
Setelah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Rara segera pergi menuju kantornya, ada kerinduan tersendiri bagi Rara untuk segera tiba di sana, padahal baru 3-hari ini ia tidak masuk kerja.
Sedangkan Rian masih berada di dalam cafe, ia mengambil ponsel dari saku celananya, lalu memanggil nomor Vita.
"Aku hanya ingin mendengar kabar bagus ...." Suara Vita terdengar ketus dari seberang sana.
"Tentu, aku sudah berhasil meyakinkan Rara, untuk menerimaku bekerja di perusahaannya. Sekarang mana janjimu," balas Rian.
"Tenang saja! Aku sangat menghargai partner kerjaku!" sahut Vita sumringah mendengar kabar dari Rian.
"Hari ini juga aku akan meminta papaku, untuk membebaskan semua asetmu yang disita oleh bank!" lanjutnya.
"Baiklah, aku akan mengabarimu perkembangan selanjutnya." Rian memutuskan sambungan telpon mereka.
Rian baru saja melangkah keluar cafe, saat 2-orang berbadan besar, dan memiliki aura kejam menahan langkahnya.
"Tuan, silahkan ikut kami!" ucap salah satu dari mereka dengan nada dingin.
Rian mengkerutkan dahinya, ia sama sekali tidak mengenal 2-orang berpakaian preman, yang mencegat langkahnya. "Si-siapa kalian, aku tidak punya urusan dengan kalian!"
"Tuan, ikut saja! Nanti Anda akan tahu sendiri masalahnya," jawab bodyuard itu.
"Ta-tapi ...."
"Jangan membuat kami memaksa, Tuan!" Bodyguard itu memberikan tatapan, yang langsung membuat ciut nyali lawan bicaranya.
Rian yang tidak punya pilihan pun menurut saja, 2-bodyguard itu membawanya ke sebuah gudang, di lantai dasar URM group.
__ADS_1
Tak lama kemudian Jefri datang dengan langkah penuh wibawa, Rian dapat merasakan aura mengerikan dalam diri pria ini. auranya bahkan jauh lebih dingin dan kuat dari pada 2-bodyguard yang membawanya ke sini.
"Pergilah! Terus kawal Nona seperti yang diperintah Tuan. Tapi ingat selalu berhati-hati, jangan sampai Nona tahu kalian membuntutinya," perintah Jefry pada anak buahnya.
2-bodyguard itu mengangguk patuh, lalu segera undur diri.
Jefry mendekati Rian, dengan tatapan penuh intimidasi. "Pernah dengar bahwa mengusik keluarga orang, bisa memperpendek umur!"
Hanya dengan ucapan yang keluar dari jefry, sudah membuat Rian berkeringat dingin. "Saya tidak pernah mengganggu keluarga Anda."
"Apapun niatmu terhadap Nona Rara, lupakan saja! Maka aku membiarkanmu pergi dari sini dengan selamat. Tapi aku tidak akan segan menghabisimu, jika kau masih berani menemui Nona Rara. Inti dari ucapanku adalah, jauhi Nona Rara!" ancam Jefry dengan penuh penekanan.
Tubuh Rian langsung gemetar, ia tidak menyangka akan jadi seperti ini, baru saja ia bergerak menjalankan niatnya, tapi sudah membuatnya hampir kehilangan nyawa.
Rian tahu persis siapa pemilik gedung tempat ia berada saat ini, ini adalah kantor United Richard Morelli group, kantor induk dari perusahaan, milik 2-keluarga yang sangat berkuasa.
Jika tahu akan berbuntut seperti ini, sudah pasti Rian tidak akan berani menerima tawaran Vita.
"Bagus, aku yakin kau paham konsekuensinya, jika melanggar ucapanmu sendiri. Kau boleh pergi sekarang," pungkas Jefry.
"Terima kasih, Tuan." Rian segera pamit pergi, persetan sudah dengan perjanjian yang ia buat Vita, bila itu malah membuat nyawanya terancam.
***
Paradise fashion.
Rara memasuki ruang kerjanya, tidak ada yang berubah dari ruangan ini, apalagi saat ia melihat ke sisi kiri ruangan, di mana terdapat pemandangan Luna yang selalu sibuk.
__ADS_1
Rara bahkan sering berdecak kesal melihatnya, karena Luna akan menjadi seperti orang bisu, jika sudah memegang pensil.
Rara mendudukkan diri di kursi kebesarannya. "Lun, Rian akan bekerja di sini besok!"
"Apa!" kaget Luna, ia meletakkan pensilnya sambil menatap tidak percaya pada Rara.
"Ya, aku akan menempatkannya di departemen penjualan!" jelas Rara.
Luna menatap Rara dengan tatapan jengkel. "Ra, kamu sadar nggak Rian itu siapa? Dia itu biang masalah! Jangan lupain juga apa yang dulu dia lakukan sama kamu."
Rara mendesah berat, ia berdiri lalu menghampiri meja kerja Luna.
"Lun, dia sedang terpuruk saat ini, nggak ada salahnya kan kita bantu dia," ucap Rara lembut.
"Tapi Ra, itu main api namanya ...."
"Lun, nggak ada salahnya kita tetap berbuat baik, meskipun orang itu pernah nyakitin kita," ucap Rara bijak.
Luna berdecak kesal, sambil meraih kembali pensilnya. "Terserah ...."
Rara menggelengkan kepala, ia tahu Luna bukan tipe orang yang mudah memaafkan. Tapi sikap Luna itu juga tidak salah, karena tujuannya adalah menjaga diri sendiri, agar tidak tersakiti berulang-ulang.
Rara kembali ke meja kerjanya, ia mengambil telpon, lalu memerintahkan Wina untuk datang ke ruangannya, tak lama kemudian sekretarisnya itu datang menghadap.
"Ada yang Anda butuhkan, Nona!" tanya Wina sopan.
"Win, lakukan tes DNA sampel ini, usahakan secepat mungkin, dan pastikan pengawal pilihanmu itu menjaganya dengan baik," perintah Rara sambil memberikan sampel rambut milik Sean.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa like, vote dan komen!