
Mata Sean tak lepas dari leher jenjang milik Rara. Sambil menyeringai jahil Sean turun dari tempat tidur. Dia mendekati istrinya itu lalu merangkul pinggang Rara dari belakang, dengan wajah yang sudah menempel di leher Rara.
Puukk .... Rara menyikut perut Sean.
"Dasar munafik! Baru saja kau mengatakan tidak akan menyentuhku, tapi baru beberapa detik aku di sini, kau sudah seperti kucing garong yang kelaparan!" cibir Rara sambil memutar tubuhnya.
Sean meringis pelan sambil memegangi perutnya, kali ini ia sudah mempermalukan dirinya di depan Rara. Ia bahkan tidak mengerti apa yang membuat dirinya menghampiri Rara.
Sean mengutuk dirinya sendiri yang begitu mudah kehilangan kendali, bahkan hanya dengan melihat Rara menyanggul rambutnya, sudah membuat kehilangan akal sehat.
Rara berdiri dari tempat duduknya, lalu pergi ke kamar mandi. Rara ingin menenangkan dirinya. Rara tiba di kamar mandi dan langsung menutup pintu rapat-rapat
Rara memejamkan mata, tangannya memegangi tengkuk sendiri, hangatnya bibir Sean masih membekas di sana. Rara juga sudah hampir kehilangan kendali saat Sean mengecup lehernya tadi.
Untung Rara cepat menyikut perut Sean, saat gelenyar-gelenyar halus itu mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, kecupan Sean terasa luar biasa bagi Rara, kecupan sesaat itu berhasil mengirimkan getaran aneh yang mengelitik, sampai menjalar ke area intimya.
Jika tidak cepat bertindak, mungkin saat ini mereka sedang sama-sama terbuai dalam permainanan panasnya.
Rara selesai membersihkan dirinya, ia keluar dari kamar mandi dengan tubuh berbalut handuk, kali ini mata Sean benar-benar tidak berkedip melihat tubuh indah milik Rara, tubuh itu seolah magnet yang menarik Sean untuk segera mendakat.
__ADS_1
Sementara itu Rara masih terdiam bingung, ia baru ingat bahwa tidak memiliki pakaian di sini, tidak mungkin rasanya jika ia harus memakai kembali, gaun yang ia kenakan di pesta tadi.
"Mengapa kau berdiam di situ? Kau sengaja ingin mengodaku, ya?" kesal Sean.
Sean sebenarnya sudah tidak kuat menahan rasa yang membakar dirinya, tubuh Rara terlalu menggiurkan untuk ia abaikan, bahkan adik kecilnya sudah memberontak keluar, meminta pulang ke rumah.
Tapi demi harga dirinya, Sean berusaha meredam kebutuhan yang kini menyiksanya. Demi apapun ia tidak ingin Rara semakin besar kepala, apalagi tadi Rara sempat mempermalukan harga dirinya.
"Ciihh ... hidupmu terlalu percaya diri, demi Tuhan aku tidak bermaksud menggodamu. Aku tidak punya pakaian untuk dikenakan," balas Rara sengit.
Sean tersenyum merendahkan, wanita ini sangat pandai berpura-pura pikirnya.
Rara melotot kesal, ia tidak mengerti arah pembicaraan Sean.
"Ck ... masih mau berpura-pura, ya? Bukankah tujuanmu menikah denganku agar dapat menikmati kekayaan keluargaku? Jadi bersikaplah seperti jalang yang tidak tahu malu, karena kini kau sudah mendapatkan semuanya," seru Sean seraya turun dari ranjang.
Sean melangkah ke arah lemari besar, yang ada di sebelah kanan kanan meja rias, ia membuka pintu lemari tersebut lebar-lebar. Dan tampaklah berbagai model pakaian wanita kelas satu bergantungan di sana.
"Sekarang apalagi alasanmu? Bukankah kau sudah tahu apa yang akan kau dapat jika menikah denganku! Keluargaku sampai menyiapkan kebutuhanmu sampai sedetail ini ... Ck. Sekarang nikmatilah hasil kerja kerasmu meracuni pikiran keluargaku!" Sean berjalan menghampiri Rara.
__ADS_1
"Tapi ingatlah! Kemenanganmu ini tidak akan bertahan lama, karena secepatnya aku akan menyadarkan keluargaku, dan kau akan menggelandang di luar sana." Sean berbisik dengan nada sinis di telinga Rara, lalu melangkah menuju kamar mandi, dengan langkah angkuh.
Rara menggigit bibir bawahnya, menahan pedih mendengar hinaan Sean, perkataan Sean terlalu kejam untuknya. Rara sama sekali tidak ada niatan untuk memanfaat harta keluarga Sean. Bahkan apa yang ia miliki saat ini, dengan jerih payanya sendiri, sudah lebih dari cukup bagi Rara.
"Itu lebih baik! Yakinkan keluargamu secapatnya, jika itu terjadi. Aku adalah orang yang paling bersukur, karena terlepas dari pria sakit jiwa sepertimu," umpat Rara sambil menatap tajam punggung Sean.
Rara melangkah menuju lemari, ia mengambil kimono tidur, lalu mengenakannya. Setelah selesai, Rara menghempaskan tubuh lelah dan batin tersiksa di tempat tidur.
Sementara itu di dalam kamar mandi, Sean terpaksa bermain solo, demi membebaskan diri dari kebutuhan yang sudah tidak tertahankan. Dan tidak butuh waktu lama Sean pun terbebas, dari hasrat yang menyiksanya.
"Wanita sialan! Aku harus benar-benar menahan diri. Jika tidak, pertahananku bisa runtuh, dan itu akan membuatku semakin terjerat!" Sean mengumpat di ujung pelepasannya.
Sean keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri, ia menggeram kesal saat Rara yang seenaknya berbaring di tempat tidur.
"Heii sialan! Ini tempat tidurku, siapa yang mengizinkanmu tidur di sini," geram Sean seraya menarik selimut yang menutupi tubuh Rara.
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan like, vote dan komen!
__ADS_1