My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Video Itu Memang Asli


__ADS_3

Sean masih tertengun di ruang kerja Rara, dia tidak menyangka masalahnya akan jadi seperti ini. Bukan karena dia tidak percaya pada Rara, tapi niatnya hanya sekedar untuk memastikan kebenaran dari mulut Rara sendiri.


"Ah, bodoh sekali, seharusnya tadi aku lebih mengontrol emosi dan bertanya lebih pelan. Bukan malah ikut emosi seperti dia," rutuk Sean pada diri sendiri.


Sejurus kemudian pintu ruangan terbuka, tampak Luna masuk lalu menghampirinya.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?" tanya Luna.


Sean menghela napasnya. "Aku hanya bertanya baik-baik padanya, tapi entah kenapa emosinya langsung tersulut. Itu membuatku ikut terbawa emosi juga, dan akhirnya kami bertengkar ...."


Luna menggelengkan kepala, sebuah decakan pun lolos begitu saja dari mulutnya. "Harusnya kau sadar emosi ibu hamil itu tidak stabil, Sean. Harusnya kau tidak meladeni marahnya Rara dengan emosi juga."


"Sudahlah, sana pergi tenangkan dirimu! Rara tidak akan kenapa-kenapa, biasanya saat suasana hatinya sedang memburuk, dia akan menyendiri mencari ketenangan. Saat ini dia pasti pulang ke apartemen, karena ada bi Eni di sana yang bisa menenangkannya," ujar Luna.


"Baiklah, aku pergi dulu," pamit Sean dengan nada lemas, lalu beranjak dari ruangan tersebut.


Sean pergi meninggalkan kantor paradise fashion, tujuannya adalah apartemen Gerry. Dia ingin menenangkan diri di sana, sekalian bercerita antar sesama pria dengan temannya itu.


***


"Hai, Bro! Tumben sekali kau datang siang bolong seperti ini! Dan wajahmu itu, apa kau sedang ada masalah dengan Rara?" tanya Gerry yang disambut wajah masam Sean ketika dia membukakan pintu.


"Apa kau tidak ingin membiarkanku masuk?"


"Terlalu sensi!" cibir Gerry, lalu mempersilahkan Sean masuk, dia membawa Sean ke mini bar miliknya.


"Kau mau minum apa?" tanya Gerry. sambil membuka rak kaca yang berisi berbagai koleksi minuman miliknya.

__ADS_1


"Anejo saja," sahut Sean lalu mendudukkan dirinya bar stool.


Gerry meletak 2-gelas seloki lalu mengisinya dengan tequila. Gerry mengangkat gelasnya mengajak bersulang sebelum meneguk isi selokinya hingga tandas.


"Apa masalahmu?" tanya Gerry.


Sean kembali mengisi selokinya, lalu meminum isinya hingga habis sebelum menjawab. "Julie meperlihatkan padaku rekaman video saat perayaan kelulusan SMAnya, lalu ...."


"Lalu kau lebih percaya dengan apa yang diperlihatkan Julie?" tanya Gerry memotong ucapan Sean.


"Tidak, tentu saja aku lebih percaya istriku daripada Julie sialan itu. Aku langsung datang menemui istriku untuk mendengarkan penjelasan langsung darinya. Tapi aku yang sudah setengah emosi menjadi ikut tersulut, karena istriku menyolot atas pertanyaanku. Aku kelepasan mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya aku ucapkan, hingga istriku benar-benar marah, mungkin bercampur kecewa padaku. Tapi maksudku bukan untuk tidak mempercayainya, Ger. Aku hanya ingin mendengar penjelasan langsung darinya," keluh Sean.


"Astaga ...Sean! Harusnya kau tidak tersulut saat istrimu itu emosi. Kau tahu wanita itu adalah mahkluk yang sangat sensitif, bisa kau bayangkan berapa kali lipat sensitifnya wanita itu saat ia sedang hamil? Oh, Tuhan. Kau seperti memasang jerat ke lehermu sendiri Sean, dengan memancing kemarahan makhluk yang sudah sensitif sejak lahir itu." Gerry menggelengkan kepalanya.


"Saat itu pikiranku juga sudah kacau, Ger. Aku seperti merasa ditipu karena yang aku tahu Rara masih gadis saat pertama kali kami bersama. Lalu setelah melihat video itu aku sedikit merasa kecewa, meski sebenarnya aku tidak akan mempermasalahkan itu, Ger. Hanya saja aku menjadi kehilangan kontrol saat istriku malah duluan marah ...." Sean mendesah berat.


