
"Kau ...." Rara tersentak saat baru saja melangkah keluar apartemennya.
Rara menghampiri Sean, suaminya itu masih tidur dengan posisi duduk. Ya, Sean memang tidur di depan apartemen Rara.
"Sean bangunlah! Mengapa kau tidur di sini!" Rara mengguncang pelan tubuh Sean.
Sean mulai mengerjapkan matanya, badannya terasa sakit ditambah rasa kantuk yang luar biasa.
Ketika tahu orang yang membangunkannya adalah Rara, Sean pun langsung bangkit berdiri.
"Ayo ikut aku!" Sean langsung menarik tangan Rara.
Rara mencoba berontak, tapi Sean tetap tidak melepaskannya, sampai akhirnya mereka tiba di dalam lift, barulah Sean melepaskan cengkeramannya.
Rara bersedekap dada, berurusan dengan Sean memang bisa membuatnya menjadi cepat keriput.
Sebenarnya mood Rara sudah membaik pagi ini, dan hampir melupakan kejadian kemarin, ia tidak ingin menjadi bodoh karena hal ini, satu yang Rara tahu Sean memang tidak mencintainya, jadi Rara memaksa diri untuk berpikir realistis, agar dirinya tidak terluka lebih dalam.
Tapi melihat wajah Sean, seolah memaksa Rara mengingat kejadian kemarin, dan langsung memperburuk suasana hatinya.
"Kau ... ini membuatku susah saja! Seumur hidup baru kali ini aku tidur depan apartemen, seperti gelandangan!" geram Sean kesal.
"Itu Salahmu sendiri, tidak ada yang menyuruhmu tidur di depan apartemen. Kau lah yang memilih tidur di situ, alih-alih pulang ke mansionmu!" balas Rara tak kalah kesal.
__ADS_1
Sean menggelengkan kepala. "Bodoh! Kau mau ayah menggantungku hidup-hidup? Mana berani aku pulang ke mansion. Aku bilang pada ibu bahwa kita menginap di apartemenmu, apa yang akan aku katakan pada ibu, jika pulang sendirian!"
Rara melirik sekilas ke arah Sean.
"Lancar sekali kau mengataiku bodoh ....! Sedangkan dirimu jauh lebih bodoh dari apa yang kau katakan. Kau punya apartemen pribadi, mengapa tidak tidur di sana saja, atau tidur di hotel, lalu pagi-pagi datang kembali ke apartemenku. Ya ... aku hanya berpikir kau memang lebih senang tidur di luar," cibir Rara sinis.
'Sialan wanita ini! Mengapa aku tidak pernah menang, jika berdebat dengannya. Lagipula, mengapa semalam itu aku tidak kepikiran untuk pulang ke apartemen atau mencari penginapan, ya,' gumam Sean sambil menggaruk kepalanya.
Sejurus kemudian pintu lift terbuka. Sean kembali menarik tangan Rara, menuju tempat mobilnya terparkir.
"Kau mau mebawaku ke mana? Aku harus pergi bekerja," desis Rara.
"Menjelaskan kejadian yang membuatku harus tidur di depan apartemen sialanmu itu," sahut Sean.
Sean membukakan pintu untuk Rara, lalu mengitari mobil dan duduk di belakang kemudi.
Dan mereka pun berhasil mendapatkan tatapan aneh dari para karyawannya.
"Duduklah!" perintah Sean begitu mereka tiba di ruang kerja Sean.
Sean mengambil laptopnya, ia memutar video rekaman cctv, lalu memperlihatnya kepada Rara.
Rara sedikit senang karena kenyataannya tidak seperti yang ia pikirkan. Tapi tetap saja Rara tidak terima begitu saja, karena pada kenyataannya Sean tetap berciuman dengan Vita.
__ADS_1
Rara mengepalkan kedua tangannya, melihat adegan ciuman itu saja sudah membuatnya terbakar, apa jadinya jika adegan itu terus berlanjut dan menjadi lebih intim.
Rara berdiri dari tempat duduknya. "Aku harus pergi bekerja."
Sean langsung menahan tangan Rara. "Sudah jelas bukan, aku tidak sebejat yang kau pikirkan!"
"Ck ... lepaskan aku!" Rara menepis tangan Sean, lalu berjalan menuju pintu ruangan.
Sean menggelengkan kepala, ia segera menyusul Rara. Dia bukan sekedar akan mendapat masalah dari orang tuanya, jika tidak berhasil membujuk Rara. Kemungkinan terburuknya Sean harus berpuasa, jika ia gagal membujuk Rara.
"Mengapa kau masih marah? Padahal kau sudah tahu kenyataannya," Sean sudah berjalan di samping Rara.
"Aku tidak marah! Aku hanya mau buru-buru ke kantor!" sahut Rara ketus.
Sean tersenyum menyeringai. "Kau pasti cemburu! Itu adalah resiko memiliki suami setampan aku. Asal kau tahu, sekali saja kau mengabaikanku, akan ada banyak wanita di luar sana yang bisa langsung merebut posisimu!"
Sean sengaja menakuti Rara, mana mungkin Sean akan mengatakan bahwa dirinya sudah tidak bernafsu melihat wanita lain. Selain bisa membuat jatuh harga dirinya, itu juga bisa membuat Rara jadi besar kepala. Sean berpikir Trik ancaman ini adalah jalan baginya, untuk melunakkan Rara, tanpa menjatuhkan harga dirinya.
"Kalau begitu pergi saja bersama wanita-wanita liarmu itu! Mengapa masih mengikutiku?" geram Rara semakin kesal, sambil mempercepat langkahnya.
Sean tersentak, respon Rara sangat bertolak dengan harapannya.
"Ahh ... sial! Apa aku salah mengancam orang? Apa aku benar-benar harus berpuasa?" gerutu Sean meratapi sambil menggaruk kepalanya.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa like vote dan komen!