My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Hati Dan Pikiran Yang Berlawanan


__ADS_3

"Tidak, aku tidak sedang cemburu! Mana mungkin aku cemburu kepada wanita itu, aku tidak peduli padanya. Ya ... aku tidak akan peduli!" gumam Sean mencoba melawan perasaan aneh yang mulai menyelimutinya.


Sean berusaha keras untuk melawan pemikiran yang berkemuk di dalam kepalanya. Namun, sayang! Ia tidak berhasil untuk menipu perasaannya, hatinya terasa panas. Bahkan tanpa bisa dicegah oleh pikiriannya, Sean sudah melangkah mendekati Rara dan Gio.


"Kau sudah selesai bicara dengan istriku?"


'Istri? Ah ... apa yang baru saja aku katakan, jangan-jangan aku sudah gila!' batin Sean merutuki ucapan yang baru saja keluar dari tenggorokannya.


Ya, bahkan dengan menyebut Rara sebagai istri, Sean merasa ada getaran aneh di dalam hatinya. Tapi Sean belum tahu, apa itu.


"Ikut denganku! Kita harus menemui para tamu!" Sean langsung menarik tangan Rara.


"Hey ... aku belum selesai bicara dengan kakak ipar!" seru Gio sambil menatap punggung pasangan pengantin itu.


"Kami harus menemui tamu, apa kau tidak lihat istriku sudah kelelahan, dan kami ingin segera beristirat!" balas Sean tanpa menoleh ke belakang.


Rara hanya menahan diri untuk tidak memberontak karena Sean terus menariknya. Bagaimanapun ia harus menjaga sikap, agar tidak mempermalukan diri sendiri, di mata tamu yang menghadiri resepsi mereka.

__ADS_1


"Kau mau membawaku ke mana?" kesal Rara setengah berbisik di telinga Sean.


"Tentu saja bertemu tamu-tamu penting ayahku, aku sudah muak berlama-lama di resepsi sialan ini, aku ingin istirahat secepatnya!" sahut Sean.


"Apa kau tidak bisa berjalan lebih pelan? Lihatlah para tamu sedang menatap aneh kepada kita!" sungut Rara.


Mata para tamu memang sedang tertuju kepada mereka, bahkan sebagian ada yang berbisik-bisik membicarakan mereka. Karena Sean menarik Rara dengan langkah tergesa-gesa, yang sampai membuat pengantin wanitanya harus menyingkap bagian bawah gaunnya, agar tidak tersandung.


Sean melirik ke arah para tamu, yang sedang bergunjing, entah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi dari mimik wajahnya jelas terlihat, bahwa para tamu itu sedang mengunjing cara Sean menarik istrinya, yang tidak menunjukkan sikap mesra pasangan pengantin baru.


Sean pun melepaskan cengkeramannya di tangan Rara, ia baru tersadar akan sikapnya. Tapi sudah terlanjur, ia terbakar api cemburu saat melihat Rara mengobrol dengan sepupunya tadi, rasa yang dengan tegas dibantah pikiran, tapi tak mampu dibantah oleh batinnya. Bahkan obrolan singkat itu seperti membuat Sean kehilangan kendali atas dirinya.


Di luar hotel.


'Ini baru permulaan Tuan! Masih banyak yang harus kau pertanggung jawabkan setelah ini,' gumam Jefry sambil tersenyum dingin.


Jefry memang sedang menjalankan tugas untuk mengusut kasus meninggalnya Maira, karena ada banyak kejanggalan di sana. Tapi ia sendiri belum berhasil mengumpulkan seluruh bukti-buktinya, dalam artian ia masih membutuh waktu untuk mendapat bukti yang lebih lengkap. Karena ia baru mulai menyelidikinya bertahun-tahun setelah kejadian, ditambah Dion juga sangat rapi dalam menyembunyikan kasus ini.

__ADS_1


Setelah memberikan sedikit pelajaran kepada Dion, anak buah jefry langsung menyeretnya menuju parkiran.


"Lepaskan aku, kacung sialan! Apa kalian pikir pesuruh randahan seperti kalian pantas memperlakukanku seperti ini." Dion memberontak dari cengkeraman anak buah Jefry yang sedang menyeretnya.


Jefry tersenyum miring dengan raut wajah dingin. "Tuan Dion! Anda belum mengenalku, jadi jangan memaksaku bertindak lebih! Aku bisa saja membuat hidupmu lebih sengsara dari pada ini."


Anak buah Jefry melepaskan Dion saat mereka tiba di samping mobilnya.


"Pergilah Tuan! Bawa anak buahmu dari sini. Keluarga Richard bukanlah sesuatu yang bisa kau sentuh, jadi aku ingatkan padamu sekali lagi, jangan pernah mengusik keluarga Richard! Atau aku akan membuatmu menyesal seumur hidup," ancam Jefry nada dingin sambil menatap Dion dengan sorot mata membunuhnya.


Dion berdecih, ia masuk ke dalam mobil, diikuti anak buahnya yang sudah babak belur. Mobil Dion dan pengawalnya langsung tancap gas meninggalkan parkiran hotel.


Dion tiba di apartemen anaknya, ia keluar dari mobil dengan dipapah oleh anak buahnya. Hukuman yang diberikan Jefry tadi, cukup untuk membuat Dion, kesusahan untuk berjalan sendiri.


"Apa yang terjadi padamu?" Maya terlonjak kaget saat membukakan pintu apartemen, karena keadaan suaminya itu cukup mengenaskan.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, vote dan komen.


__ADS_2