara yang sebenarnya. Apalagi dokter baru saja mengatakan bahwa Rio tidak boleh tertekan pikiran untuk saat ini.
"Mama ... Rio mau mama!" rintih Rio, dia mulai meringis akibat kepalanya terasa sakit, karena bayang-bayang Rara pada saat kecelakaan terus membayanginya.
"Dokter tolong!" seru Luna panik, melihat Rio yang kesakitan.
"Mama ada di sini, Sayang!" Rara masuk ke ruang ICU dengan dipapah oleh Sean, membuat setiap pasang mata yang ada di sana menoleh dengan perasaan bahagia.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen.