My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Firasat Buruk


__ADS_3

Rara mengantar Rio sekolah, setelah itu dia pergi ke kantornya, dia harus membantu Luna untuk mempersiapkan keberangkatannya besok.


Wina datang dengan membawakan berkas untuk ditandatangani Rara.


"Nona, ini laporan budget pengeluaran untuk karyawan kita selama di Paris, di sini sudah mencakup keseluruhan akomodasi, termasuk transportasi dan uang saku karyawan," jelas Wina seraya memberikan berkas yang dibawanya.


Rara menandatangani tangani laporan itu, lalu mengembalikannya pada Wina. "Pastikan tidak ada kendala selama di sana Win!"


"Semua perencanaannya lancar, Nona. Semoga saja tidak ada kendala, dan kita bisa mendapatkan hasil yang memuaskan di fashion show nanti," jawab Wina.


Setelah itu Wina pun pamit untuk kembali ke ruangannya. Kini mata Rara tertuju pada Luna, sahabatnya tidak terlihat bersemangat saat ini, padahal sejak jauh hari Luna sangat antusias, untuk mengikuti gelaran fashion show ini.


"Lun, kamu kenapa?" tanya Rara.


"Entahlah, Ra. Pikiranku tidak tenang, aku merasa berat untuk pergi ke fashion show itu," jawab Luna lirih.


Rara mengkerutkan dahinya, lalu berjalan menghampiri meja Luna. Rara menatap sahabatnya itu dengan intens. "Memang apa yang mengganggu pikiranmu? Bukankah ini adalah impianmu, impian kita! Kamu yang selalu bilang, fashion show ini adalah pintu bagi kita untuk bersaing dengan brand sudah lama mendominasi pasar internasional. Dan sekarang kesempatannya sudah di depan mata, mangapa kamu jadi seperti kehilangan gairah?"


Luna menggelengkan kepala, lalu menghembuskan napas berat. "Pikiranku tidak tenang, Ra. Aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi."


Rara menggenggam erat tangan Luna. "Lupakan pikiran buruk itu, Lun. Dan seperti sebelumnya, apapun yang akan terjadi kita hadapi sama-sama."


Luna mengangguk, Rara melepaskan genggaman tangannya, lalu berdiri dari tempat duduknya. "Ya sudah, aku mau menjemput Rio."


"Aku ikut!" seru Luna seraya berdiri, lalu mengikuti Rara berjalan keluar ruangan.


"Tumben sekali kamu mau ikut menjemput Rio!"


"Akhir-akhir ini aku merasa sangat merindukan keponakanku itu, mungkin karena kalian sudah tidak lagi tinggal di apartemen," ujar Luna kemudian teringat sesuatu. "Oh ya Ra, bagaimana dengan bi Eni, kasihan dia sendirian di apartemen, apa kamu bisa membawanya ke mansionmu selama aku di Paris?"

__ADS_1


"Baiklah, nanti aku bicarakan dulu dengan mertuaku," sahut Rara.


Sekitar setengah jam kemudian mereka pun tiba di sekolah Rio, mereka menunggu sekitar 15-menit, barulah tampak Rio keluar dari kelasnya.


"Onty Luna ...." Rio berlari dengan wajah sumringah, mereka memang tidak pernah bertemu lagi semenjak Rara menikah.


Luna berjongkok menyambutnya dengan pelukan. "Rio rindu onty?"


Anak itu mengangguk cepat, Luna yang gemas langsung menghujani kecupan di pipi gembul Rio.


"Hari ini kita akan jalan-jalan ke mall," ujar Luna yang memuat Rio semakin bersemangat.


"Horee ...."


Rara hanya tersenyum melihat anaknya yang terlihat begitu bahagia, mereka pergi ke salah satu mall terbesar yang ada di ibukota.


Setibanya di mall, mereka langsung menuju lantai atas, tempat arena play land berada. Rio sangat antusias, dia langsung masuk ke arena permainan tersebut. Tempat ini adalah surganya balita, karena menyediakan jenis permainan yang sangat banyak untuk anak-anak.


Setelah puas mencoba berbagai permainan, dan menghabiskan banyak energinya, Rio pun datang menghampiri orang tuanya.


"Mama ... Rio mau ayam crispy," ujarnya sambil mengatur napas yang masih ngos-ngosan.


"Ini, Rio minum dulu." Luna memberikan air mineral sambil tersenyum bahagia.


Mereka pergi menuju sebuah restoran cepat saji. Luna terlihat kembali bersemangat. Kelakuan Rio yang menggemaskan, menjadi penawar bagi firasat buruk yang menghantui pikiran Luna.


Setelah selesai makan, mereka pun sepakat untuk pulang, senyum bahagia menghiasi wajah masing-masing dari mereka.


Sebuah tatapan penuh kebencian sudah menunggu mereka di parkiran mall.

__ADS_1


Entah sejak kapan Vita sudah menunggu kedatangan mereka. Vita menyunggingkan senyum culasnya sambil menatap Rara dan Luna bergantian. "Nikmatilah, karena hari ini adalah akhir dari tawa bahagia kalian itu ...."


"Memangnya apa yang bisa dilakukan wanita lemah sepertimu? Aku akan memberikan nyawaku, jika kau bisa mendaratkan satu pukulan padaku," tantang Luna sambil tersenyum miring.


"Cih ... orang sombong pasti akan mendapat karma, Lun. Mungkin aku tidak akan menang jika bertarung dengan wanita liar sepertimu, tapi ...." Vita menjentikkan jari.


Mata Luna mulai siaga karena sekelompok pria berbadan tegap, yang merupakan anak buah Vita mulai mengepung mereka.


"Jaga Rio, Ra!" perintah Luna.


"Tangkap mereka!"


Luna langsung siaga memasang kuda-kuda, untuk melindungi sahabat dan keponakannya. Sedangkan anak buah Vita langsung menyerangnya secara bersamaan.


Whush ...! Sebuah pukulan dihindari Luna dengan mudah, dia menarik tangan si pemukul, bersamaan lutut kanannya menghantam perut pria itu. Mata elang Luna melirik ke belakang, kaki kanannya pun kembali mengayun dengan cepat, dan mendarat di dagu pria yang menyerangnya dari belakang, 2-orang pengawal Vita tumbang.


Di tepi lingkaran pertarungan, Rara tidak bisa berbuat banyak, dia hanya bisa berdoa semoga Luna dapat mengatasi mereka. Rara menutup mata Rio dengan dekapannya, agar anaknya itu tidak melihat adegan kekerasan, yang belum sewajarnya dilihat anak-anak seumuran Rio.


Luna bertahan cukup lama, tapi melawan pria yang ahli di bidangnya, ditambah jumlah yang cukup banyak, membuat Luna kewalahan juga. Sampai akhirnya Luna tidak sempat menghindari sebuah tendangan keras yang menghantam dadanya.


"Akkhh ...." Luna terpental ke belakang, dan terhempas ke lantai, Luna memegangi dadanya yang terasa sesak.


Luna terbaring di lantai. Seorang pengawal berwajah paling bringas, tidak ingin membuang kesempatan. Dia melompat dengan maksud menghantam dada Luna dengan tumitnya, yang tentu bisa mengakhiri nyawa gadis tersebut.


"Matilah kau gadis sialan!" teriak pria sangar itu.


"Luna ...." Rara terpekik histeris, ia tidak sanggup melihat apa yang akan terjadi pada sahabatnya itu.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen.


__ADS_2