
Rara tersenyum dengan sisa-sisa tenaganya, dia sungguh bahagia saat ini. Akhirnya dia bisa merasakan kesempurnaan menjadi seorang wanita.
Dengan segenap perjuangan yang berat, dia berhasil melahirkan seorang putri sangat cantik melalui persalinan normal. Kebahagiaannya juga semakin lengkap, karena sang suami begitu setia menemaninya dengan penuh kasih sayang, dimulai sejak awal-awal kehamilan sampai proses lahirannya sekarang ini.
Dokter Tya sudah selesai dengan tugas akhirnya di bagian pribadi Rara, begitu pun dengan perawat yang juga bekerja, melakukan tindakan dan prosedur yang harus mereka lakukan kepada bayi yang baru lahir.
Setelah memastikan bayinya baik-baik saja. Putri mungil yang baru saja lahir itu dibawa dokter Alya kepada ibunya untuk disusui.
"Sayang, buka bajumu! Putrimu ini harus segera diberi ASI," ucap dokter Alya seraya menyerahkan bayi yang ada di tangannya kepada Rara.
Rara pun menganggukkan kepalanya, kali ini kebahagiaannya semakin membuncah. Ada sedikit penyesalan, karena proses lahiran Rio yang dilakukan secara caesar, dulu dia harus menunggu beberapa jam untuk memiliki asi, hingga mengakibatkan Rio harus menangis karena kehausan.
Sean menelan saliva, dia melotot melihat putrinya yang begitu rakus menghisap puncak kenikmatan milik istrinya. Biasanya bagian itu hanya miliknya.
"Apa kalian sudah memiliki nama untuknya?" tanya dokter Alya.
"Aku ingin menamainya Rosalie, Onty. Tapi itu juga tergantung Sean, karena Papanya lebih berhak untuk memberikan namanya," jawab Rara.
"Aku setuju, My Cherry. Bagaimanapun kau 'lah yang paling berjuang untuk menghadirkan putri kita ke dunia ini. Bagiku, ada nama Richard di belakang namanya sudah lebih dari cukup," Sean menciumi punggung tangan istrinya.
"Namanya Rosalie, Onty. Kita akan memanggilnya Caca," ujar Sean penuh semangat.
Sesaat kemudian terdengar langkah kaki anak kecil yang berlari ke arah brankar. Rachel berhenti tepat di samping Unclenya, sementara Rio langsung naik ke atas brankar Mamanya.
Anak itu terlihat begitu bahagia dengan kehadiran si adik, Rio pun tak segan menciumi adiknya yang tengah menyusui itu.
"Kakak Ael, lihatlah! Adikku cantik sekali!" seru Rio pada kakak sepupunya.
__ADS_1
Anggota keluarga yang lain juga turut masuk ke dalam ruangan, mereka menatap ke arah ranjang dengan pandangan berbinar-binar.
"Kakak, apa Kak Bastian akan datang?" tanya Sean pada kakaknya.
"Iya, Kak Bastian beserta keluarganya sudah dalam perjalanan, mereka akan sampai besok," sahut Rania yang juga tengah sibuk menimang-nimang putranya, yang masih berumur 5-bulan.
"Apa kalian sudah memberinya nama Sean?" tanya ibu Lidya.
"Sudah, Bu. Kami menamainya Rosalie, nama panggilannya Caca," jawab Sean dengan mata yang tidak jua beralih dari putrinya.
Putri kecil Sean terlihat sudah kenyang, dia pun melepaskan hisapan di dada Mamanya, kini giliran ibu Lidya yang menggendong cucunya untuk pertama kami.
Sementara itu Rara yang kelelahan, mulai memejamkan matanya, lalu terlelap tidur.
***
"Apa ini adiknya Rio, Kak?" tanya Luna saat melihat bayi yang ada dalam gendongan Rania.
"Iya, kau mau menggendongnya?"
Luna pun mengangguk cepat, dia meraih baby Caca dari tangan Rania.
"Siapa namanya, Kak?" tanya Luna.
"Keluarga kita memanggilnya Caca," jawab Rania.
Luna pun menimang-nimang Baby Caca di tangannya. "Baby Caca, sayang onty yang cantik. Kamu cepat besar ya, nanti onty Luna akan ajarin kamu bela diri."
__ADS_1
"Nanti sama onty Rania juga bisa," ucap Rania lalu menunduk untuk mencium ponakannya.
"Bagaimana menurutmu? Dia cantik, bukan!" seru Luna pada Gio, lalu mulai menciumi bayi Caca yang ada di tangannya.
Baby Caca pun merasa terganggu karena terus diciumi oleh Onty Luna'nya, hingga akhirnya Baby Caca terbangun dan menangis sejadi-jadinya.
Luna panik, dia merasa dejavu. Apa yang dia lakukan persis seperti saat kelahiran Rio dulu. Sekeras apa pun usaha Luna untuk menenangkannya, Baby Caca tidak mau berhenti menangis.
"Bawa dia ke Mamanya, Lun. Dia pasti haus," suruh Rania.
Luna segera masuk ke dalam ruang rawat, dia melihat Rara tengah tidur di atas brankar, ditemani Sean yang tertidur di kursi samping.
"Ra, bangunlah. Baby Caca nggak mau berhenti nangis," ujar Luna dengan nada gelisah.
Rara perlahan mengerjapkan mata, lalu melihat putrinya yang menangis dalam gendongan Luna.
"Bawa sini, kamu pasti mengganggunya 'kan!Seperti Rio dulu," rutuk Rara sambil mengulurkan tangannya.
Luna hanya nyengir, lalu menyerahkan Baby Caca pada mamanya.
"Makanya cepatlah kau lamar dia, Rio sudah punya adik, tapi kalian belum juga menikah," ucap Rara mengalih pandangan pada Gio.
"Kami sedang mempersiapkannya," sahut Gio penuh semangat.
Luna pun tersenyum, dia tak dapat menyembunyikan rona merah yang kini menghiasi wajahnya.
Bersambung.
__ADS_1