
Pagi-pagi sekali Julie sudah tiba di kantor Sean, dia menunggu di parkiran. Seulas senyum licik langsung menyungging dari bibirnya saat melihat kedatangan Sean, dan tanpa membuang waktu Julie langsung menghampiri Sean.
"Mau apa lagi kau kemari?" ketus Sean, kedatangan Julie langsung memperburuk suasana paginya.
"Ops ... tenanglah! Aku datang untuk sebuah informasi, apa kau sudah mengenal betul wanita murahan yang menjadi istrimu itu? Aku pikir wanita yang kau jadikan istri adalah wanita baik-baik, ternyata hanyalah seorang pel*cur. Aku heran, ternyata seorang Sean sangat menyukai sisa, ya," pancing Julie. Dan benar saja tatapan mata Sean langsung berkilat karenanya.
"Jaga mulut kotormu itu murahan! Istriku tidak seperti yang kau kira," geram Sean sambil memperpendek jarak, dia sudah ingin sekali meremas mulut lancang yang telah membuat emosinya memuncak itu.
"Wow ... tahan emosimu Sean, aku di sini tidak asal bicara! Mau kuberikan bukti?" tanya Julie sambil menaikkan sebelah alis matanya.
Sean memicingkan mata lalu menahan langkahnya. Sedikit banyak Sean juga penasaran dengan bukti apa yang dimaksud julie.
"Lihat ini!" Julie mengulurkan ponsel miliknya.
Sean mengkerutkan dahinya melihat adegan di dalam video rekaman tersebut, di mana tampak jelas beberapa orang murid pria yang sedang merayakan kelulusannya, mereka sedang berpesta villa bersama seorang gadis yang tak lain adalah Rara, para pria itu tampak mencekoki Rara dengan minuman, hingga ia benar-benar mabuk. Lalu pesta itu dilanjutkan dengan perbuatan tidak senonoh teman prianya terhadap Rara, di video itu tampak Rara sampai kelelahan digilir oleh teman prianya.
Sean menggelengkan kepalanya. "Tidak, video ini pasti hanya editan."
Julie terkekeh mendengar Sean tak mempercayai video yang diperlihatkannya.
"Mengapa tidak kau suruh orang-orangmu untuk mengecek keaslian video itu?" tantang Julie.
Sean yang awalnya tidak percaya, menjadi goyah karena tantangan Julie. Apalagi melihat raut wajah wanita yang ada di depannya ini begitu tenang. Dan seketika itu juga Sean menggeram emosi.
Praankk!
Ponsel Julie hancur berkeping di hempaskan oleh Sean.
Sean kembali masuk ke mobil, dan langsung tancap gas, tujuannya adalah kantor Rara. Rekaman video yang dilihatnya benar-benar membuatnya kecewa, dan merasa ditipu oleh Rara. Tapi Sean tetap berupaya mengutamakan akal sehatnya, dia ingin memastikan kebenaran dengan bertanya langsung pada Rara.
***
__ADS_1
Kantor paradise fashion.
"Nona, semua dokumen untuk keberangkatan Anda ke Madrid sudah lengkap. Paspor Anda juga sudah diperpanjang. Tapi tidak dengan visa nasional Anda, karena ini adalah kunjungan bisnis, dan ada kemungkinan Anda akan bepergian ke tempat lain, saya jadi menguruskan visa schengen untuk Anda," jelas Wina sambil memberikan dokumen tersebut pada Rara.
"Terima kasih, Win. Apa tiket pesawat sudah dipesan?" tanya Rara.
"Sudah Nona, untuk keberangkatan besok pagi."
Rara memeriksa kelengkapan dokumennya, setelah yakin tidak ada yang kurang dari dokumen tersebut, Rara pun menyimpannya ke dalan tas.
Sejurus kemudian pintu ruang terbuka diikuti dengan masuknya Sean. Rara menatap heran pada Sean, apa yang membawa suaminya itu datang ke sini, padahal belum ada 2-jam berlalu sejak Sean mengantarnya tadi pagi.
"Bisa kalian tinggalkan aku berdua Rara, ada hal pribadi yang ingin aku bicarakan dengannya." Sean menatap Luna dan Wina bergantian.
