My Beloved Presdir

My Beloved Presdir
Resepsi Berakhir


__ADS_3

"Selamat, Ra! Semoga kamu bahagia dengan pernikahan ini," ucap damar sambil tersenyum, tapi tidak dapat menghilangkan kesan meratap dalam nada bicaranya.


Rara menatap haru pada Damar, dia adalah pria yang baik, sayangnya Damar tidak cukup beruntung, karena harus kehilangan istri tercinta saat melahirkan Diana.


"Damar ... terima kasih, semoga kamu bisa mendapatkan istri yang baik, ibu yang baik untuk Dian juga tentunya," sahut Rara sambil tersenyum tulus.


Rara berjongkok di depan Diana, kedua tangannya mengenggam lembut bahu gadis kecil itu.


"Sayang, kamu jangan sedih! Meskipun tante nggak bisa jadi mama kamu, tapi tante akan tetap sayang sama kamu, kamu boleh datang seperti biasa ke rumah tante, kamu masih bisa main sama Rio setiap hari, dan kalau kamu mau, kamu boleh panggil tante dengan sebutan mama, Nak!" bujuk Rara, yang dibalas tatapan sedih oleh Diana. Namun, meski begitu, gadis kecil itu tetap menganggukkan kepalanya.


Setelah itu Damar membawa putrinya meneninggalkan acara resepsi, Rara memandangi punggung Damar yang berjalan menjauh sambil bergumam dalam hati. "Semoga kamu mendapatkan yang terbaik, Damar!"


Kini hanya tinggal keluarga Richard, dan kerabat dekatnya saja yang masih berada di ballroom. Sean menarik Rara menemui keluarganya.


"Bu, Ayah. Kami akan ke kamar untuk beristirahat," ujar Sean.


"Pergilah! Jangan terlalu terburu-buru, adik iparku itu masih kelelahan!" celutuk Rania sebelum ibunya sempat menyahuti perkataan Sean.


Sean mendengus kesal sambil memelototi kakaknya. "Cihh ... jangan mengada-ada!"


"Sudah, kalian pergi saja sana!" perintah Lidya cepat, daripada harus mendengar perdebatan tidak penting antara kakak beradik itu.

__ADS_1


Sean dan Rara berpamitan, mereka langsung menuju lift, yang akan membawa mereka menuju kamar pengantin. Mereka keluar dari lift, lalu melangkah menuju kamar presidential suite yang sudah dipersiapkan untuk mereka.


"Sean, lepaskan tanganku!" protes Rara, karena Sean berjalan dengan sangat cepat, dan itu membuat Rara hampir tersandung gaunnya sendiri.


"Kenapa aku harus melepaskan tanganmu?" tanya Sean sambil menaikkan sebelah alis matanya.


"Sudah tidak ada orang di sini. Jadi kau tidak perlu bersandiwara lagi, dan jangan modus!" seru Rara sinis.


"Sandiwara apa yang kau maksud? Kita benar-benar sudah menikah, dan ini sah!" sahut Sean sambil menyeringai jahil.


Sean mulai mendekatkan wajahnya ke arah Rara, hingga membuat istrinya itu memundurkan tubuhnya.


"K-kau mau apa? Kita masih di koridor, nanti ada orang yang lewat," ucap Rara dengan sedikit tergagap.


"Baru begini saja kau sudah panik! Apa cuma pura-pura panik, lagipula buang jauh-jauh pikiran kotormu itu, aku tidak tertarik padamu, dan jangan harap aku akan menyentuhmu," desis Sean seraya berlalu meninggalkan Rara, ia masuk ke kamar pengantin terlebih dahulu.


Rara menghentakkan kakinya kesal, karena ditinggal begitu saja.


"Ciihh ... tidak tertarik katamu? Baru punya kesempatan sedikit saja kau sudah menciumku. Ah, sial! Mengapa aku malah membalas ciumannya waktu itu!" Rara merutuki dirinya sendiri, karena mengingat kejadian saat masih di mansion.


Entah mengapa saat itu Rara seperti kehilangan dirinya, bukannya menolak. Rara malah membalas kecupan itu dengan penuh rasa.

__ADS_1


Dengan langkah kesal Rara menyusul Sean. Entah kesal pada Sean, atau mungkin malah kesal pada dirinya sendiri, karena begitu mudah terbuai oleh Sean.


Kamar Presidential suite hotel mewah ini memiliki ruang yang sangat luas, dengan interior yang didominasi warna biru tua dan putih, ditambah berbagai furniture kelas premium, yang mengisi bagian dalamnya.


Kamar presidential suite ini dibagi menjadi dua, di ruang depan terdapat sebuah sofa yang dilapisi velvet berwarna biru, menghadap langsung ke sebuah LED TV berukuran jumbo, lengkap dengan home theaternya.


Tidak sampai di situ, pada beberapa bagian kamar juga diberi aksen warna emas, sehingga kesan mewah kamar ini terasa lebih kental. Di bagian langit-langit terdapat sebuah lampu yang didesain seperti bola-bola kristal putih, yang mengantung indah.


Rara memasuki kamar tidur utama, ia melihat tempat tidur ukuran extra king size di tengah kamar, yang membuat Rara menggeleng sendiri. Ditambah lagi terdapat sebuah lukisan besar hasil karya seniman ternama dari eropa, yang menghiasi dinding, di bagian atas headboard ranjang.


"Benar-benar pemborosan yang hakiki," gumam Rara, karena begitu masuk ke kamar ini, hanya ada satu kesan yang di tangkap mata Rara. Mewah, sangat mewah dan terlalu mewah.


Rara berjalan menuju meja rias, ia membuka semua pernak-pernik perhiasan yang menempel di tubuhnya, kemudian menyanggul rambutnya yang tergerai indah.


Sean yang duduk di atas ranjang menelan salivanya dengan susah, ia terpukau melihat adegan Rara yang sedang menyanggul rambutnya.


Mata Sean tak lepas dari leher jenjang milik Rara. Sambil menyeringai jahil Sean turun dari tempat tidur. Dia mendekati istrinya itu lalu merangkul pinggang Rara dari belakang, dengan wajah yang sudah menempel di leher Rara.


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan like, vote, hadia dan komen! Agar author makin semangat upnya!

__ADS_1


Terima kasih!


__ADS_2