
Di apartemen Vita.
Maya terlihat panik, ia beberapa kali menghubungi Vita, tapi nomor ponsel putrinya itu tidak aktif. Maya dan Dion sedang bergegas untuk mengemasi barang-barangnya, mereka harus segera pergi meninggalkan Jakarta, kalau perlu mereka akan pergi ke luar negri.
"Ini pasti ulah Lidya sialan itu! Wanita itu memang kekurangan pekerjaan, apa untungnya bagi dia mengusut kematian Maira sampai sejauh ini," umpat Maya sambil terus membereskan barang-barangnya.
Selama ini Maya menyangka, apa yang dia lakukan pada kakaknya tidak akan pernah terbongkar. Tapi ternyata salah, padahal Maya menyingkirkan kakaknya dengan sangat hati-hati dan penuh perhitungan. Bahkan perlu bertahun-tahun dalam menjalankan prosesnya.
Kepanikan ini terjadi karena Maya mendapat kabar, tentang penangkapan salah seorang pelayannya oleh Jefry, bersama dengan seorang dokter yang selama ini memberikan racun arsenik kepada Maya.
"Mereka memang melakukan segalanya untuk membongkar kasus ini, bahkan mereka sudah menggali informasi ini dalam waktu 3-bulan ini," sahut Dion yang tidak kalah panik.
Dion dan Maya tahu apa yang sedang menantinya, penjara. Tidak sampai di situ, semua ini tidak akan selesai begitu saja saat mereka masuk penjara, Brian pasti akan menyusupkan orangnya ke penjara untuk memberikan siksaan tambahan. Karena itulah Dion dan Maya ingin segera kabur terlebih dulu, sebelum mereka tertangkap.
"Vita kau di mana, Nak. Mengapa nomormu tidak bisa dihubungi," desah Maya frustasi, dia terus mencoba menghubungi putrinya, tapi masih tidak aktif.
"Cepatlah berkemas! Kita pergi saja lebih dulu, waktu kita tidak banyak, orang-orang suruhan Brian pasti akan begererak cepat," seru Dion.
__ADS_1
"Tapi Vita ...."
"Kau tenang saja, dia bisa menyusul nanti, mereka tidak akan mengganggu Vita, karena anak kita itu tidak terlibat dalam kasus ini," sahut Dion.
***
Mansion Richard.
"Racun Arsenik?" gumam Lidya sambil membaca berkas yang diberikan asisten pribadi suaminya.
Brian menganggukkan kepala. "Arsenik adalah racun yang bisa terbuat secara organik maupun anorganik. Jadi ada kemungkinan Racun ini bisa ditemukan secara alami dalam makanan seperti sayuran, susu dan daging. Di sinilah kepintaran Maya, dia membayar pelayan untuk memasukkan racun arsenik dalam kadar rendah ke dalam makanan Maira sehari-hari."
"Arsenik tidak memiliki warna, bau, ataupun rasa. Ditambah Maya memberikannya dalam kadar rendah, jadi Maira tidak akan merasakan apa-apa, karena tidak ada efek instan dari racun ini. Maya memanfaatkan paparan rendah dari racun ini, untuk membuat Maira mengalami gangguan kesehatan dalam jangka panjang. Sehingga jika tidak diselidiki secara detail, orang-orang benar-benar akan mengira maira meninggal karena serangan jantung. Memang serangan jantung, serangan jantung yang dibuat secara perlahan," jelas Brian.
"Sedikit demi sedikit racun arsenik kadar rendah, dalam jangka panjang itu akhirnya membuat Maira mengalami gagal jantung," sambung Lidya.
"Benar sekali! Cara Maya bermain sangat halus dan rapi, itulah yang menyebabkan penyelidikan ini memakan waktu berbula-bulan," sahut Brian.
__ADS_1
"Kejam sekali perlakuan Maya, membubuh kakaknya sendiri dengan perlahan." Lidya menggelengkan kepalanya, tidak ada yang mengira seorang adik akan melakukan hal itu pada kakaknya sendiri.
Mata Lidya berkaca membayangkan nasib sahabatnya, Sekian lama Maira hidup menjadi pesakitan karena ulah adiknya sendiri, lalu meninggal dengan membawa luka yang mendalam. "Dia harus membusuk dalam penjara karena kekejamannya ini, dia harus menanggung akibat dari pebuatan ini."
"Tentu Sayang! Aku tidak akan melepaskan siapa pun yang membuat istriku menangis." Brian mengusap puncak kepala istrinya.
Jefry yang sedari tadi hanya diam, baru saja menerima pesan masuk di ponselnya. "Tuan, sepertinya kabar tentang penangkapan pelayan kemarin sudah sampai ke telinga Dion dan Maya. Jadi ada kemungkinan mereka akan pergi dari sini untuk melarikan diri."
"Siapkan orang-orangmu, kita ringkus mereka sekarang. Mereka tidak boleh lepas!" Brian berdiri dari tempat duduknya.
Lidya ikut berdiri. "Aku ikut ...."
"Permaisuriku, ini urusan laki-laki. Kau duduk manis saja di sini, dan tunggu kabar baiknya," tolak Brian
Lidya menajamkan tatapannya, yang membuat Brian langsung tersenyum getir. Brian tahu pilahan yang akan diberikan istrinya jika dia masih menolak.
Bahkan hanya dengan membayangkan dirinya akan tidur di sofa sudah membuat Brian langsung menciut, Brian menghela napas berat. "Baiklah, kau boleh ikut."
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa like, vote dan komen.