
Keesokan harinya Rara dan keluarga sudah diperbolehkan pulang. Kamar yang dulunya di tempati Rio sudah didekor ulang, menjadi tempat ternyaman untuk Baby Caca.
Mansion Richard terlihat begitu ramai, karena seluruh keluarga besar sedang berkumpul, tanpa terkecuali.
Bastian serta istrinya, Rania dan suaminya menetap di mansion sampai acara First Month Celebration untuk baby Caca.
Tanpa terasa satu bulan telah terlewati dengan cepat. Rara memperhatikan suaminya sekarang memiliki kebiasaan aneh, Sean terus melingkari kalender setiap hari.
Sampai pada hari ini Rara sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya. Rara pun menanyakan tentang prilaku suaminya yang terus membuatnya bertanya-tanya sendiri.
"Sayang, sebenarnya apa yang kau lakukan. mengapa kau selalu menandai tanggal setiap hari?" tanya Rara.
Sapaan yang terdengar begitu membahagiakan bagi pendengaran Sean. Sapaan Sayang itu memang baru pertama kali terlontar dari mulut Rara, setelah kehadiran putri mereka.
"Aahhh ... akhirnya puasa panjangku sebentar lagi akan berakhir," sahut Sean penuh semangat, sudah 33-hari Sean menghitung hari dan itu artinya dalam seminggu ke depan dia sudah bisa meminta jatah pada istrinya.
"Jadi kau menghitung tanggal itu untuk menghitung masa nifasku!" seru Rara dengan nada tidak percaya.
Sebenarnya dari cek up yang rutin Rara lakukan, diketahui bahwa proses pemulihannya berjalan lebih cepat, dan dia sudah diperbolehkan melayani suaminya sejak empat minggu pasca persalinan.
Tapi karena kesal dengan kekonyolan suaminya itu, Rara pun berpikir untuk mengerjai suaminya. Rara pun mendekati Sean, lalu duduk di sampingnya sambil memasang raut wajah berdosa.
"Sayang maaf. Kata dokter, pemulihanku pasca melahirkan berjalan lebih lama, dan sudah dipastikan akan melebehi enam minggu. Dokter baru memperbolehkan melakukannya setelah lebih dari 10-minggu, semua itu karena proses pemulihan jahitan di organ intimku lambat. 10-minggu adalah waktu tercepat untuk menghindari risiko perdarahan pasca persalinan, dan kemungkinan terjadinya infeksi pada rahim," jelas Rara penuh sesal.
'Sepuluh minggu? Sedangkan ini baru minggu ke lima. Oh, Tuhan. Itu artinya puasa masih setengah jalan,' gumam Sean sambil menggaruk kepalanya.
Mau bagaimana lagi, saat ini Sean memang harus lebih bersabar. Sementara tubuh istrinya itu semakin hari semakin mengoda imannya.
__ADS_1
"Apa tidak ada obat yang bisa mempercepat pemulihannya?" tanya Sean tidak berdaya.
Rara menggelengkan kepala. "Ini sudah dibantu dengan pengobatan terbaik."
Sean menghela napasnya. "Yu sudah, jika memang harus begitu. Aku akan menunggunya dengan sabar, My Cherry."
Sean berdiri lalu mengecup puncak kepala istrinya. "Ayo kita keluar, ayah dan ibu pasti sudah menunggu untuk makan malam."
Rara menganggukkan kepala, dia berdiri lalu menggandeng tangan Sean keluar dari kamar.
"Rasanya mansion ini menjadi sepi lagi, padahal baru 2-hari Kak Dini dan Kak Rania pulang," ucap Rara sambil mendesah berat.
"Iya, Rio juga jadi kesepian karena sepupunya sudah pulang," sahut Sean.
Mereka tiba di meja makan, yang dilanjutkan makan malam bersama dengan hangat.
"Apa?" tanya ibu Lidya.
"Biar istriku saja yang menyampaikannya," jawab Sean.
"Begini, Bu. Aku berencana pulang ke Manado untuk berziarah ke makam Mama. Apa Baby Caca sudah bisa dibawa bepergian?" tanya Rara.
"Seharusnya sudah, lagi pula kondisinya sehat, ibu rasa tidak ada masalah," jawab Ibu Lidya.
"Oh syukurlah, Bu. Rencananya kami akan berangkat besok," imbuh Rara.
Ibu Lidya menganggukkan kepalanya, lalu mengalihkan pandangan pada suaminya. "Sayang sudah lama sekali kita tidak ke Manado. Mengapa kita tidak ikut saja, sekalian jalan-jalan bersama mereka."
__ADS_1
"Terserah, kalau kau mau ikut. Kita bisa berangkat besok," sahut Ayah Brian setuju.
Setelah semuanya sepakat, Rara dan Sean kembali ke kamarnya.
Rara menatapi raut wajah suami yang terlihat mendung, tidak bergairah sama sekali.
Rara pun jadi tidak tega melihatnya. "Sayang, apa kau sudah benar-benar menginginkannya?"
Sean menghela napasnya. "Tidak apa-apa, Sayang. Aku akan bersabar, dari pada harus menyakitimu."
Rara merentangkan tangannya. "Kemarilah, kau sudah boleh melakukan sekarang!"
Sean menaikkan sebelah alis matanya, wajah itu terlihat kembali bersemangat, tapi dia masih tidak beranjak dari tepat duduknya.
Melihat Sean yang masih ragu, Rara pun menjelaskannya.
"Sebenarnya kata dokter pemulihanku berjalan dengan baik, dan aku sudah bisa melakukannya sejak 4-hari yang lalu," ujar Rara terkekeh melihat wajah suaminya yang melas itu.
"Jadi kau sengaja mengerjaiku, ya?" seru Sean penuh semangat.
"Kalau begitu kau harus diberi hukuman!" Seperti orang yang benar-benar kelaparan, Sean mulai menyergap tubuh istrinya itu.
"Sean pelan-pelan, ya! Ini masih yang pertama," pinta Rara dengan suara yang mulai basah.
"Dengan penuh cinta, My Cherry ...."
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen.