
"Win, lakukan tes DNA sampel ini, usahakan secepat mungkin, dan pastikan pengawal pilihanmu itu menjaganya dengan baik," perintah Rara sambil memberikan sampel rambut milik Sean.
"Baik, Nona. Saya akan melakukannya dengan baik." Wina mengambil sampel yang diberikan Rara, lalu pamit undur diri.
"Tes DNA buat siapa, Ra?" tanya Luna heran.
"Sean!"
"Sean ...." Luna mengulang jawaban Rara.
"Ya ... aku curiga Sean adalah pria yang bersamaku malam itu, memang ini hanya firasat saja. Hal lain yang membuatku curiga adalah semua perlakuan keluarga Richard kepadaku dan Rio. Selama ini kita beranggapan kebaikan mereka karena ibu Lidya berteman dengan mama. Tapi menurutku, ini terlihat berlebihan Lun, pasti ada faktor kuat lainnya, maka dari itu aku ingin memastikan kecurigaanku," jelas Rara.
Sebenarnya ada sebab lain yang membuat Rara merasa Sean adalah ayah dari anaknya. Apalagi jika bukan sentuhan erotis, yang membuat Rara seolah kembali ke masa dulu, disaat ia dengan bodohnya memberikan kehormatan pada pria asing, bahkan ia membayar untuk itu.
Semalam Rara kembali merasakan sentuhan itu, sentuhan yang membuatnya mabuk kepayang, terbuai dalam sensasi tiada batas.
Dan sialnya Rara malah tersenyum sendiri mengingat kejadian semalam, yang membuat Luna menatap curiga padanya.
"Kamu kenapa Ra! Pasti kalian sudah ...," goda Luna tersenyum geli, ia sambil membuat gerakan tangan yang menyiratkan orang yang sedang berciuman.
"Sialan!" Rara melotot kesal, karena Luna dapat menebak isi pikirannya.
***
3-hari sudah berlalu sejak terakhir kali Vita berhubungan dengan Rian, sampai saat ini Rian belum memberinya kabar apa-apa, sementara Vita sudah gelisah menunggu kabar selanjutnya.
Karena sudah tidak sabar, akhirnya Vita berniat untuk menghubungi Rian, tanpa mengulur waktu ia pun mendial nomor Rian.
"Sial! Mengapa tidak bisa dihubungi," geram Vita lalu membuang ponselnya.
Vita berpikir keras untuk menimbang-nimbang, tindakan apa yang akan ia lakukan selanjutnya, sampai akhirnya ia memutuskan untuk mencari Rian.
Vita membawa beberapa orang pengawal tuan Dion bersamanya, ia langsung menuju rumah Rian.
Vita semakin kesal saat tiba di rumah Rian, pria yang dicarinya itu sudah tidak lagi berada di sana. yang membuat Vita semakin geram, rumah tersebut sudah berganti pemilik, Rian sudah menjual rumahnya.
Saat ini pikiran Vita kacau bercampur emosi, ia pun pergi meninggalkan rumah Rian.
__ADS_1
"Bajingan! Beraninya dia menipuku, setelah aku membebaskan semua asetnya," raung Vita sambil memukul keras kemudi mobilnya.
"Baiklah, walau tidak ada yang membantuku, aku akan menghancurkanmu dengan tanganku sendiri Ra," geram Vita sambil terus memacu mobilnya menuju kantor Sean.
Sepanjang jalan menuju kantor Sean, Vita terus mengumpat menyumpahi Rara.
Sementara itu Rara yang menjadi bahan umpatan Vita, kini sedang dalam perjalanan pulang ke mansionnya, hasil tes DNA yang dilakukan Wina sudah keluar, dan hasilnya memang seperti yang Rara pikirkan.
Rara tidak tahu harus senang atau sedih dengan hasil ini, keluarga Sean mengetahui siapa anaknya. Sedangkan yang Rara lihat, Sean sama sekali tidak merasakan feeling apapun terhadap Rio. Entah karena pria itu terlalu bodoh, atau tidak peka, entahlah.
Rara tiba di mansionnya, ia mendapati Rio sedang bermain bersama ayah mertuanya, ditemani seorang nanny.
Rara menghampiri mereka, melihat kedatangan mamanya, Rio langsung berlari ke arah Rara.
Rara berjongkok menyambut putranya dengan pelukan, Rara memberikan kecupan di puncak kepala putranya.
"Kau ... Mario Richard," gumam Rara pelan.
Rio melepaskan pelukan dari mamanya, lalu kembali mengajak nannynya bermain.
