
Rara mengajak Sean untuk beristirahat, tenaganya cukup terkuras karena harus berjalan menanjak. Apalagi dengan kondisi masih hamil muda, membuat Rara terasa mudah lelah.
Tapi keindahan yang terlihat di castil sana seolah mengusir rasa lelahnya begitu saja, Rara masih tampak semangat meski dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan.
"Minumlah," ujar Sean memberikan air mineral yang ia beli di salah satu kedai tadi.
Rara pun meraih botol pemberian Sean, lalu meneguk isi botol itu hampir setengahnya. Setelah puas melepaskan dahaganya, Rara pun berdiri, dia tersenyum kagum memandangi atap-atap yang berwarna-warni dan menara-menara menjulang di old town yang ada di bawah sana.
"Bagaimana menurutmu? Kalau kau tidak sanggup, lebih baik kita pulang saja. Jika terlalu memaksa, aku takut bisa berdampak pada kehamilanmu," saran Sean.
Mereka kini beristrahat di tangga-tangga menuju castil, dan masih ada sekitar setangah perjalanan lagi untuk mencapai distrik castil yang berada di bukit.
"Ini sudah tanggung, bagaimana mungkin mau pulang? Kalau berjuang itu jangan setengah-setengah. Jangan-jangan semua yang kau bilang padaku juga setengah-setengah, ya," ketus Rara.
"Astaga ... Sayang. Aku cuma tidak mau kau kelelahan, kau ini sedang hamil muda," tegur Sean.
"Ini sudah tanggung Sean. Ayo kita lanjutkan lagi," ajak Rara seraya melangkahkan kakinya kembali menaiki anak tangga.
Sean hanya menggelengkan kepala, harusnya tadi tidak menuruti kemauan Rara untuk berjalan kaki.
Setelah bersusah payah melewati medan yang menanjak, kini Rara pun dapat tersenyum puas.
Mereka telah tiba di Prague Castle, yang dalam bahasa Ceko bernama ('Prazky hrad' serius ini author nggak tau gimana cara ngucapin namanya, bikin lidah autor keseleo juga bacanya, hehe).
Distrik kastil yang sudah diakui oleh Guinness Book of Records ini, memiliki luas sekitar 70-ribu M². Yang menjadikan distrik kastil ini sebagai kompleks istana terbesar di dunia, dengan bangunan-bangunan tuanya yang sarat akan sejarah.
Semua rasa lelah yang dirasakan Rara benar-benar terbayar lunas, dia kegirangan seperti bocah yang baru dapat duit gopek'an. Rara seperti masuk ke dalam cerita dongeng yang sering dia dengar, dan ternyata keindahan Prague Castle memang sesuai ekspektasi, bahkan lebih.
Begitu tiba di gerbang istana, Rara pun meminta suaminya memotret photonya dengan penjaga di depan Istana Praha. Sean pun terpaksa melakukannya, meski dengan wajah cemberut.
"Bukankah ini adalah Istana Kepresidenan Ceko, ya?" tanya Rara.
__ADS_1
"Iya."
"Lalu kenapa kita tidak melihatnya?" tanya Rara lebih lanjut.
"Astaga, bagaimana mungkin kau berpikir bisa begitu mudah bertemu orang nomor satu di Negara ini."
"Ah, sayang sekali kita tidak bisa bertemu dengan Bapak Presiden, harusnya kita bisa mengecek aktivitasnya sehari-hari. Apa benar dia sudah bekerja dengan baik, jangan-jangan dia cuma makan gaji buta," kekeh Rara.
Sean menggaruk kepalanya. "Seajak kapan kau ini jadi bodoh."
Setelah puas mengelilingi komplek castil dari luar, Sean dan Rara mengantri tiket untuk masuk ke Katedral St Vitus. Sebuah gereja abad pertengahan, yang merupakan Gereja terbesar dan menjadi pusat keuskupan Praha.
Kemegahan semakin terasa saat Sean dan Rara masuk ke dalam Katedral. Rara merasa dirinya sedang berada di dalam istana raja-raja eropa jaman dahulu, langit-langitnya menjulang tinggi, dihiasi patung-patung tokoh-tokoh dan raja-raja, ditambah dengan indahnya bias warna-warni sinar matahari yang menembus jendela kaca Katedral.
Puas dengan pemandangan dalam Katedral, Sean dan Rara menelusuri golden lane, mereka berburu souvenir di wilayah kastil Praha, sebelum melanjutkan pulang ke resort.
***
Bagaimana tidak, dia terus merengek sepanjang malam karena tubuhnya yang terasa pegal. Bahkan Sean harus begadang sampai larut, hingga istrinya itu benar-benar terlelap barulah Sean bisa tertidur.
"Sean bangunlah! Aku lapar!" seru Rara menguncang suaminya yang masih terlelap.
Sean mulai mengerjapkan matanya perlahan. Tidak ada keluhan yang terdengar dari mulutnya, dia turun dari ranjang menuju kamar mandi. Meski terkadang tidak mengalami mual di pagi hari, tapi tetap saja dia mengalami pusing yang teramat di kepalanya.
Setelah selesai mebersihkan diri dan mengganti pakaian. Sean pun mengajak Rara menuju ruang makan.
Sean mulai mengolesi roti dengan selai, lalu memberikannya kepada Rara. Tak lupa dia memberikan segelas susu.
Rara menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau roti."
Rara hanya meraih gelas berisi susu untuk ibu hamil, lalu meneguk setegahnya.
__ADS_1
"Jadi kau mau apa? Tadi kau bilang sudah lapar," ujar Sean.
"Iya, aku lapar. Tapi aku tidak mau roti, aku maunya tinutuan," sahut Rara.
Sean berdiri dari kursinya. "Tunggu sebentar, aku akan meminta pelayan membuatkannya untukmu."
Baru saja Sean hendak melangkah, istrinya itu sudah menahannya. "Aku tidak mau dibuatkan pelayan, aku mau kau yang membuatnya."
"Aku?" Sean menunjuk dirinya. "Aku mana bisa masak. Membuat tinutuan itu rumit, minta dibuat pelayan saja ya!" bujuk Sean.
"Kau tidak membuatnya untukku ya? Bahkan jika anakmu yang memintanya?" rajuk Rara.
Sean mendesah berat. "Mana ada dia bisa minta yang macam-macam, ini pasti hanya akal-akalanmu, kan?"
"Ya sudah kalau tidak mau membuatnya, itu artinya kau tidak sayang dengan anakmu," sungut Rara kesal.
Sean menghela napasnya. "Baiklah, aku akan coba membuatnya untukmu."
Sean berlalu meninggalkan meja makan, dia menuju dapur sambil menggaruk kepala.
'Aku yang menanggung sakitnya, dia enak-enakan ngidam yang aneh-aneh. Ini tidak adil sekali,' rutuk Sean dalam hati.
Bersambung.
Dear My Beloved readers.
Reno minta maaf ya, update nya sekarang jadi tidak menentu. Karena setiap dipaksain nulis kepalanya langsung pusing, ini juga Reno usahain nulis dikit-dikit biar bisa tetap up.
Mohon dimaklumi ya, doain Reno cepat sembuh ya, biar bisa up rutin seperti biasa.
Semoga kalian semua selalu diberi kesehatan.
__ADS_1