My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Peduli Atau Modus


__ADS_3

Ceklek! Suara knop pintu yang langsung mendapati pelototan tajam dari Sean.


"Harusnya kau permisi jika ingin masuk ke ruanganku, bukannya masuk begitu saja," geram Sean kesal.


Rara melangkah masuk tanpa mempedulikan tatapan tajam Sean.


"Aku memang sengaja tidak permisi, karena berharap bisa menangkap basah kau sedang berbuat mesum di kantormu," balas Rara tak kalah ketus.


"Ck ... habiskan saja sisa umurmu untuk berprasangka buruk," rutuk Sean.


Sean menggelangkan kepalanya, istrinya itu memang punya kebiasaan membuat orang naik darah, bahkan dengan pernikahan mereka yang sudah menginjak 2-bulan, pasangan itu masih terlihat seperti anjing dan kucing.


Tidak ada hari yang mereka lewati tanpa adu mulut, mungkin hanya pada malam hari saja mereka terlihat lebih akur. Tapi perdebatan-perdebatan tidak penting itulah yang membuat hubungan mereka semakin dekat.


Rara duduk di sofa yang ada di ruang kerja Sean, lalu membuka bingkisan yang di bawanya. "Aku membawakan makan siang untukmu!"


Sean tersenyum lalu beranjak dari tempat duduknya, ia menghampiri Rara yang sedang menyiapkan makan siang untuknya.


Rara memberikan satu piring makanan untuk Sean, baru kemudian mengambilkan makanan untuknya sendiri. Mereka pun melakukan santap siang bersama.


"Besok aku akan pergi ke Singapura selama satu minggu," ujar Sean di sela-sela menyantap makan siangnya.


"Aku tidak peduli," sahut Rara acuh.


"Aku hanya mengingatkan, agar kau menjaga stamina hari ini, karena nanti malam aku akan membuatmu lembur satu malam penuh!" goda Sean dengan seringai licik di wajahnya.


Rara mendelik mendengar ucapan Sean yang tidak tahu waktu itu, ia mengangkat kaki lalu menginjak kaki suaminya itu sekeras-kerasnya dengan ujung tumit.

__ADS_1


"Aaww ... apa salahku!" keluh Sean dengan wajah meringis menahan sakit.


"Ck ... masih tidak tahu salahmu ya?" Rara kini menendang tulang kering Sean, sambil menghunuskan tatapan tajam. "Jaga mulut kotormu itu saat sedang makan!"


"Ah, padahal aku hanya mengingatkanmu untuk mempersiapkan diri," kilah Sean.


Rara semakin menajamkan tatapannya. "Masih mau?"


Sean menggelengkan kepalanya, ia memilih mengalah dan melanjutkan makan siangnya dengan aman.


Mereka selesai makan siang, Rara kembali merapikan sisa-sisa makanan mereka.


"Aku harus kembali ke kantor, banyak yang harus dipersiapkan di sana. Karena lusa Luna akan berangkat ke Paris untuk mengikuti fashion show di sana," pamit Rara.


Sean menganggukkan kepala, ia mengantarkan Rara sampai ke depan pintu. "Terimakasih untuk makan siangnya ...."


Malam itu, Sean terlihat baru pulang dari kantor, dengan membawa sebuah kantong berisi papper box di tangannya. Dengan langkah penuh semangat, Sean segera memasuki mansionnya.


Sean memberi salam kepada ayah Brian dan ibu Lidya, yang tengah bersantai di ruang keluarga, bersama putranya yang entah kapan akan ia sadari itu.


"Ibu, di mana Rara?" tanya Sean.


"Di kamar, Nak," sahut ibu Lidya.


"Baiklah. Ayah, Ibu, kalau begitu aku pamit ke kamar."


Sean berlalu menuju kamarnya, setelah berpamitan kepada orang tuanya.

__ADS_1


Brian dan Lidya saling memandang dan melempar senyum, Manatap pungung putra bungsunya itu. Mereka senang melihat perubahan Sean. Apalagi anaknya itu sekarang sudah mulai giat bekerja, dan mulai meninggalkan kebiasaan buruknya.


"Lihatlah, anak bodoh itu sekarang banyak berubah, dia sekarang sudah mulai menerima keberadaan Rara. Aku rasa tidak ada salahnya kita memberitahu tentang Rio, daripada harus menunggu dia sadar sendiri, mungkin akan sampai lebaran monyet," tutur Brian sambil terkekeh pelan.


"Aku setuju! Kita beritahu setelah dia pulang dari Singapura," sahut Lidya.


Di dalam kamarnya, Rara terlihat sedang merapikan pakaian untuk keberangkatan Sean besok. Melihat kedatangan Sean, Rara pun menunda sementara pekerjaannya, lalu beranjak menghampiri suaminya tersebut.


"Kau sudah pulang!" Rara mengambil tas berikut jas yang di kenakan Sean.


"Apa menurutmu kau sedang berhalusinasi!" sahut Sean, lalu mengulurkan paper box yang dibawanya. "Aku membawakan bobengka untukmu, kemarin kau menginginkannya, bukan!"


"Bobengka! Iya, aku sangat menginginkannya, aku kemarin mencari jualannya ke mana-mana, tapi tidak ketemu. Terimakasih!" seru Rara sumringah sambil mengambil kantong tersebut.


Rara mendudukkan dirinya di sofa, ia membuka papper box berisi kue yang mirip dengan brownies, yang merupakan kue manis khas daerahnya tersebut, lalu mulai menyantapnya.


Sean duduk di samping istrinya, ia memperhatikan Rara yang sedang menikmati kue tersebut dengan lahap.


Merasa ada yang aneh dengan tatapan Sean, Rara pun meghentikan aktivitas mengunyahnya.


"Kue ini gratis, kan?" tanya Rara dengan tatapan penuh telisik, takut-takut ada modus di balik kebaikan Sean sekarang.


"Tidak ada yang gratis di dunia ini, Nona! Kau harus membayarnya setelah ini," sahut Sean dengan seringai liciknya, yang penuh dengan akal bulus itu.


Bersambung.


Jangan lupa like, vote dan komen.

__ADS_1


__ADS_2