
Mansion Richard.
Makan malam kali ini terasa lebih sunyi, hanya ada Rara dan Sean di meja makan. Karena ayah Brian dan Ibu Lidya sedang pergi ke kediaman kakak tertua Sean.
Ditambah Rara yang masih kesal kepada Sean. Membuat makan malam tersebut hanya dihiasi denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
Rara selesai dengan makan malamnya, ia segera berdiri dari tempat duduknya, dan melangkah pergi tanpa sepatah kata pun.
"Kau mau ke mana?" tanya Sean.
"Tentu saja pergi tidur!" jawab Rara ketus tanpa menoleh ke belakang.
Sean bercedak. "Sepertinya dia masih marah!"
Sean berdiam di meja makan untuk beberapa saat. Ia menimbang-nimbang apakah akan membujuk Rara, yang tentu akan menjatuhkan harga dirinya. Atau membiarkan keadaan tetap seperti ini, dengan risiko kebutuhannya tidak tersalurkan.
Setelah beberapa lama, Sean pun beranjak menyusul Rara ke kamar mereka. Sean mendapati istrinya itu sedang duduk bersandar di headboard ranjang sambil memainkan ponselnya.
Sean langsung duduk di samping Rara dengan perasaan tidak berdosa. Rara melirik sekilas ke samping, satu minggu pernikahan sudah membuat Rara paham betul modus pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu.
Tak ingin Sean lebih dulu merayu, dan melakukan tindakan. Rara pun cepat-cepat merebahkan diri lalu menarik selimutnya, ia membalut tubuh indahnya itu rapat-rapat.
Sean menghela napas berat. Dia ingin memulai bicara tapi tidak tahu harus dari mana. Sementara adik kecilnya sudah meronta-ronta, karena rindu ingin pulang ke rumah.
__ADS_1
Waktu semakin berlalu dan sepertinya Rara sudah terlelap. Sean pun mendesah pasrah, sebelum akhirnya merebahkan diri di samping Rara.
Sampai akhirnya suara tangisan terdengar dari kamar sebelah, yang membuat Rara langsung bangun dan berlari kecil menuju pintu penghubung kamar anaknya.
"Rio kenapa Sus?" Rara terlihat panik melihat putranya yang terus menangis dalam gendongan nannynya.
"Tidak tahu Nona. Rio memang sedikit rewel hari ini, karena tuan dan nyonya yang biasa mengajaknya bermain, sedang tidak di rumah. Ditambah badannya juga sedikit panas, Nona," jawab suster Diah sambil terus berusaha menenangkan Rio.
"Biar aku yang menggendongnya Sus!" Rara mengambil putranya dari suster Diah.
Rara menempelkan punggung tangannya di dahi Rio, suhu tubuh putranya itu memang tinggi, mungkin itulah yang membuat Rio tidak bisa tidur dan menangis sejadi-jadinya.
"Sus, tolong ambilkan obat penurun panas ya," perintah Rara.
Suster Diah langsung pergi, lalu kembali sesaat kemudian dengan membawa obat penurun panas untuk Rio.
Sementera itu di kamarnya, Sean jadi tidak bisa tidur karena tangisan Rio yang sangat mengganggu, dengan rasa kesal Sean turun dari ranjang menuju kamar Rio.
Rasa kesal yang ada di benak Sean menghilang begitu saja, saat melihat wajah pucat Rio yang sedang menangis terisak.
Sean merasakan getaran di hatinya, seperti ada sesuatu yang menyayat hatinya saat mendengar tangisan Rio. Sean menghampiri Rara, ia merasa terpanggil untuk menggendong dan menenangkan Rio.
"Sini biar aku yang mengendongnya," pinta Sean.
__ADS_1
Tentu saja Rara langsung memberikannya, sambil berharap Sean dapat segera merasakan bahwa Rio adalah darah dagingnya.
Sean terus membujuk Rio sambil menepuk lembut kepala putranya itu, beberapa saat berlalu tangisan Rio mulai mereda. Entah itu karena merasa nyaman dalam gendongan ayahnya, atau mungkin karena obat penurun panasnya yang sudah bekerja, Rio pun kini terlelap dalam gendongan Sean.
Sean berjalan menuju ranjang Rio, lalu merebahkan tubuh putranya itu di sana pelan-pelan. Rara juga ikut duduk di sana, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh putranya itu.
"Lihatlah! Kau itu tidak becus menjadi seorang ibu, aku yang orang lain saja bisa menenangkannya dengan mudah!" sindir Sean pelan, tapi nada bicaranya sangat mengejek.
'Ck ... anak ini saja, bisa nyaman dalam dekapanmu! Tapi kau sama sekali tidak merasakan apa-apa. Harusnya seorang ayah yang mengalami gejala kehamilan simpatik, mempunyai ikatan batin yang kuat dengan anaknya. Tapi pria ini tidak peka sama sekali, dasar pria sakit jiwa, otak udang!' gerutu Rara dalam hati sambil memelototi Sean dengan kesal.
"Mengapa kau malah memelototiku seperti itu? Alih-alih berterimakasih!" desis Sean.
Rara pun menghela napasnya.
"Terimakasih," ucap Rara pelan.
Karena dirasa keadaan Rio sudah baikan, Rara pun beranjak menuju kamarnya untuk istirahat.
Sean langsung menyusul Rara dengan penuh semangat, ia yakin Rara tidak akan marah lagi, karena ia baru saja berjasa dengan menenangkan Rio
Sean merebahkan diri di samping Rara, dengan tangan jahilnya yang mulai kelayapan, dan langsung mendapatkan tepisan dari Rara.
"Apa kau tidak ingin berterimakasih dengan cara yang lain!" goda Sean sambil menyeringai jahil.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa like, vote, dan komen.