
"Hei ... apa yang ingin kau lakukan!" sentak Sean yang tiba-tiba terbangun, saat Rara ingin mengambil Rambutnya.
"Ehmm ... a-aku hanya ingin membangunkanmu, ayah dan ibu pasti sudah menunggu kita untuk sarapan." Rara memberi alasan sekenanya, sambil menahan napas agar tidak terlihat gugup.
"Oh ... itu, aku pikir kau sudah tidak tahan ingin menyentuhku, karena tubuhku terlalu menggoda imanmu," goda Sean sambil turun dari Ranjang.
Rara bergidik mendengar perkataan Sean, rasa gugup yang tadi rasakan langsung berubah menjadi rasa kesal, karena mendengar celotehan konyol tersebut. "Sepertinya rasa percaya dirimu itu tidak sesuai kenyataan."
"Kau bisa mengatakan itu, tapi pada kenyataannya. Aku berhasil membuatmu mengerang dan mendesahkan namaku, saat aku membawamu menuju puncak. Tapi itu bukan masalah, karena suara paraumu itu sudah membuatku ikut menikmati permainan kita," bisik Sean di telinga Rara dengan sombong, kemudian berlalu meninggal Rara menuju kamar mandi.
Sementara itu wajah wanita yang ditinggalkannya memerah padam, sambil berdecak kesal. Pria ini benar-benar tidak tahu malu, dia lah yang memulai semuanya, lalu sekarang dengan entengnya dia berkata ikut menikmati pergulatan itu, seolah-olah bukan dia yang memulai pergumulan panas mereka.
Rara berjalan menuju lemari pakaian, ia mengambilkan baju ganti untuk Sean, lalu merapikan tempat tidur, sembari menunggu Sean keluar dari kamar mandi.
Rara tersenyum melihat apa yang ditangkap oleh netra matanya di atas tempat tidur, itu adalah rambut Sean, ia mengambil lalu segera menyimpannya.
"Nasib memang sedang berpihak padaku! Aku tidak perlu mengambil sampel ini secara langsung darinya," gumam Rara pelan.
Ranjang tidur mereka memang acak-acakan, dengan posisi spray yang tidak karuan, akibat aktivitas mereka semalam. Begitu juga rambut yang didapat Rara sekarang, kemungkinan besar itu adalah hasil jambakannya, di saat-saat ia menikmati indahnya puncak percintaan mereka semalam.
Tak lama kemudian Sean pun keluar dari kamar mandi, dengan tubuh berbalut handuk sebatas pingggang. Rara yang sudah menyiapkan baju ganti untuk Sean, langsung beranjak dari tempat tidur, ia lebih baik menunggu Sean di sofa saja.
"Kau mau ke mana?" tanya Sean.
__ADS_1
"Pargi dari sini, aku tidak mau mataku menjadi katarak, karena melihat cacing absurdmu itu lagi," ketus Rara seraya berlalu menjauh dari Sean.
"Hahaha ... sungguh konyol." Sean tertawa keras. "Yang kau bilang cacing absurd ini sudah membuatmu mengerang sepanjang malam," teriaknya.
Rara duduk menunggu Sean berpakaian, tak lama kemudian suaminya itu datang menghampirinya. Sean berdiri di samping Rara, Sean memposisikan lengannya membetuk setengah bulatan di pinggang.
Raa menaikkan sebelah alis matanya, tentu saja ia mengerti maksud Sean, tapi Rara mengacuhkannya, ia tidak menggandeng lengan Sean.
"Ayo kita sarapan, ayah dan ibu pasti sudah menunggu kita," ucap Rara, ia melangkah melewati Sean, dan berjalan di depan.
"Heii ... apa kau hanya bisa bersikap manis di atas ranjang saja!" Sean setengah berteriak, lalu mengejar Rara yang berjalan lebih dulu.
"Baiklah, kalau begitu, begini saja tidak masalah!" Sean merangkul pinggang Rara, sambil menyeringai lebar.
"Nyaman, sudah pasti! Itulah yang ada di pikiranmu saat ini. Ya ... memang tidak ada satu wanita pun yang bisa menolak pesonaku," ujar Sean dengan sombongnya.
"Ck ... kau benar-benar membuatku ingin muntah, memangnya jika aku memberontak, kau akan melepaskan rangkulan ini," suntuk Rara.
"Ehhmm bisa jadi iya, bisa jadi tidak!"
"Kau adalah pria paling tidak konsisten yang hidup di dunia ini," desis Rara pelan.
Mereka tiba di ruang makan, Rara menyapa kedua mertuanya, ia juga memberikan kecupan di puncak kepala Rio, putranya. Lalu dilanjutkan dengan sarapan pagi bersama.
__ADS_1
"Ayah, Ibu. Aku pamit ke kantor." Sean berlalu meninggalkan meja makan.
"Ayah, Ibu. Aku juga pamit mengantar Rio ke sekolah," ujar Rara sesaat kemudian.
"Rio biar diantar supir, Nak! Kau tidak perlu repot mengantarnya sekolah!" sahut Lidya.
"Tidak apa-apa, Bu! Sekalian aku berangkat kerja, sudah 3-hari aku tidak ke kantor!" ucap Rara.
"Baiklah, ibu tidak akan mencegahmu!"
"Ah, seharusnya tadi Sean menunggumu, agar kalian pergi bersama!" sela Brian.
"Tidak apa-apa Ayah! Mungkin pekerjaannya sudah menumpuk, jadi ia harus buru-buru!" sahut Rara.
Rara berpamitan, ia mengemudikan sendiri mobilnya, Rara menolak saat mertuanya menawarkan untuk diantar supir, karena ia memang sudah terbiasa mandiri.
Kini Rara sudah tiba di sekolah Rio, ia menunggu sampai putranya itu masuk kelas, barulah ia beranjak meninggalkan sekolah Rio.
"Rara ...." Rara menoleh ke arah suara, seseorang meneriakkan namanya, tepat saat ia akan masuk ke dalam mobil.
Bersambung.
Jangan lupa like, vote dan komen!
__ADS_1