My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Lagi?


__ADS_3

Mata Rara mulai mengerjap saat hari sudah pagi, dia melirik ke samping dan mendapati Sean masih terlelap sambil mendekapnya dengan posesif.


Perlahan Rara mengalihkan tangan Sean yang melingkar di pinggangnya, Rara menatap penuh rasa pada Sean yang masih nyaman di alam mimpinya. Rara menggigit pelan bibir sendiri, tangan ragu-ragu Rara akhirnya berani menyentuh wajah Sean.


Sudah menjadi suatu kebiasaan bagi Rara memandangi wajah Sean yang sedang tidur, karena saat tidur suaminya itu terlihat jauh lebih menyenangkan. Berbeda sekali pada saat mereka sedang berdebat, suaminya itu akan terlihat sangat menyebalkan dan tidak enaknya untuk dipandang.


"Sean ... tulus kah, kata-kata yang kau ucapkan tadi malam itu? Jika memang seperti itu, aku pastikan aku pun akan selalu di sini, untukmu, untuk Rio, untuk kita," gumam Rara pelan.


Memandangi Sean yang tertidur, seperti tidak ada puasnya bagi Rara, membuatnya menjadi enggan untuk turun dari tempat tidur. Rara kembali merebahkan dirinya, lalu mendekap Sean penuh rasa.


'Asal kau tahu Sean, pernyataan demi pernyataan yang kau ucapkan tadi malam itu benar-benar membuatku melayang, dan membuatku sangat bahagia. Aku bahkan merasa ada ribuan kupu-kupu yang menari di perutku saat itu, yang seolah mengajakku terbang bersama meraka, saking bahagianya. Dan pangilan itu, oh ... Tuhan, kau memanggilku My Cherry. Benarkah seindah itu aku di hatimu?'


Rara melirik jam sudah menunjukkan pukul 7-pagi, dengan enggan dia turun dari tempat tidur, lalu melangkah pelan menuju kamar mandi. Rara menanggalkan pakaiannya lalu segera masuk ke dalam bathup, yang baru saja dia isi dengan bath bomb beraroma mawar.


Setelah puas berendam, dan merasa tubuhnya sudah kembali segar, Rara pun mengakhiri ritual mandinya. Rara keluar dari kamar mandi, alisnya hampir menyatu saat melihat Sean sudah bangun, dan kini sedang berdiri di depan wastafel, sambil mencoba memuntahkan isi perutnya.


"Apa kau masuk angin?" tanya Rara khawatir sambil mengusap punggung Sean.


"Aku akan mengambilkan minyak angin, kembalilah ke tempat tidur, biarku pijit." Rara hendak melangkah, tapi Sean lebih dulu menahannya.


"Kapan terakhir kali kau datang bulan?" Itulah kalimat yang pertama kali keluar dari mulut Sean.


"Mengapa kau menanyakan itu?" tanya Rara heran.


"Jawab saja!" seru Sean yang rasanya sudah tidak sanggup menahan sakit yang dideritanya.


Rara sejenak mengingat-ingat, kapan terakhir kali tamu bulanannya itu datang. "Aku memang belum menstruasi sejak kembali dari rumah sakit."

__ADS_1


"Oh ... tidak. Apa aku harus mengalami sakit sialan itu berbulan-bulan lagi," gerutu Sean lemas, ia melangkah gontay lalu mendudukkan dirinya di tempat tidur.


"Apa maksudmu?"


"Perutku mual sekali, aku seperti ingin memuntahkan seluruh perutku, tapi aku tidak berhasil memuntahkan apa pun. Menurutku ini bukanlah masuk angin biasa, rasanya persis seperti yang aku rasakan saat kau hamil Rio dulu, bahkan lebih parah," ujar Sean dengan suara yang terdengar lemah.


Rara menatap penuh Sean, mencoba mamaknai ucapan yang baru saja terlontar dari mulut saminya itu.


"Maksudmu, aku hamil lagi, dan kau kembali mengalami gejala kehamilan simpatik?" tanya Rara tidak percaya, sejurus kemudian tawa renyah meledak begitu saja dari mulut Rara.


"Mengapa kau malah tertawa?" Sean melotot kesal.


Rara menghela napas, mengkondisikan tawanya agar berhenti. "Tidak apa-apa, hanya terdengar agak konyol saja. Aku sendiri bahkan tidak merasakan gelaja kehamilan. Lagi pula kau sudah mengalami gejala seperti itu saat hamil Rio, apa mungkin seseorang masih akan mengalami gejala kehamilan simpatik pada kehamilan berikutnya."


"Apanya yang tidak mungkin, buktinya aku mengalami sakit yang sama sekarang," celutuk Sean.


Sean mengecup pipi Rara, lalu melangkah ke kamar mandi. Rara hanya menatap punggung suaminya itu, dengan tatapan tidak percaya, apalagi dia tidak mengalami gelaja apapun saat ini. Tapi sudahlah, tidak ada salahnya juga jika mereka memeriksannya ke dokter, andaipun memang hamil lagi, tentu Rara akan sangat bersukur, karena keluarganya akan semakin besar.


Rara beranjak dari tempat duduknya, dia menuju lemari untuk mengambil pakaiannya, juga pakaian ganti untuk Sean.


Baru saja hendak mendudukkan dirinya, Rara dikejutkan dengan dering ponselnya berbunyi, yang menandakan sebuah panggilan masuk. Rara meraih ponsel yang terletak di atas meja nakas itu, lalu menggeser tombol hijau, dan tampaklah wajah ibu mertuanya layar itu.


"Ibu, apa Ibu sudah sampai?" tanya Rara tak lupa mengembangkan senyumnya.


"Sudah, Nak. Kami baru sampai sekitar satu jam yang lalu."


"Sukurlah, Bu. Oh, ya, Bu. Di mana Rio?"

__ADS_1


"Dia sedang bermain dengan kakaknya," jawab ibu Lidya sambil mengarahkan camera ponselnya pada 2-anak yang tampak sedang asik bermain.


"Rio, sini Sayang! Mama mau ngomong." Ibu Lidya melambaikan tangannya.


Dan tanpa bisa di cegah lagi Rio pun berlari ke arah omanya.


"Mama ...." Teriakan Rio terdengar bergitu riang, yang membuat Rara langsung tersenyum mengembang, dan kini wajah bahagia anaknya itu sudah terpampang di layar ponselnya.


"Rio lagi apa di sana?"


"Rio lagi main sama kak Rey," jawab Rio antusias.


"Rio baik-baik di sana ya, jangan nakal sama oma," pesan Rara.


Anak itu mengangguk patuh, sejurus kemudian dia sudah menghilang dari layar ponsel Rara, karena sudah kembali bermain dengan kakak sepupunya.


"Apa kalian baik-baik saja di sana, Nak?"


"Iya, Bu. Kami baik-baik saja."


Ibu Lidya mengebangkan senyumnya. "Ya sudah, kalau begitu ibu matikan telponnya, ya."


Rara mengaggukkan kepala sebelum panggilan itu terputus, lalu mengembalikan ponselnya ke atas meja. Setelah itu Rara segera mengenakan pakaian untuk menggantikan piama mandinya.


Tak lama kemudian Sean keluar dari kamar mandi, mereka segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit, tanpa lupa melakukan sarapan sebelum berangkat.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen.


__ADS_2