My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Perubahan Sean


__ADS_3

Sean merebahkan diri di samping Rara, dengan tangan jahilnya yang mulai kelayapan, dan langsung mendapatkan tepisan dari Rara.


"Apa kau tidak ingin berterimakasih dengan cara yang lain!" goda Sean sambil menyeringai jahil.


Rara berdecak kesal. "Sean ... jauhkan tanganmu!"


"Kau itu tega sekali, padahal aku sudah membantumu. Adikku ini ingin pulang ke rumah," bujuk Sean dengan muka pengennya.


"Aku lagi ada tamu bulanan," desis Rara semakin ketus.


"Ah ... sial!" rutuk Sean kecewa, karena pengganggu itu memang datang di saat yang tidak tepat.


Sean memposisikan tubuhnya yang tadi menghadap Rara, menjadi telentang. Sean memaksakan diri untuk memejamkan matanya, dengan satu lengannya diletakkan di atas dahi.


Sean pun mulai tertidur meski dengan perasaan dongkol. Lalu terbangun karena mendengar suara isakan kecil dari kamar sebelah. Sean mengerjapkan mata, ia melihat jam di dinding menunjukkan pukul dua dini hari.


Sean merasa tidak tega untuk membangun Rara. Sean berjalan ke kamar Rio, ia melihat anak itu seperti sedang mengigau dengan mengucapkan kata-kata yang kurang jelas.


Sean merasakan keinginan besar dalam hatinya untuk menjaga, dan melindungi Rio. Perlahan Sean membalikkan tubuh Rio yang tidur tengkurap, lalu menempelkan punggung tanggannya di dahi Rio.


"Kasian sekali anak ini, demamnya cukup tinggi," gumam Sean.


Ada rasa khawatir dalam diri Sean, ia pergi mengambil baskom kecil, yang kemudian diisinya dengan air hangat. Sean memabawa baskom berisi air hangat itu, beserta handuk kecil kembali ke kamar Rio.

__ADS_1


Sean meletakkan baskom kecil itu di samping tempat tidur Rio, dengan telaten ia membasahi handuk kecil itu lalu memerasnya, kemudian menempelkan handuk kecil itu di kening Rio.


"Semoga panasmu cepat turun," gumam Sean.


Sean menjauhkan baskom itu, lalu merebahkan diri di samping Rio, rasa nyaman yang ia dapatkan di sana, membuat Sean terlelap begitu cepat, ia tidur sambil mendekap Rio dalam pelukannya.


Rara terbagun setelah pagi menyapa, ia tidak mendapati Sean di atas tempat tidur. Masa bodoh suaminya itu tidur di mana, lagipula ada banyak kamar kosong di mansion ini. Rara pun turun dari ranjang, hendak menuju kamar mandi.


Tiba-tiba Rara teringat putranya yang demam tinggi tadi malam, Rara berbelok arah urung ke kamar mandi. Rara ingin melihat kondisi Rio terlebih dahulu.


Rara membuka pintu penghubung kamar Rio, seulas senyum bahagia langsung mengembang dari bibir indahnya, karena melihat Sean masih terlelap sambil mendekap Rio.


"Somoga kau cepat menyadari Rio itu siapa," gumam Rara pelan.


Rara pergi ke kamar mandi, 20-menit kemudian Rara keluar dari sana, dan mendapati Sean sudah bangun dan duduk di sudut Ranjang.


Seperti sudah menunggu Rara selesai mandi, Sean pun bergegas masuk ke kamar mandi. Rara mengenakan pakaiannya, lalu mengambilkan pakaian kerja Sean, dan meletakkan di atas tempat Tidur.


Sean Pergi bekerja setelah selesai sarapan pagi, sedangkan Rara tidak pergi kerja hari ini, karena demam Rio yang belum menurun, Rara tetap di mansion sambil menunggu kedatangan dokter keluarga, untuk mengecek kondisi Rio.


***


Libra Corp.

__ADS_1


2-bulan kemudian.


Pernikahan Rara dan Sean kini sudah berjalan 2-bulan, untuk urusan pekerjaan Sean sudah berubah 180-derajat, ia sudah mulai serius dalam bekerja, dan tidak lagi abai seperti sebelum-sebelumnya.


Salah satu sebab perubahan ini, tak lain karena Sean merasa malu mendapati kenyataan, bahwa karir istrinya jauh lebih cemerlang dari pada dirinya, Ditambah lagi karena Rara membangun semua itu dari nol, bukan seperti dirinya yang hanya melanjutkan yang sudah ada, itu pun tidak ada kemajuan selama beberapa tahun kepemimpinannya.


Rasa malu itu yang membuka pikiran Sean, dan memaksanya berusaha lebih keras, untuk mendapatkan pengakuan, bahwa ia juga memiliki kemampuan yang hebat sebagai pemimpin.


"Tuan aku sudah mengatur jadwal pertemuan dengan tuan Juan di Singapura untuk membahas pembangunan cabang rumah sakit kita di sana," ujar Sandy sambil memberikan setumpukan berkas laporan kepada Sean.


"Kau sudah mengatur jadwal keberangkatanku?"


"Semua sudah siap, Tuan. Keberangkatannya besok pagi," jawab Sandy.


"Baiklah, kau boleh kembali ke ruanganmu!" perintah Sean.


Sandy mengangguk lalu pamit undur diri, sedangkan Sean mulai sibuk dengan berkas-berkas yang harus ia kerjakan.


Ceklek! Suara knop pintu yang langsung mendapati pelototan tajam dari Sean.


"Harusnya kau permisi jika ingin masuk ke ruanganku, bukannya masuk begitu saja," geram Sean kesal.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen!


__ADS_2