"Hatiku pun tidak menyangkalnya, Ger. Tapi julie menantangku untuk membuktikan keaslian video yang diperlihatkannya," aku Sean.


Gerry melepaskan napas berat. "Video itu memang asli Sean, Julie sendiri yang merekamnya. Saat masih SMA, Rara tidak memiliki banyak teman, dia hanya berteman dengan orang-orang dipercayainya saja, Julie adalah salah satunya. Sebagian anak laki-laki di sekolah kami menganggapnya gadis yang angkuh, padahal sebenarnya tidak begitu."


"Kemudian para teman laki-laki kami mempengaruhi Julie, untuk menjebaknya pada saat perayaan kelulusan. Mereka mencekoki Rara dengan minuman dan obat perangsang. Saat itu aku datang terlambat dan nyaris telat, kalau saja aku datang setengah jam lebih lambat, Rara pasti sudah dihabisi oleh para pria bajingan itu." Gerry menghela napasnya sebelum melanjutkan.


"Mungkin memang belum saatnya Rara bernasib na'as, sampai akhirnya dia harus bertemu denganmu," imbuh Gerry dengan nada mencibir.


"Tapi di video itu pestanya tetap berlanjut, Ger," bantah Sean, dia tidak henti menuangkan tequila ke dalam slokinya.


"Ya, pestanya memang berlanjut. Julie pasti memotong rekaman itu. Bukankah di akhir rekamannya video itu menjadi gelap? Mereka mematikan lampu, dan Julie sendirilah yang di gilir oleh teman-temannya. Mana mungkin mereka bisa bertahan dari obat perangsang yang mereka minum sendiri."

__ADS_1


Sean berdiri lalu mendekat ke arah rak minuman karena botol yang ada di hadapannya sudah kosong, tapi Gerry dengan cepat menghalanginya.


"No ... tidak lagi Sean. Kita minum hanya untuk menghangatkan obrolan, bukan minum sampai mabuk," cegah Gerry.


"Cih ... kau ini pelit sekali!" gerutu Sean kesal lalu kembali duduk di bar stoolnya.


Gerry terkekeh sambil mengikuti Sean ke meja bar. "Ini bukan pelit, Bro. Kau sedang dalam masalah, lalu ingin mabuk! Ah, itu bisa memperburuk keadaanmu kawan."


Sean hanya bisa menghela napas kesal. "Lanjutkan ceritamu tadi, kau bilang Rara dicekoki obat perangsang, lalu ke mana kau membawanya?"


"Aku mengantarnya pulang," jawab Gerry dengan enteng.


Sean mengernyitkan dahi. "Bagaimana bisa mengantar pulang wanita yang sedang dalam pengaruh obat perangsang? Dia pasti terus menggeliat seperti cacing kepanasan."


Gerry tersenyum sejenak mengingat kejadian itu. Itu adalah kesempatan terbesarnya untuk mendapatkan Rara, di mana Rara terus bergerak liar dengan tatapan mendamba, memohon agar Gerry mau melakukannya.


Gerry memang menginginkan Rara, tapi dia tidak ingin melalakukan itu dengan kondisi Rara yang dipengaruhi obat. Dengan sekuat hati Gerry menahan hasratnya sendiri, karena Rara yang terus bergerak erotis. Gerry yakin lama-kelamaan bendungan akan pecah, jika membiarkan Rara terus menggodanya, hingga pada akhirnya Gerry memutuskan untuk membuat Rara tidak sadarkan diri, lalu mengantar Rara pulang.


"Aku memukul tengkuknya hingga pingsan," jawab Gerry. Karena hanya itulah satu-satunya cara, agar dia bisa lepas dari godaan Rara yang sedang dalam pengaruh obat perangsang.


"Arrgghh ... sial!" Sean langsung mengumpat kasar saat membuka pesan masuk di layar ponselnya.


"Ada apa Sean?" tanya Gerry.


Karena Sean belum menjawab, Gerry pun memutuskan untuk bertanya kepada para pembaca, berharap para mommy dan kakak cantik di sini memberikan like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya untuk mendukung karya ini.🤭🤭😁


Terimakasih.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2