"Ada di mansion belakang, pergilah temui dia," sahut Brian.
Rara berpamitan, lalu menuju mansion belakang untuk menemui ibu mertuanya. Rara mengkerutkan dahi, karena melihat ibu mertuanya itu sedang berkutat dengan masakan, tentu saja sesuatu yang aneh, jika melihat banyaknya jumlah pelayan yang ada di mansion ini.
"Bu ...," sapa Rara pelan.
Lidya menoleh, ia memerintahkan pelayan untuk melanjutkan pekerjaannya, lalu menghampiri Rara.
"Ada apa, Nak?" tanya Lidya lembut, lalu mengajak Rara untuk duduk.
"Ada yang ingin aku tanyakan, Bu."
Lidya tersenyum, ia tahu menantunya ini pasti akan menanyakan tentang Sean, makanya Lidya menghentikan pekerjaannya, agar mereka lebih memilki banyak waktu untuk bercerita.
"Tanyakan saja. Apa itu tentang suamimu?" Lidya menatap teduh menantunya.
Rara menganggukkan kepala. "Iya, apa yang sebenarnya Ibu sembunyikan dariku?"
__ADS_1
Lidya menghela napasnya. "Tidak ada lagi rahasia yang ibu sembunyikan Nak! Karena kau sudah mengetahui semuanya dengan sendiri."
"Ibu sudah tahu apa yang aku bahas?" tanya Rara tidak percaya.
"Ayahmu memang sudah pensiun, Nak. Dia ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama ibu dan keluarga tentunya, tapi ayahmu masih memiliki kaki tangan yang bisa diandalkan di luar sana," ujar Lidya.
Rara tersenyum tipis, ia merasa bodoh karena berpikir keluarga ini tidak tahu apa yang ia lakukan di luar sana.
'Sudah pasti, ada orang ayah yang mengikutiku, dan ini juga yang menyebabkan Rian tidak muncul lagi, benar yang dikatakan Luna, Rian pasti memiliki niat tidak baik. Dan ayah mengetahui niatnya itu,' gumam Rara dalam hati.
Rara tidak mau mempermasalahkan orang suruhan mertuanya, karena itu malah membuat dirinya merasa aman
"Lalu apa alasan Ibu merahasiakan tentang Rio dariku dan juga Sean?" tanya Rara.
"Untukmu, karena kau keras kepala!" jawab Lidya.
Rara tersenyum kecut mendengar jawaban yang memojokkan, tapi tidak bisa ia tampik kebenarannya.
"Dan dua alasan untuk Sean. Pertama, karena suami itu licik! Ditambah dia sedang tergila-gila dengan Vita, coba ingat saat Sean mengancam ingin menghancurkanmu, lalu siangnya dia kembali ke kantormu, dengan mengatakan dia tidak jadi melakukannya karena berbaik hati, apa kau percaya itu?"
Rara mengkerutkan dahinya.
"Dia bukan berubah pikiran, tapi dia tidak mampu melakukannya, karena ayahmu sudah mencegah tindakan yang akan dia lakukan. Kami merahasiakannya karena tidak ingin dia berpura-pura menyukaimu dan Rio, meski kita tidak tahu apa dia akan menerimamu, atau tetap mengejar Vita. Dan alasan kedua, kami sengaja ingin membiarkan Sean tetap berhubungan Vita, agar mempermudah penyelidikan tentang kematian Maira, bukankah mamamu itu tidak memiliki riwayat serangan jantung!" lanjut Lidya.
Mata Rara berkaca-kaca mendengar ucapan mertuanya, ia tidak menyangka keluarga ini sampai ingin membantu mengusut kasus kematian mamanya. Rara merasa lega saat ini, karena dia tidak sendiri dalam hal ini.
Rara memang sudah tahu kejanggalan dari kematian mamanya, Rara masih diam karena ia merasa belum kuat melawan kekuasaan yang di miliki papanya. Tapi sekarang Rara yakin semuanya akan lebih mudah.
"Terima kasih, Bu!" lirih Rara lalu memeluk ibu mertuanya itu.
Cukup lama Rara membenamkan diri dalam pelukan mertuanya, ia merasa tenang dan aman di sana, Rara dapat merasakan kehangatan dan kasih sayang seorang ibu dalam pelukan Lidya.
Lidya melepaskan pelukan Rara, ia menjauhkan Rara sepanjang tangan, sambil menatap teduh kepada menantunya itu. "Ada satu rahasia besar yang belum kau ketahui, Nak!"
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan like, vote dan komen.
__ADS_1