
"Lihat itu, Dokter! Bahkan di saat seperti ini pun istriku masih berpikiran buruk tentangku," sahut Sean sambil menyeringai jahil, yang langsung mendapat cubitan keras dari Rara.
Dokter itu pun tersenyum malu, dia tidak tahu harus berkata apa, pada pasangan aneh yang ada di depannya ini.
Sekitar satu jam kemudian Rara kembali meringis sakit, dia mencengkeram tangan suaminya dengan keras saat kontraksi itu kembali. Rara merasakan sakit yang jauh lebih parah daripada menstruasi dan konstipasi.
Rasa sakit itu menjalar dari punggung bawah, lalu berpusat di perutnya yang terasa menegang. Napas Rara pun terengah menahan sakit yang berlangsung selama beberapa detik itu.
"Ya Tuhan, perutku seperti kram," lirih Rara bersamaan dengan keringat yang membanjiri tubuhnya, di saat kontraksi itu selesai.
Rara menghirup napas pelan-pelan, lalu menghembuskan dengan sama pelannya, apa yang dilakukan Rara diikuti oleh Sean. bukan apa, di saat Rara kontraksi tadi Sean juga merasakan sakit yang teramat, tepatnya karena gigitan keras Rara di lengannya.
Dokter yang melihat Rara terenga-engah, buru-buru memberikan air putih untuk Rara. "Minumlah, Nona. Agar persaanmu sedikit tenang "
Rara meraih gelas pemberian dokter, lalu meneguknya hingga tandas.
"Tuan, sebaiknya kita bergegas ke rumah sakit. Saat ini frekuensi kontraksinya sudah semakin sering, dan itu artinya kelahiran bayinya sudah dekat."
***
Sebuah ruang rawat presidential suite dipersiapkan menjadi ruang bersalin. Tim dokter keluarga Richard pun sudah disiagakan sebelum mereka tiba dirumah sakit.
__ADS_1
Begitu tiba di ruangan, Rara langsung diminta berbaring di atas brankar. Tim dokter langsung melakukan penanganan, dokter memasangkan selang infus demi memastikan Rara tidak kekurangan cairan elektrolit. Doker juga mengosongkan kantung kemih demi memastikan tidak ada yang menghambat kontraksi.
Begitu selesai, dokter pun memasang Electrocardiograph, yang berguna untuk memantau denyut jantung bayi dan kontraksi yang akan datang selajutnya.
Rara mencoba bertahan sekuat tenaga, menahan rasa sakit yang teramat di setiap kali kontraksinya kembali.
Sean mencoba untuk tidak panik, karena tadi sudah dinasehati ibunya saat di perjalanan menuju rumah sakit. Dia duduk sambil menggenggam lembut tangan Rara, mencoba menstimulasi pikiran istrinya itu, bahwa semua ini akan baik-baik saja.
"Ougghh ... sakit sekali!" erang Rara saat kontraksinya kembali datang. Rara menggengam tangan suaminya semakin keras, berharap dapat mengurangi sedikit rasa sakitnya.
Sang dokter obgyn langsung memeriksa bagian pribadi Rara, untuk mengetahui besaran pembukaan yang sudah dicapai.
"Air ketubannya pecah!" seru dokter Tya.
"Pecah? Kenapa bisa pecah? Dasar kalian tidak becus!" raung Sean, dia hendak berdiri untuk memarahi dokter yang sedang fokus pada pekerjaannya.
"Kalau tidak pecah bagaimana bayimu bisa keluar Sean!" seru dokter Alya menarik telinga Sean, hingga anak bodoh itu tidak jadi berdiri dari tempat duduknya.
"Sudah onty bilang sejak tadi, kau cukup duduk dan berikan istrimu ketegaran. Jangan membuat keadaan menjadi panik, kalau kau tidak bisa diam, sana pergi ke ruang tunggu bersama keluarga yang lain," geram dokter Alya.
"Iya, Onty. Aku pikir apanya yang pecah," lirih Sean kembali duduk, sambil memegangi telinganya yang memerah.
__ADS_1
Sean menatap khawatir pada Rara, istrinya itu selalu menjerit kesakitan setiap kontraksinya datang. Rasa sakit yang Sean rasakan setiap pagi selama beberapa bulan ini. Rasa tidak ada apa-apa, jika dibandingkan rasa sakit yang ditanggung Rara saat ini.
Saat ini, frekuensi kontraksi yang datang menjadi lebih cepat, bahkan belum beberapa menit sudah kembali kontraksi, dengan lebih kuat dan menyakitkan. Dan di setiap itu pula Rara merintih kesakitan, membuat air mata Sean ingin menitik, mengkhawatirkan istrinya, Sean bahkan tidak peduli tangannya yang diremas Rara saat kontraksi itu datang.
Rara mulai merasakan dorongan yang kuat di area pribadinya, ini adalah efek dari kontraksi yang kuat tadi, dan kini si bayi menuju jalan lahirnya.
"Sudah pembukaan sepuluh, Nona Rara ikuti instruksi saya, kalau saya bilang mengejan anda harus mengejan dan saat saya bilang berhenti, Anda berhenti," pinta dokter Tya.
Rara mengangguk dengan sisa-sisa tenaga yang masih ia miliki.
"Tarik nafas dalam-dalam, buang perlahan. Dan mengejan sekarang," instruksi dokter Tya yang langsung diikuti Rara.
Rara berusaha mengejan sekuat tenaga, mencoba mendorong bayinya keluar. Di saat Rara mengejan, di saat itu pula Sean menjerit, karena Rara berusaha menutupi rasa sakitnya dengan menjambak apa saja yang ada di kepala suaminya itu.
"Berhenti," pinta dokter Tya.
Rara langsung berhenti, Sean menghela napas lega, Rara mengkuti instruksi perawat yang memintanya untuk mengatur napas pelan-pelan dari hidung, lalu membuang dengan sama perlahannya dari mulut.
Sesaat kemudian dokter Tya kembali meminta Rara untuk mengejan, setelah beberapa kali mengejan, yang saling bersahutan dengan jeritan Sean, akhirnya terdengarlah tangis kencang dari bayinya yang memenuhi ruangan tersebut.
"Selamat Sean, bayimu perempuan," ucap dokter Alya menerima bayi tersebut dari dokter Tya.
__ADS_1
"Kau hebat My Cherry. Anak kita sudah lahir, dan dia perempuan!" seru Sean penuh haru, lalu menghujani wajah istrinya dengan kecupan.
Bersambung.