
Sandy dan Gery langsung berdiri saat dokter Alya keluar dari ruang rawat.
"Apa dia baik-baik saja, Mom?" tanya Sandy cepat.
"Dia baik-baik saja, tapi dia baru akan bangun besok pagi," jawab dokter Alya.
Sandy dan Gerry saling menukar tatapan karena bingung. Jelas-jelas bodyguard itu hanya memukul tengkuk Sean, mengapa membutuhkan waktu selama itu untuk sadar.
"Be-besok pagi? Mangapa lama sekali, Mom?" tanya Sandy heran.
"Dosis obat perangsang yang diminumnya sangat tinggi, jadi mom memberinya obat tidur dengan durasi yang sama dengan obat itu. Nanti dia akan terbangun bersamaan dengan efek obat perangsang yang sudah menghilang," jelas dokter Alya.
"Baiklah, mom tinggal dulu. Kalian jaga teman kalian itu," ucap dokter Alya sebelum berlalu meninggalkan mereka.
"Kau saja yang menemaninya, Ger! Perkerjaanku jadi terbengkalai karena ulah bodohnya. Belum lagi aku harus menjelaskan kepada uncle Brian tentang kejadian ini," keluh Sandy.
"Apa Rara mendapatkan pengawalan?" tanya Gerry.
"Iya, kau tenang saja." Sandy pun berlalu meninggalkan Gerry.
Setelah Sandy pergi, Geery pun masuk ke ruang rawat, untuk menamani Sean.
***
Pagi harinya Sean mulai mengerjapkan matanya, dia sangat terkejut saat menyadari dirinya tengah berada di ruang rawat rumah sakit.
Sean langsung turun dari brangkar dan menghampiri Gerry yang masih tertidur di tempat tidur keluarga.
"Ger, bangun!" Sean mengguncang tubuh temannya itu.
"Ahkkk ...." Gerry mulai menggeliat. "Kau ini mengganggu saja!"
__ADS_1
Gerry pun mendudukkan dirinya dengan gerakan malas.
"Mengapa aku bisa di rumah sakit? Apa yang terjadi pada istriku? Apa dia sudah selamat?" tanya Sean tidak sabaran.
Gerry menggelengkan kepala sambil berdecak kesal. "Kau berada di rumah sakit karena bodoh, dan terlalu ceroboh!"
"Apa maksudmu?" tanya Sean kesal.
"Rara tidak diculik, dan kau dengan bodohnya termakan jebakan Julie. Asal kau tahu Rara bahkan melihatmu bergumul dengan Julie," jawab Gerry.
"Arrgghh ... sial!" Sean langsung terduduk lemas mengingat kejadian kemarin. Sean beberapa kali meninju lantai karena kesalnya.
'Ra, kau pasti akan salah paham padaku, tapi asal kau tahu, Ra. Aku melakukan itu demi keselamatanmu, demi calon anak kita. Aku tidak bermaksud mengkhianatimu, Ra. Aku mencintaimu,' isak Sean, tampak satu dua tetes air mata penyesalan mulai menitik dari pipinya.
"Maksudmu untuk melindungi istri dan calon anakmu itu benar Sean. Tapi salahnya kau terlalu ceroboh, apa alasanmu sampai segitu yakin Rara bisa diculik? Sedangkan dia selalu dikawal bodyguard terbaik orang tuamu." Gerry menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.
"Kau tidak tahu seperti apa paniknya seorang suami, saat mendengar nyawa istri dan calon anaknya sedang terancam, Ger. Pagi itu Julie memberikan rekaman video pesta kelulusan kalian, yang kau sebut itu asli. Jadi aku langsung bepikir video penyekapan istriku juga asli. Ditambah lagi saat di perjalanan, aku mencoba menghubungi istriku berkali-kali, tapi tidak ada jawaban. Itu semua membuatku semakin percaya bahwa nyawa istriku sedang terancam oleh Julie sialan itu," isak Sean penuh penyesalan.
'Oh, Tuhan. Maafkan aku, Ra. Aku memang bodoh, tapi percayalah. Kebodohan ini karena aku terlalu mengkhawatirkanmu, karena aku mencintaimu,' lirih Sean dalam hati.
"Apa aku sempat meniduri Julie?" tanya Sean khawatir.
"Tidak, tapi nyaris!" jawab Gerry yang membuat Sean sedikit bernapas lega.
"Ger, ayo temani aku untuk mencari istriku, dia pasti ada di apartemennya." Sean menarik Gerry turun dari Ranjang.
Gerry berdecak kesal karena mau tidak mau harus menemani Sean. Mereka pergi ke apartemen Rara, tapi mereka tidak menemukan keberadaan Rara di sana.
Begitu pula saat mereka pergi ke kantor Rara, mereka tidak menemukannya di sana. Sean bahkan harus bersabar menerima amukan Luna, yang sampai mengajaknya untuk berduel.
Tentu saja Sean tidak mau, karena dia akan serba salah, akan sangat malu jika dikalahkan seorang wanita. Menang pun lebih malu lagi, karena berani berkelahi dengan wanita, belum lagi Rara yang pasti akan semakin membencinya, karena berani menyakiti sahabatnya itu.
__ADS_1
Dengan wajah frustasi Sean mengajak Gerry meninggalkan kantor paradise fashion. Mereka memutuskan untuk mencari sarapan, karena perut yang mulai keroncongan.
***
Di negri nan jauh. Sepasang suami istri yang sudah cukup berumur, tampak akan melakukan pergumulan panas di atas tempat tidurnya. Tangan ahli Brian sedang bergrilya menelusuri titik sensitif istrinya, yang membuat Lidya mendesah parau, desahan yang masih sama liar dan menggoda, seperti saat mereka masih muda dulu.
Dering ponsel tiba-tiba mengganggu tepat di saat Brian akan memasuki istrinya, sambil mengumpat kesal Brian menunda aktivitas mereka, entah orang gila dari mana yang berani mengganggunya malam-malam begini.
Brian melihat nama pemanggil di layar ponsel.
"Anak ini sepertinya mau mati!" geram Brian, yang langsung menggeser tombol hijau dengan kasar.
"Ada apa?" bentak Brian.
"Ayah, di mana istriku, aku sudah mencarinya ke mana-mana tapi tidak ketemu," keluh Sean.
"Mana aku tahu! Kau itu suaminya, mengapa malah menanyakan keberadaan istrimu padaku?" geram Brian semakin kesal.
"Ayolah ... Ayah. Ayah pasti tahu di mana istriku." Sean memohon dengan nada melas.
"Aku tidak tahu, kau ini mengganggu waktu istrahatku saja!"
"Ayah mau istirahat apa? Ini masih pagi!"
"Pagi ... gundulmu itu!" geram Brian memutuskan sambungan, lalu melempar ponselnya ke atas meja nakas.
Brian kembali naik ke atas tempat tidur, untuk melanjutkan aktivitas mereka yang sempat tertunda.
Bersambung.
Jangan lupa like, vote dan komen.
__ADS_1