My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Bantu Melepaskan Hormon Oksitosin


__ADS_3

"Apa suamimu seperti itu setiap hari, Ra?" tanya Dini.


Rara mengangguk sambil melirik geli ke arah Sean. "Iya, tapi kadang-kadang dia tidak mual di pagi hari, hanya pusing saja katanya."


"Kau sangat beruntung, Ra. Aku bahkan seperti kehilangan separuh kebahagiaanku saat hamil. Ah, salah, bukan kehilangan kebahagiaan, aku sungguh bahagia saat mengandung anak-anakku. Maksudku, aku kehilangan kesenanganku di saat awal-awal kehamilan, rasanya sungguh menyiksa." Rania menceritakan bagaimana masa-masa kehamilannya sampai sekarang ini.


"Eh, iya Ran. Bukankah kehamilanmu sudah mengijak bulan ke tujuh. Apa kau sudah memikirkan rencana persalinanmu nanti?" sela Dini.


"Iya, kak. Aku tetap menginginkan persalinan normal, seperti saat persalinan Rachel dulu," sahut Rania.


"Kalau kamu, Ra?"


"Entahlah, Kak. Usia kandunganku masih terlalu muda untuk memikirkannya. Tapi sepertinya aku ingin merasakan persalinan normal juga. Karena saat persalinan Rio aku memilih caesar."


Saat ini seluruh keluarga Richard sudah berkumpul di rumah Bastian, setelah selesai sarapan, para pria berkumpul menikmati kopi di pinggir kolam renang yang ada di halaman belakang.


Anak-anak tampak bemain dengan riang di pinggir kolam belakang rumah, dengan pengawasan pengasuhnya. Reymon yang paling tua terlihat begitu sabar menghadapi sepupu-sepupunya, di mana Rachel yang selalu usil dan Rio yang sangat aktif.


Begitu juga para wanita, anak dan menantu keluarga Richard saling bersenda gurau, menceritakan kehidupannya masing-masing. Minus ibu Lidya yang lebih banyak mengahabiskan waktunya di kamar Nadine anak kedua Bastian.


***


Tanpa terasa umur Nadine sudah 1-bulan. Seperti yang sudah direncanakan, Keluarga Richard pun merayakan First Month Celebration untuk Nadine.

__ADS_1


Beberapa hari setelah rangkaian acara selesai, rombongan keluarga sepakat untuk pulang ke tanah air.


Kini Rara dilarang untuk bekerja, dia diminta menghabiskan hari-harinya di mansion, mereka memperlakukan Rara dengan begitu perhatian, mungkin ini adalah penebusan rasa salah, karena mereka tidak bisa melakukan apa-apa saat kehamilan Rio.


Meskipun terkadang merasa jenuh, karena menghabiskan waktu berbulan-bulan tanpa bekerja. Rara tetap bersukur, karena selama proses kehamilan anak keduanya ini, dia mendapatkan kasih sayang yang sangat berlebih dari suami dan keluarga mertuanya.


Rara merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, di usia kandungannya yang sudah menginjak bulan ke sembilan, Rara merasa tubuhnya begitu mudah lelah.


Mungkin ini adalah efek dari kurang tidur yang belakangan ini dia alami. Namanya sedang hamil tua, mau tidur pun terasa susah, rebahan dengan posisi telentang mau pun miring, sama-sama tidak nyaman. Belum lagi saat bangun di pagi hari, dia harus merasakan engsel-engsel di tubuhnya serasa mau copot semuanya.


Rara tersenyum bahagia saat merasakan tendangan di perutnya.


"Ehmm ... sayang mama benar-benar aktif ya! Apa kau sudah tidak sabar untuk bermain dengan mama, papa dan kak Rio?" gumam Rara sambil mengelus perut buncitnya.


Rara mendudukkan diri di samping ibu mertuanya. Sesaat kemudian Rara terlihat meringis, membuat ibu mertuanya menatap khawatir.


"Apa kontraksinya sudah muncul?" tanya Ibu Lidya khawatir.


"Sepertinya begitu, Bu. Aku merasa perutku mulai menegang," sahut Rara lirih.


Lidya langsung memerintahkan dokter yang sudah di siagakan untuk melakukan cek VT. Rara pun dibawa kembali ke kamarnya untuk melakukan pemeriksaan.


"Nona harus tenang, tidak perlu cemas. Atur napas Nona dan nikmati saja setiap kontraksi yang datang. Nona bisa memberitahu saya jika kontraksinya sudah teratur," pesan dokter.

__ADS_1


Dokter juga menyarankan agar Rara mengosongkan kantung kemih yang bisa mempercepat kepala janin untuk turun, juga melatih badan dengan berjalan, agar membantu mempercepat pembukaan.


"Apa sudah waktunya untuk dibawa ke rumah sakit, Dok?" tanya Lidya, setelah dokter selesai melakukan pemeriksaan.


"Sepertinya belum, Nyonya. Pembukaan serviksnya baru dimulai. Saya akan melakukan pengecekan kembali 2-jam lagi, apabila pembukaan Nona sudah di atas lima, baru kita bawa ke rumah sakit," sahut dokter.


"Nyonya mungkin bisa meminta Tuan Muda untuk pulang. Peran pasangan juga bagus dalam menenangkan perasaan Nona, dan ini dapat mempercepat proses pembukaannya," imbuhnya.


Lidya menggangguk, lalu menghubungi putranya untuk diminta pulang.


Sean pulang sekitar satu jam kemudian, dia langsung masuk ke kamar untuk menemani Rara. Sebenarnya Sean dan keluarganya sudah sejak jauh hari menyarankan, agar Rara melakakukan persalinan secara caesar, karena takut Rara tidak kuat menahan sakit yang ekstrem pada saat proses lahiran. Apalagi ini adalah yang pertama, karena proses lahiran Rio dulu dilakukan secara caesar.


Tapi Rara dengan tegas menolaknya. Rara ingin melahirkan secara normal. Alasannya sama, dia ingin merasakan bersalin normal yang tidak dia dapatkan saat lahiran Rio. Untung pula posisi bayinya bagus dan tidak ada masalah untuk melakukan persalinan normal.


Kini saat mendebarkan itu sudah dekat, di mana seorang ibu akan mempertaruhkan hidup dan matinya untuk kehadiran sang anak ke dunia ini, meskipun ada sedikit rasa takut, tapi Rara sangatlah antusias menghadapi persalinannya.


"Tuan Muda bisa membantu untuk menciptakan perasaan tenang pada Nona. Tuan juga bisa menstimulasi Nona, dengan memberikan ransangan pada p*ting dan pijatan lembut pada pay*daranya, itu bisa membantu tubuh Nona melepaskan hormon oksitosin, yang dapat memperkuat kontraksi," jelas dokter.


Rara mendelik. "Tidak, itu sama sekali tidak membantu. Jika itu dilakukan, bisa-bisa dia meminta lebih."


Bersambung.


Jangan lupa like, vote dan komen.

__ADS_1


__ADS_2