Tanpa banyak tanya Luna dan Wina pun keluar dari ruangan, untuk memberikan privasi pada suami istri itu, apalagi kelihatannya wajah Sean begitu serius.
"Memangnya apa yang ingin kau bicarakan? Apa itu begitu mendesak sampai-sampai kau harus kembali ke sini?" tanya Rara seraya mendekati Sean.
"Ya sudah, tanyakanlah!"
"Apa kau bersama teman-temanmu pernah pergi ke sebuah villa untuk merayakan kelulusan sewaktu SMA?" tanya Sean sambil menatap Rara, mencari kalau-kalau ada jejak kebohongan di mata istrinya itu.
"lya," jawab Rara yang sudah mulai menerka apa penyebab suami itu datang ke sini.
"Apa teman-teman priamu mencekokimu dengan minuman?" tanya Sean penasaran.
Rara menghela napasnya, entah kenapa suaminya itu datang hanya untuk membahas masa lalunya tersebut, masa lalu yang benar-benar ingin dilupakan Rara. Tapi dari mana Sean tahu cerita ini, apakah Gerry yang menceritakan padanya, tapi jika Gerry yang menceritakan tentu reaksi Sean tidak akan seperti ini, pikir Rara.
"Mengapa kau diam saja, apa yang disampaikan Julie itu benar?" Sean sedikit meninggikan suara, karena tidak sabar mendengar jawaban Rara.
"Jadi kau datang ke sini hanya untuk membahas apa yang dikatakan Julie? Dari mana kau mengenalnya? Apa kau juga memiliki masa lalu dengannya?" tanya Rara sedikit menyolot.
__ADS_1
"Iya, dia mantanku. Memangnya kenapa?"
Rara mengelengkan kepala sambil berusaha menahan airmata. "Ya sudah kalau kau lebih percaya padanya, sana kembali padanya!"
"Aku bertanya baik-baik, mengapa kau malah nyolot, apa susahnya tinggal menjawab saja!" seru Sean. "Atau jangan-jangan yang disampai Julie itu benar, kau merayakan kelulusanmu dengan pesta bergilir bersama teman-teman priamu itu?"
"Dan itu artinya selama ini kau telah menipuku! Dengan mengatakan kau masih gadis saat pertama kali bertemu denganku di Milan malam itu!" seru Sean yang lepas kendali, padahal tidak seharusnya dia membahas sampai ke sana.
Darah Rara langsung mendidih mendengar tuduhan Sean, seketika tangannya terangkat dengan padangan berkilat.
Plakk ... plakk!
Dua tamparan Rara bergantian mendarat di pipi kiri dan kanan Sean.
"Seingatku sampai sekarang aku tidak pernah mengatakan, aku masih gadis atau tidak saat bersamamu malam itu. Dan kau lebih percaya Julie, kan? Sana tanyakan padanya, tanyakan padanya aku masih gadis atau tidak!" seru Rara.
Rara beranjak ke meja kerjanya dan meja kerja Luna, lalu kembali mendekati Sean.
"Kau sama sekali tidak tahu masa laluku, jadi lebih baik tutup mulut kotormu itu, daripada asal bicara dan menyakiti hati orang!" raung Rara dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Rara pun tak mampu lagi membendung airmatanya yang langsung tumpah seketika. Rara melangkah meninggalkan Sean di ruangan tersebut, dengan membawa serta isakan tangisnya.
Rara berjalan keluar dengan tangisan pilu, ia tidak mempedulikan karyawan yang menatap bingung padanya, karena ini adalah kali pertama mereka melihat boss mereka itu menangis, apalagi sampai sesunggukan seperti ini.
"Lun, mobilmu aku bawa," ujar Rara saat berpapasan dengan Luna di koridor.
"Ra, apa yang terjadi?" tanya Luna khawatir.
Rara terus melangkah tanpa menghiraukan teguran Luna. Mengingat kejadian 9-tahun yang lalu itu membuat trauma lamanya kembali terkuak, dan menyisakan luka yang sangat dalam. Saat itu Rara memang nyaris digilir oleh teman-temannya, kalau saja Gerry tidak cepat datang, dan menyelamatkannya dari malam durjana itu.
Bersamabung.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan komen.