
Rara menganggukkan kepalanya, dia memperkenalkan Sean pada Agatha. Mereka pun menceritakan kisah masing-masing setelah lulus kuliah.
Dan ternyata Agatha bekerja sebagai manager, di rumah mode Artesania Toledo cabang Barcelona, yang tak lain adalah bagian dari BC grup. Tapi Rara tidak ingin menceritakan bahwa rumah mode tersebut adalah miliknya.
Rara ingin membangun BC grup kembali, untuk itu dia akan memilih para pekerja yang benar-benar kompeten. Tidak ada alasan pertemanan, Agatha hanya akan bertahan jika dia memiliki pekerjaan baik sebelumnya. Dan Wina sekertarisnya sudah mengantongi nama-nama pegawai yang menjadi duri dalam daging perusahaan, hanya saja Rara belum tahu apakah agatha termasuk di dalamnya.
Tak lama kemudian tampak Rian datang, dia sedikit tecengang karena melihat keberadaan Rara. "Rara ... sedang apa kau di sini?"
"Aku hanya sedang jalan-jalan bersama suamiku, dan kebetulan betemu Agatha. Jadi Agatha ini istrimu?" tanya Rara.
"Ya, kami baru saja menikah 2-minggu yang lalu, kebetulan Agatha ada pertemuan dengan boss baru katanya, jadi kami datang ke sini, sekalian berbulan madu, karena Agatha sangat sibuk dengan pekerjaannya," jawab Rian.
"Kebetulan kita bertemu di sini, Ra. Aku juga ingin minta maaf," lanjut Rian.
"Minta maaf buat apa? Kalau yang dulu-dulu itu, aku sudah melupakannya," sahut Rara.
"Bukan, tapi tentang aku yang menemuimu untuk meminta pekerjaan. Sebenarnya waktu itu Vita mempengaruhiku untuk menghancurkanmu, dengan imbalan dia akan membebaskan asetku yang di sita bank. Tapi sepertinya rencana kami terlalu mudah terbaca. Aku memutuskan pergi setelah Vita membebas asetku, karena aku juga sudah malas berhubungan dengan wanita sepertinya," ucap Rian.
'Persis seperti tebakanku waktu itu, hanya saja aku tidak kepikiran ada andil Vita di dalamnya,' gumam Rara.
'Kau beruntung, Ra. Kau mendapatkan keluarga yang sangat menyayangimu. Aku juga turut bahagia untukmu, Ra. Dan aku bersukur karena masih diberi kesempatan untuk memperbaiki hidupku, aku cukup beruntung, karena memiliki Agatha yang membantuku bangkit dari keterpurukan.' batin Rian.
__ADS_1
"Ah, bagaimana kalau kita lanjutkan reuninya, sambil makan malam," ajak Sean.
Semuanya setuju, dan mereka pun sepakat untuk mencari makan malam. Mereka langsung meninggalkan kawasan templo de debod, karena penjaga sudah memberi kode agar para pegunjung meninggalkan kawasan.
***
"Jadi Rian itu mantanmu?" tanya Sean.
Saat ini mereka sudah kembali ke hotel, ini adalah pertama kali Sean diizinkan tinggal di kamar istrinya itu.
Tentu saja ini adalah anugrah bagi Sean, karena sudah beberapa hari ini dia harus menahan kerinduan pada istrinya itu.
Rara sedang bermanja-manja di atas dada bidang milik Sean, bagaimanapun dia juga merindukan suaminya itu, meskipun tidak ada pengakuan yang keluar dari mulutnya.
"Mengapa menanyakan tentang Rian?" tanya Rara.
"Tidak apa-apa," sahut Sean lalu memberikan kecupan di puncak kepala Rara.
Rara mendongakkan kepala menatap Sean. Mencari keberadaan raut kecemburuan pada wajah suaminya itu. Rara tidak ingin masa lalunya menjadi masalah, apalagi selama ini Sean selalu posesif saat mengetahui Rara dekat pria, bahkan itu berlaku pada sepupunya sendiri.
"Apa kau cemburu pada Rian? Dia cuma masa laluku," ucap Rara.
__ADS_1
Sean menyeringai lebar. "Untuk apa aku cemburu padanya, malahan aku akan berterimakasih padanya."
"Berterimakasih?" ulang Rara mengkerutkan dahinya.
"Iya, berterimakasih karena sudah membuat bidadariku patah hati, lalu pergi ke club untuk melampiaskan sakit hatinya. Kalau bukan karenanya mungkin aku tidak pernah bertemu bidadari hidupku ini." ujar Sean.
Rara sontak menjauhkan tubuhnya, dia paham betul apa yang akan terjadi selanjutnya, jika suaminya itu sudah memuji seperti ini.
Sean tidak membiarkan istrinya itu menjauh, dia mendekap Rara diiringi bibirnya yang mencari titik sensitif di tubuh Rara.
"Sean, aku tidak mau. Aku lelah." Rara mencoba mengelak dari cumbuan Sean.
"Kau selalu mengatakan itu, My Cherry. Tapi pada akhirnya kau lah yang meminta lebih. Malam ini aku akan membuatmu menjerit sama seperti saat di Milan malam itu." Sean menyeringai lalu kembali menyerang Rara.
"Sean minggir!" Rara mendorong tubuh suaminya, karena mendengar mendengar suara bell kamarnya berbunyi.
"Sialan pengganggu itu ...." Sean hanya bisa berdecak memandang punggung istrinya yang kini berjalan menuju pintu.
Bersambung.
Jangan lupa like, vote dan komen.
__ADS_1