
"Hei ... Casanova sialan, tidak bisakah kau berhenti menggoda gadis-gadis, meski untuk satu hari saja!" seru Rania sembari melangkah ke arah adik sepupunya itu.
Gio berdecak kesal sambil melihat ke arah Rania, kakak sepupunya itu memang punya hobi mengganggu kesenangan orang.
"Pergilah cari wanita lain untuk kau ajak berdansa, aku ingin bicara dengan Luna," usir Rania seraya mengibaskan tangannya.
Gio pun pergi sambil menggeleng kesal, ia malas harus berdebat dengan Rania, karena ia tahu tidak menang adu mulut dengan singa betina itu.
"Ibu Rania! Anda mengenalku?" tanya Luna heran.
Rania menganggukan kepala. "Tentu saja aku mengenal desainer hebat sepertimu!"
"Terima kasih, Bu! Anda terlalu memuji, senang sekali rasanya bisa bertemu CEO Fashion Glorie di sini, dan terima kasih juga untuk kerja sama kita, itu sangat membantu bagi kami, yang sedang berusaha menapakkan kaki di pasar internasional," ujar Luna seraya mengulurkan tangannya.
"Sama-sama!" Rania menyambut jabat tangan Luna. "Jangan terlalu sungkan, tidak perlu memanggilku dengan sebutan ibu. Bukankah kau adalah orang terdekat adik iparku, kau bisa panggil namaku, ataupun memanggilku kakak!"
"Baiklah, Kakak! Itu terdengar lebih baik, tidak sopan rasanya memanggil nama," sahut Luna.
Rania mengangguk setuju. "Dan tidak menutup kemungkinan kau juga akan menjadi adik iparku suatu saat nanti."
Luna mengkerutkan dahi, lalu melirik ke arah Gio yang sedang sendirian sambil menyesap sampanyenya.
__ADS_1
"Kau cepat tanggap dan langsung mengerti ucapanku," ujar Rania.
Luna tersenyum malu. "Kami tidak saling mengenal sebelumnya."
"Berhati-hatilah, sudah menjadi pekerjaan utama sepupuku itu, merayu setiap gadis yang ia temui." Rania tersenyum lebar.
Luna menganggukkan kepala lalu melirik Gio. "Sepertinya kamu benar, Kak!"
"Oh, ya, Lun! Bagaimana persiapanmu untuk fashion show di Paris nanti?"
"Masih tahap pengerjaan Kak! Semoga fashion show nanti bisa menjadi pintu bagi kami, untuk mendapatkan tempat di pasar," sahut Luna optimis.
***
Lagu pengiring dansa berhenti, Rara dan Sean membungkukkan badan sebagai penghormatan kepada tamu, lalu beranjak dari lantai dansa.
Gio tersenyum mengejek, ia sedari tadi memperhatikan Sean dan Rara di lantai dansa.
Gio dapat melihat raut keterpaksaan di wajah pengantin baru itu.
Gio menghampiri pasangan pengantin baru itu dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Halo ... Kakak Ipar! Senang bertemu denganmu," ujar Gio sambil tersenyum lebar, yang dibalas Rara dengan anggukan kepala.
"Bolehkah aku bicara kakak iparku yang cantik ini," ujar Gio melirik Sean.
"Jangan mencari-cari kesempatan sialan!" geram Sean sambil melotot kesal Gio.
"Sudah mulai posesif rupanya!" Gio mencibir Sean. "Jangan permalukan dirimu di depan tamu, karena kau tidak mengizinkan aku bicara dengan kakak iparku!"
Sean mendengus kesal ia pun pergi dari tempat tersebut, lalu bergabung dengan keluarganya yang lain, Sean berbincang-bincang santai dengan keluarganya, tapi seper-sekian detik sekali, mata Sean selalu mengawasi Rara dan Gio.
Sean mengepalkan tangannya, ia merasa panas melihat Rara bicara dengan orang lain, meskipun itu adalah sepupunya sendiri. Apalagi saat ini Rara terlihat begitu nyaman mengobrol dengan Gio, sesekali terlihat Rara tertawa lepas karena candaan Gio.
'Apa-apaan ini! Rasa sialan macam apa ini, mengapa aku menjadi aneh seperti ini,' umpat Sean dalam hati.
Sean mulai merasa ada keterikatan dengan Rara saat mereka berdansa tadi. Menatap mata indah Rara dari jarak yang sangat dekat, membuat perasaan Sean menjadi bergemuruh. Ia seolah kehilangan rasa marah, dan kebenciannya kepada Rara.
"Tidak, aku tidak sedang cemburu! Mana mungkin aku cemburu kepada wanita itu, aku tidak peduli padanya. Ya ... aku tidak akan peduli!" gumam Sean mencoba melawan perasaan aneh yang mulai menyelimutinya.
Besambung.
Jangan lupa tinggalkan like, vote dab komen!
__ADS_1